Kebahagiaan adalah suatu kata yang begitu singkat, memiliki makna yang sangat luas. Sebuah kata yang maknanya didambakan semua makhluk yang bernama manusia.
Banyak jalan yang ditempuh oleh manusia untuk memiliki makna yang terdapat dalam kata bahagia. Kebahagiaan laksana barang hilang yang dicari-cari oleh kebanyakan manusia. Ia akan dicari dalam setiap masa dan tempat.
Dengan berbagai cara, manusia mencari kebahagiaan. Ada yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ada pula yang mengejar popularitas.
Di Manakah Kebahagian ? Apakah kebahagiaan itu terdapat pada kekayaan dan kemewahan hidup? Tidak sedikit manusia yang memliki asumsi demikian, mereka mengira bahwa kebahagiaan terdapat pada kekayaan, kemewahan hidup, harta yang melimpah ruah, dan kesejahteraan hidup.
Tapi kenyataannya, persepsi ini bahkan terkadang terbalik. Harta yang melimpah, ketenaran, akan menjadi bencana bagi pemiliknya di akhirat.
Allah سبحانه وتعلى berfirman tentang orang munafik, "Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah: 55).
Siksa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesengsaraan, rasa sakit, keresahan dan penyakit. Kasus inilah yang menimpa orang yang menjadikan harta dan dunia sebagai cita-cita utamanya dan puncak asanya. Dia akan selalu sakit hati, terkena tekanan jiwa, bingung, pikiran dan nuraninya tidak tenteram.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menggambarkan jiwa tersebut dalam satu sabdanya,
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan dia orang yang kaya hati, mengumpulkan kekuatannya, dan dunia akan mendatanginya sedangkan dia tidak suka. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua bola matanya, mencerai-beraikan kekuatannya. Dan dia dikarunai dunia tidak lebih lebar dari kadar yang memang sudah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmizdi. Dinyatakan shahih oleh Al Albani).
Harta bisa saja membawa kebahagiaan, asalkan memenuhi kedua syarat berikut ini:
Pertama; harta benda yang halal, yang didapatkan oleh seseorang atas kerja keras dan keringatnya sendiri.
Kedua; harta yang tidak digunakan untuk kejahatan.
Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka harta hanya akan menjadi bencana bagi pemilkinya.
Sumber Kebahagiaan Hakiki Islam sebagi din yang sempurna telah memberikan kepada ummat manusia jalan atau cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Dan di antara sumber kebahagiaan tersebut adalah:
1. Kebahagiaan terdapat pada keimanan Kebahagiaan tidak terletak pada harta yang melimpah ruah, tidak juga pada pangkat yang tinggi, bukan pula pada jumlah anak yang banyak, bukan karena keberhasilan mendapatkan kepentingan dan tidak pula pada ilmu material.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang timbul dari diri manusia, tidak datang dari luar manusia. Jika kebahagiaan diibaratkan pohon, maka tempat tumbuhnya adalah jiwa dan hati manusia, sementara percaya kepada Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir adalah tempat tinggalnya, makanannya, ventilasinya, cuacanya, dan cahanya.
Orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعلى, sebagi tempat bertumpu, tempat bersandar dan sebagai pemberi pertolongan saat berada dalam kesulitan, maka dia laksana bangunan tanpa pondasi dan rumah tanpa tiang. Karenanya, kita melihat orang yang paling sengsara dalam hidup ini adalah mereka yang banyak membangkang. Mereka memiliki harta benda yang melimpah ruah, memperoleh rejeki yang banyak, tapi jika tertimpa musibah mereka pasti gelisah. Karena sudah menjadi tabiat jiwa pasti takut kehilangan sesuatu yang ia miliki.
Iman adalah tempat bertumpu manusia yang dapat dipercaya, yang dapat dijadikan tempat berlindung jika kehidupan ditimpa badai dan dikelilingi kegelapan.
2. Kebahagiaan terdapat pada ketenangan jiwa. Diyakini bahwa ketenangan jiwa merupakan sumber utama yang dapat melahirkan kebahagiaan.
Selama di dunia, orang non Muslim disibukkan dengan keinginan dan tujuan yang beraneka ragam. Dia kebingungan, bagaimana dia harus menyinkronkan antara memenuhui keninginan hawa nafsunya dan mengikuti tuntutan masyarakat di sekitarnya. Sementara orang Mukmin terlepas dan terbebaskan dari semua itu, dan mengakumulasikan seluruh targetnya dalam satu target, yaitu untuk mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعلى. Dia tidak peduli apakah manusia ridha atau murka. Yang penting Allah سبحانه وتعلىridha.
Tidak ada yang lebih lapang dari dada dan hati seorang Mukmin dan tidak ada yang lebih sempit dari dada seorang yang membangkang dan meragukan keberadaan Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir.
"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 22-23).
Dan di antara faktor utama yang bisa membuat seseorang kehilangan ketenangan jiwa (resah) adalah orang yang menyesali masa lalunya. Tidak mau menerima realita dan pesimis terhadap masa depan.
3. Kebahagiaan terdapat pada qanaah dan wara' Qanaah adalah sikap menerima apa adanya. Adapun wara' adalah sikap berhati-hati terhadap segala hal yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعلى dan hal-hal yang tidak jelas halal haramnya (syubhat).
Orang-orang yang qanaah mau dengan lapang dada mengambil bagian terkecil dari kenikmatan yang diberikan kepada mereka untuk menyisakan bagian kepada orang lain, agar ikut merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.
Sa'ad bin Abi Waqqash pernah berkata kepada anaknya, "Hai, Anakku! Jika kamu menginginkan kekayaan, maka carilah dengan qanaah. Jika kamu tidak memiliki sifat qanaah, kamu tidak akan pernah merasa kaya, meski sudah memiliki harta sebanyak apa pun."
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian merasa hatinya tenteram, jasmaninya sehat, dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya, maka seolah-olah dikumpulkan untuknya dunia dan seluruh isinya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dinayatakan hasan oleh Al Albani).
Betapa bahagianya orang yang dikaruniakan nikmat oleh Allah سبحانه وتعلى sementara dia termasuk bagian dari orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat.
4. Kabahagiaan ada pada kepandaian mensyukuri nikmat Sebagai salah satu bentuk kelalaian adalah jika kita baru merasakan nikmat Allah سبحانه وتعلى setelah nikmat tersebut lenyap dari hadapan kita, padahal kita tahu bahwa nikmat bisa kekal dengan cara disyukuri. Dan dia akan hilang dengan pengingkaran.
Allah سبحانه وتعل berfirman, artinya: "Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).
Abu Hazim berkata, ”Setiap nikmat yang tidak membuat orang yang menerimanya lebih dekat kepada Allah, maka nikmat tersebut merupakan musibah."
5. Kebahagiaan ada pada rasa malu Malu adalah sikap menahan dan menghindarkan diri untuk melakukan semua hal yang tidak disukai Sang Khalik.
Rasa malu dapat memproteksi seseorang agar tidak terjerumus ke dalam lumpur dosa dan kemungkaran. Orang yang tidak mempunyai rasa malu tidak akan pernah melakukan bentuk kebaikan dan keutamaan apa pun.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
”Rasa malu itu bagian dari iman, sedangkan orang yang beriman dijamin masuk surga. Ucapan tidak sopan bagian dari bentuk perangai yang kasar, orang yang mempunyai perangai kasar tempatnya di neraka." (HR. Ahamad dan Tirmdzi).
Seorang bijak pernah berkata, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian malu maka orang-orang tidak akan pernah melihat celanya.”
Wallahu Haadi li Ahsanil Akhlaaq (Al Fikrah)
KEDUNIAAN banyak DAYA PENARIKNYA, SESIAPA yang LEMAH IMANNYA akan TERPIKAT dengan KEINDAHANNYA lalu MENCINTAINYA. Maka LUPALAH dia kepada ALLAH dan kepada AKHIRAT yang kesemua orang akan KEMBALI KEPADANYA...Apakah Benar Ada Cinta Sesama Manusia, Yang Selalu Diperkatakan Manusia.. Sedangkan Dalam Berkasih Sayang Manusia Tak Punya Ketulusan Kejujuran Dan Keikhlasan Sebagaimana Yang Diharap Di Dambakan. Cinta Yang Hakiki Adalah MenyempurnaKan Dunia Akhiratnya.
Isnin, 15 November 2010
BagaImana M'nyayanGi sese0rang....

1. Sayangi dia dengan hati, bukan dengan perasaan. Jika anda meletakkan sesuatu perhubungan berdasarkan perasaan, ianya akan gagal kerana perasaan sentiasa berubah dari masa ke semasa.
2. Sayangi dia seadanya. Di dunia terdapat hampir 6 billion manusia dengan 6 billion personaliti. Dia sememangnya seorang yang istimewa dan biarkan ianya kekal begitu. Jangan sesekali terfikir untuk mengubah apa-apa tentang dia kerana sekali anda mengubah, selamanya anda akan terus mengubah dirinya. Tentu anda masih ingat, anda terpikat padanya kerana dia adalah dia. Maka, tiada alasan untuk anda mengubah dia untuk menjadi seseorang yang lain.
3. Sayangi dia sepenuh hati. Sesungguhnya dia telah banyak bekorban untuk anda. Dengan kelebihan yang ada padanya, dia berpeluang untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih sempurna tapi demi cinta, dia telah memilih diri anda. Maka, jangan sesekali cuba untuk mempermain-mainkan keluhuran cintanya.
4. Hormati pendirian dan keputusan dia. Jangan anda merayu dan jangan mencipta alasan supaya dia menerima cinta anda kerana kelak, yang anda akan dapat darinya hanyalah cinta simpati dan bukannya cinta setulus hati.
5. Yakinkan diri anda akan keistimewaan dia. Dia adalah satu-satunya di dunia ini dan jangan mengharapkan kesempurnaan dari dia kerana dia telahpun cukup sempurna semenjak anda mula terpikat padanya.
6. Percaya akan dirinya. Sentiasa bersangka baik padanya jika kita juga mahukan sebegitu darinya. Pastikan anda akan sentiasa meletakkan diri anda di tempatnya sebelum melakukan apa-apa. Jika anda sendiri tidak dapat menerimanya, apatah lagi dia.
7. Jangan berjanji menyayangi dia untuk selama-lamanya kerana selama-lamanya bagi anda mungkin akan berakhir keesokkan harinya, tapi berjanjilah untuk menyayangi dirinya seolah-olah setiap hari itu adalah hari yang terakhir untuk anda berdua.
8. BERCINTA dengannya adalah seperti memberi hati anda kepadanya untuk dilukai tapi kepercayaan itu penting. Percayalah kepadanya, nescaya dia akan melindunginya sepenuh jiwa dan raga.
9. Jangan sesekali meninggalkan dia tanpa sebarang alasan. Dia bukan hanya akan setakat menangis kecewa dan kemudiannya meneruskan hidup seperti biasa, ketahuilah bahawa jiwanya akan mati secara perlahan.
10. Jangan cepat berbangga dengan diri anda, memenangi hatinya bukanlah satu kejayaan yang mutlak tetapi anugerah itu hanya layak anda perolehi setelah anda berjaya menyayanginya sehingga ke akhir hayat. Ketahuilah, dia memilih anda adalah kerana dia percaya bahawa anda adalah seorang yang jujur dan akan menepati janji. Anda telah bersusah payah dan berusaha sedaya upaya untuk memenangi cintanya, maka dengan itu haruslah juga anda berusaha untuk terus menyintai dirinya dengan apa jua keadaan sekalipun
MORAL OF THE STORY : Hargailah mereka yang menyayangi kita.
Ahad, 14 November 2010
Sahabat Menjadi Kekasih.....

Definasi "Sahabat" dan "Kekasih" terlalu jauh perbezaannya....
Ikatan persahabatan tidak akan terputus dan kekal selamanya walaupun berpisah jauh di bawa peredaran waktu tetapi ikatan kekasih kadang-kadang akan terputus pada bila-bila masa jika persefahaman sudah tidak berjalan seiring diantara dua pihak...
Tetapi apa kesudahan jika sebuah ikatan persahabatan bertukar menjadi ikatan kekasih...terlalu sukar untuk menghuraikan perasaan masing-masing,tetapi ianya juga sukar untuk menyalahkan mana-mana pihak kerana ianya berkait dengan hati dan perasaan..ianya lumrah kehidupan dan tiada siapa yang sempurna.
Mungkin kadang-kadang kita cuba mengelak sebaik mungkin supaya ikatan seorang sahabat tetap kekal sebagai sahabat tetapi kadang-kadang kita kena akur dengan perasaan kita sendiri...jangan terlalu ego,akibatnya kita sendiri yang merasa derita...belajar terima apa yang berlaku....
Tetapi peritnya,bila ikatan sahabat menjadi kekasih dan terputus nya hubungan itu,maka betapa pedihnya terasa teramat sangat kerana telah hilang seorang sahabat dan kekasih kepada kita....pasti kedua-dua pihak menderita sama-sama......
**HARGAILAH PERSAHABATAN KERANA JIKA IANYA HILANG IANYA AKAN MEMBAWA KEPADA KESUNYIAN***
ROH MENUJU KE 7 TEMPAT.

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para Ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyiin.
4 Roh para Syuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yg berdosa akan tergantung di udara,tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam Neraka Sijjin.Mereka diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari kiamat.
SABDA RASULULLAH SAW:" 3 kelompok manusia yg akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:
1. Orang yg mati syahid.
2. Orang-orang yg mengerjakan solat malam dalam bulan Ramadhan.
3. Orang yang berpuasa di Hari Arafah."
9 MIMPI RASULULLAH S.A.W.

Nabi Muhammad saw bersabda: "sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di israqkan...
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi malaikat maut dengan keadaan yang amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.
2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, maka ia telah diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA,
3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis laknatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah S.W.T.
4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikat Ahzab, tetapi SOLATNYA YANG KHUSYUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.
5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH S.W.T. memberi minum hingga ia rasa puas.
6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia akan usir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil memimpinnya ke kumpulan seraya duduk di sebelahku.
7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadaan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan bingung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH S.W.T. lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang menerang.
8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.
9. Aku melihat umatku sedang menapis-napis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAH YANG IKHLAS KERANA ALLAH S.W.T. lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.
Bersabda Rasulullah s.a.w. , ertinya :
" SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT "
KATA-KATA SEORANG YANG BIJAK PANDAI.

1. Siapa yg mengetahui kebodohan dirinya,ia pun tidak akan mengurusi kebodohan orang lain.
2. Siapa yg tidak memakai baju takwa, ia pun tidak boleh menutupi dirinya dengan sesuatu apa pun.
3. Siapa yg redha dengan rezeki Allah, ia pun tidak akan bersedih atas apa yg ada di tangan orang lain.
4. Siapa yg menghunus pedang kezaliman,ia akan terpotong dengannya.
5. Siapa yg menggali telaga utk menjerumuskan saudaranya,ia akan terjerumus di dalamnya.
6. Siapa yg menyingkap tabir orang lain,ia pun tersingkap auratnya.
7. Siapa yg melupakan kesalahan dirinya,ia akan menganggap besar kesalahan orang lain.
8. Siapa yg memaksa diri dalam berbagai urusan,ia bakal binasa.
9. Siapa yg mencukupkan diri dengan akalnya sendiri,ia bakal tergelincir.
10. Siapa yg menyombong diri terhadap orang lain,ia akan menjadi hina.
11. Siapa yg terlalu mendalami sesuatu pekerjaan,ia akan jemu.
12. Siapa yg terlalu membanggakan diri kepada orang lain,ia akan menjadi rendah.
13.Siapa yg membodohkan mereka,ia akan dimaki.
14. Siapa yg bergaul dengan orang2 yg rendah ia akan menjadi hina.
15. Siapa yg duduk dengan para Ulama,ia akan menjadi mulia.
16. Siapa yg memasuki tempat yg buruk,ia akan tertuduh.
17. Siapa yg meremehkan agama ia akan terperosok.
18. Siapa yg merampas harta orang lain,ia akan menjadi miskin.
19. Siapa yg mengharap akibat yg baik,ia akan bersabar.
20. Siapa yg tidak mengetahui tempat pijakan kakinya, ia bakal berjalan dalam penyesalan.
21. Siapa yg takut kepada Allah,ia akan beruntung.
22. Siapa yg tidak berpengalaman,ia akan mudah tertipu.
23. Siapa melawan orang yg benar,ia akan kalah.
24. Siapa yg menanggung apa yg tidak sanggup diperbuatnya, ia akan tidak berdaya.
25. Siapa yg mengetahui ajalnya,maka pendeklah harapannya.
26. Siapa yg mengandalkan kebodohan,ia akan meninggalkan jalan keadilan.
Dikatakan Orang Bahawa:
"Pajak orang Muslim adalah bayaran sewa rumahnya. Pembebasan dirinya adalah dengan melunasi hutangnya,Kehinaan dirinya adalah hutangnya dan siksa yg dirasakannya adalah keburukan periaku isterinya".
Musibah matinya hati

KEHADIRAN bulan Safar al-Khair mengimbau kembali kisah kegeringan Rasulullah SAW sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 12 Rabiulawal. Jika Rasulullah SAW itu adalah kekasih dan keutamaan kita, maka sudah tentu saat-saat yang memilukan itu menarik perhatian dan perasaan kita.
Sesungguhnya kewafatan Rasulullah SAW adalah musibah terbesar bagi umat Islam sehingga terdapat ulama yang menulis buku khusus mengenai musibah kewafatan Rasulullah. Setelah kewafatan Baginda, ada yang masih lemah imannya menjadi murtad, tidak mahu menunaikan zakat dan berpecah belah. Sesungguhnya inilah musibah terbesar yang pernah menimpa sahabat-sahabat Baginda. Hanya kekentalan iman menjadi penyelamat ketika itu.
Hari ini, umat Islam ditimpa musibah yang tidak kurang besarnya iaitu matinya hati. Pelbagai peringatan yang diberikan tetapi bak mencurah air di daun keladi. Inilah penyakit hati yang dikhuatiri oleh Rasulullah akan berlaku ke atas umatnya. Inilah kematian yang paling sukar untuk dipastikan kerana tidak ditandai dengan kain kapan putih ataupun batu nisan.
Apa pun, selaku insan yang sentiasa menginsafi diri, kita masih boleh menghisab diri, apakah musibah ini telah mengenai diri kita atau kita termasuk di kalangan mereka yang terselamat. Terdapat tiga tanda yang digariskan oleh ulama iaitu, tidak merasa sedih apabila tidak berkesempatan melakukan amal ketaatan, tidak menyesal apabila terlanjur melakukan dosa dan suka bersahabat dengan orang-orang yang lalai dan telah mati hatinya. Inilah alamat ringkas yang diletakkan oleh Syeikh Ibnu ‘Atoillah dalam kalam hikmahnya.
Maka dapat difahami bahawa keriangan dan kegembiraan seseorang kerana ketaatan yang dilakukannya dan kesedihan seseorang disebabkan maksiat yang dilakukannya merupakan tanda hidupnya hati seseorang. Rasulullah SAW telah bersabda:
“Sesiapa yang digembirakan oleh kebaikannya dan disedihkan oleh kejahatannya, maka dia adalah orang mukmin.” (riwayat Imam Ahmad, Tirmizi dan al-Hakim)
Namun, ini bukanlah kegembiraan yang bercampur dengan perasaan ‘ujub. Orang yang bersifat ‘ujub hanya memandang kepada daya dan kekuatannya dan lupa tentang anugerah Allah dalam mengurniakan taufik dan hidayah kepadanya. Hendaklah kita menjauhi sifat ‘ujub kerana ia boleh menghapuskan pahala amal-amal yang dilakukan. Begitu juga perasaan riak.
Amal kebaikan merupakan tanda keredaan Allah dan keredaan-Nya membawa kepada kegembiraan. Manakala amal kejahatan merupakan tanda kemurkaan Allah dan kemurkaan-Nya membawa kepada kesedihan. Sesiapa yang diredai oleh Allah, maka Allah mengizinkannya untuk melakukan amal soleh. Sesiapa yang dimurkai oleh Allah, maka Allah meninggalkannya dan membiarkannya berada dalam kelalaian dan kehinaan.
Abdullah ibn Mas’ud RA berkata:
“Orang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang berada di kaki gunung; dia takut kalau gunung itu akan menghempapnya. Manakala ahli maksiat melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya maka mudah untuk menghalaunya.”
Namun demikian, tidak sepatutnya pula seseorang hamba yang apabila telah melakukan dosa, dikalahkan oleh kesalahan yang dilakukannya. Dikalahkan dalam bentuk bersikap pesimis, tidak lagi mengharap keampunan Tuhannya dan berprasangka buruk terhadap Tuhannya. Bagi orang yang benar-benar beriman dan hidup hatinya, rasa khawf dan raja‘ (takut dan harap kepada Allah) mesti ada pada dirinya. Allah telah menyifatkan para nabi dan rasul-Nya serta pengikut mereka dari kalangan kaum mukminin yang solehin dengan kedua-dua sifat ini, sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Israa’ ayat 57.
“Orang yang mereka seru itu, masing-masing mencari jalan kepada Tuhannya, siapakah yang lebih dekat serta mereka mengharapkan rahmat-Nya dan gerun takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu itu, adalah ditakuti.”
Syeikh Ibnu ‘Atoillah RA menyatakan dalam Hikamnya: “Janganlah kerana besarnya dosa di sisi kamu, menghalang kamu daripada berprasangka baik dengan Allah kerana orang yang telah kenal Tuhannya, nescaya akan menganggap dosanya kecil di sisi kemurahan Allah yang luas.”
Manakala sebab yang membawa kepada matinya hati ialah :
1. Cintakan dunia
2. Lalai daripada mengingati Allah
3. Menggunakan anggota untuk melakukan maksiat.
Di antara perosak yang terbesar ialah kasih terhadap dunia, berkeinginan kepadanya, sangat tamak terhadapnya, berminat dengannya, kasihkan pangkat dan harta dunia dan tamak terhadap keduanya, kikir dan bakhil dengan harta dunia. Firman Allah dalam surah Hud ayat 15-16.
“Sesiapa yang berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan daripadanya. Mereka tidak beroleh di akhirat kelak selain daripada neraka, dan gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batallah apa yang mereka telah kerjakan.”
Kecintaan kepada dunia adalah kepala segala kejahatan. Ia akan menghalang seseorang daripada melakukan kebaikan akibat hati yang telah digelapi oleh perkara-perkara keduniaan. Justeru, Syeikh Ibnu ‘Atoillah menyatakan
“Bagaimana hati dapat bercahaya, sedangkan gambaran-gambaran alam maya termeteri di cermin hati?”
Allah SWT menjadikan hati manusia itu seperti cermin yang memaparkan dan memantulkan imej setiap benda yang dihadapkan kepadanya. Cermin itu pula hanya mempunyai satu muka. Apabila Allah SWT hendak memberikan inayah-Nya kepada seseorang hamba, maka Dia menyibukkan fikiran hamba tersebut dengan cahaya-cahaya-Nya dan pelbagai kebaikan dan Dia tidak membelenggu atau menambat hati hamba tersebut dengan suatu perkara dari alam yang gelap dan khayalan yang meragukan. Maka terpaparlah di cermin hatinya cahaya-cahaya iman dan ihsan, dan terpancarlah padanya cahaya tauhid dan makrifah.
Begitulah sebaliknya, jika Allah mahu membiarkan seseorang hamba (mengeluarkannya daripada inayah-Nya) dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, maka Dia akan menyibukkan pemikiran hamba tersebut dengan kegelapan dunia dan syahwat. Maka kegelapan dunia ini akan terpapar di cermin hatinya. Lalu hatinya akan terhijab daripada sinar makrifah dan cahaya keimanan.
Semakin banyak gambaran dunia bertindih-tindih di cermin hatinya, maka semakin pudar cahayanya dan semakin tebal hijabnya. Maka dia tidak akan dapat melihat melainkan apa yang zahir sahaja dan dia tidak dapat berfikir melainkan perkara lahiriah sahaja.
Ada di antara hijabnya sangat dahsyat hingga menutup seluruh hati dan seluruh cahaya terpadam hingga dia menafikan terus kewujudan cahaya dari asalnya. Semoga dilindungi oleh Allah.
Ada di antaranya pula, hanya sedikit karatnya dan nipis hijabnya, maka dia mengakui kewujudan cahaya tersebut tetapi tidak dapat melihatnya. Ini ialah makam (kedudukan) kaum Muslimin awam.
Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya hati itu akan berkarat sepertimana karatnya besi, dan sesungguhnya iman itu akan lusuh seperti lusuhnya baju yang baru.”
Namun dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap sesuatu itu ada penggilapnya dan penggilap hati ialah zikrullah.”
Sabda Rasulullah SAW juga:
“Sesungguhnya seseorang hamba itu apabila melakukan kesalahan, digores di dalam hatinya dengan bintik hitam. Sekiranya dia menanggalkannya dan memohon keampunan, maka ia akan berkilau. Sekiranya dia kembali melakukan kesalahan, ditambah pada hatinya bintik hitam tersebut sehingga menyelubungi hatinya.”
Maka itulah selaput kegelapan yang telah difirmankan oleh Allah dalam surah al-Mutoffifin ayat 14.
“Sekali-kali tidak! Bahkan mata hati mereka telah diselaputi kekotoran (dosa), dengan sebab apa yang mereka kerjakan.”
Cahaya iman dan ihsan
Ketahui bahawa hati itu hanya mempunyai satu wajah, apabila kamu hadapkan cahaya kepadanya maka ia akan bersinar, dan apabila kamu hadapkan kegelapan kepadanya maka ia akan menggelap, kegelapan dan cahaya itu tidak pernah bersatu, maka fahamilah pula kata-kata Syeikh Ibnu ‘Atoillah yang menyebut:
“Bagaimanakah hati itu boleh bersinar dengan cahaya iman dan ihsan, sedangkan gambaran alam dan dunia yang gelap terpapar di cermin hati?”
Sesungguhnya dua perkara yang berlawanan tidak mungkin akan bersatu sebagaimana firman Allah SWT pada surah al Ahzaab ayat 4.
“Allah tidak menjadikan seorang lelaki mempunyai dua hati dalam rongga dadanya…”
Sedarlah wahai insan! Kamu tidak memiliki dua hati tetapi hanya satu. Apabila kamu hadapkan hati kamu itu kepada makhluk dan dunia ini, maka ia akan membelakangkan Allah. Apabila kamu hadapkannya kepada Allah, maka ia akan membelakangkan makhluk dan kamu akan mampu berjalan kepada Allah. Selama kamu tertambat dengan syahwat dan keduniaan kamu di dalam alam ini, maka kamu tidak akan mungkin dapat berjalan kepada Tuhan kamu, tidak juga kepada apa yang diisyaratkan oleh Syeikh Ibnu ‘Atoillah al Sakandari RA.
Selama hati masih tertawan atau terpenjara di dalam penjara kecenderungan atau keinginan kepada sesuatu yang akan binasa, dia masih terikat dengannya. Orang yang mempunyai hati sedemikian, tidak akan dapat berjalan menuju kepada keredaan Allah. Bahkan, tidak akan terpancar ke atasnya cahaya makrifat. Keterikatan hatinya dengan syahwat merupakan penghalang yang akan menegah dan menghalangnya daripada menuju kepada Allah disebabkan kesibukan dan keasyikannya dengan perkara-perkara yang memalingkannya daripada berjalan menuju kepada Allah.
Sekalipun tidak dinafikan dia mungkin dapat berjalan bersama nafsu syahwatnya, nafsunya akan melemahkan dan menghalangnya daripada dapat berjalan dengan cepat kerana kecenderungannya terhadap nafsu syahwatnya. Sekalipun dia mungkin dapat berjalan dengan cepat, dia tetap tidak akan aman daripada perkara-perkara yang akan menggelincirkannya kerana keseronokan dan kesenangannya dengan syahwat tersebut.
Sebab itu, para pembesar Sufi meninggalkan kelazatannya, sehingga berkata sebahagian daripada mereka: “Sengatan tebuan atas badan yang luka itu lebih ringan daripada sengatan syahwat atas hati orang yang sedang bertawajjuh kepada Allah.” (Ibnu ‘Ajibah, Iqaz al-Himam, H: 44)
Justeru, wahai saudaraku! Putuskanlah dan lepaskanlah dirimu dari perkara yang menghalang perjalanan kamu. Berjalan dan berhijrahlah kamu kerana hijrah adalah merupakan sunnah Rasulullah SAW. Semenjak Nabi SAW berhijrah, Baginda SAW tidak pernah menikmati masa untuk berehat melainkan di dalam musafir untuk berjihad sehingga Allah membuka sebuah negara untuknya.
Begitu juga para sahabat, hanya segelintir sahaja daripada mereka yang tinggal tetap di negara mereka sehingga dengan tangan-tangan mereka Allah membuka negara-negara yang lain dan memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah yang lain. Semoga Allah memanfaatkan kita dengan keberkatan mereka, Amin.
Hidupkanlah hati kita dengan meninggalkan terlebih dahulu perkara-perkara yang boleh menggelapkan dan mematikan hati. Selanjutnya sinarilah ia dengan cahaya-cahaya ketaatan dan keikhlasan. Sesungguhnya hati yang hidup akan sentiasa mendorong pemiliknya melakukan amal dan ketaatan dan meninggalkan dosa dan kejahatan dengan hati yang gembira tanpa rasa penat dan payah. Wallahu a’lam.
JGN LETIH BERBUAT KEBAIKAN!
Jika kita memberi kebaikan kepada seseorang, kebaikan itu akan dibalas walaupun yang membalasnya bukan orang yang kita berikan kebaikan itu. Hakikat ini mengingatkan saya kepada satu perbualan yang berlaku sewaktu saya mengendalikan program latihan beberapa tahun lalu di sebuah organisasi.
"Saya tidak mempunyai apa-apa harapan lagi pada organisasi ini," kata seorang kakak berterus-terang.
"Mengapa?" balas saya.
"Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja."
Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali terakhir dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara. Kesempatan yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya sepanjang berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat atau mendapat kenaikan gaji?
Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya kepadanya, "kakak punya berapa orang anak?"
Sengaja saya bertanya soal-soal "di luar kotak" agar ketegangan dalam sesi sebelumnya dapat diredakan.
"Oh ramai encik…"
"Bagaimana dengan anak-anak kakak?"
Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan sebagainya. Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
"Kakak, boleh saya bertanya?"
"Tanyalah encik…" ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya sudah berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang, semua anak-anaknya menjadi.
"Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang "menjadi" dengan naik gaji, mana yang kakak pilih?"
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, "antara kakak naik pangkat dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?"
Dengan cepat kakak itu menjawab, "hati ibu encik… tentulah saya pilih anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!"
Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
"Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam organisasi ini telah mendapat ganjaran…" kata saya perlahan. Hampir berbisik.
"Maksud encik?"
"Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak lebih sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan kepada kakak anak-anak yang menjadi."
"Tidak pernah saya terfikir begitu encik…"
"Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu misteri dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah."
"Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan kebaikan itu?"
"Maksud kakak?"
"Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja, tapi Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah encik?"
"Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri. Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!"
Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa yang berlaku dalam organisasi dengan familinya.
"Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu jalan yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah kereta yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong kita. Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun beralah, lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita…"
Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya sampaikan dengan begitu teliti.
"Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau setelah berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya memberi laluan untuk kita?"
Kakak itu tersenyum dan berkata, "tak logik encik. Kereta yang kita bantu tadi entah ke mana perginya."
"Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?'
"Pasti ada! Insya-Allah. "
"Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong. Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk membalas kebaikan kita… Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi."
"Subhanallah! "
"Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam kehidupan manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang membalas kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya. Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini."
"Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan? " tanya kakak itu lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.
"Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang yang melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun semula kepada pembalingnya! "
"Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat."
"Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi, Allah Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia lagi."
"Maksud encik?"
"Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang setia. Dan paling penting… hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan yang lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan."
"Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat atau gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek lebih baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!"
Giliran saya pula tersenyum.
"Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah. Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja… pangkat yang mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi ketenangan hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back but more than that… Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan juga. Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada kita. Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura! " terang saya panjang lebar.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang tinggal tidak beberapa bulan lagi ni?"
"Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our "ceo", kata orang sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan oleh Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi kebaikan hanya kerana tidak dapat penghargaan…"
"Maksud encik?"
"Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita buat kepadanya."
"Kenapa?"
"Kita akan sakit jiwa!"
"Kenapa?"
"Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala. Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur," balas saya mengulangi apa yang maktub dalam Al Quran.
"Tetapi Allah tidak berhenti memberi… " kata kakak itu perlahan.
"Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada yang derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi… Justeru siapa kita yang tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan ucapan terima kasih?"
"Ah, kita terlalu ego…"
Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar impaknya dalam hidup saya. Saya terasa "diperingatkan" semasa memberi peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada lintasan hati oleh satu pertanyaan… orang ikhlas tertindas?
Sekadar perkongsian kepada sahabat2 semua..^_^. Sama-sama istiqamah dalam perjalanan kita mencari keredhaanNya.....
Ya Allah, Tuhan yang Maha Suci.
Sucikanlah hati dan langkah kami agar kami lurus,tulus dan telus melalui jalan Mujahadah ini...amen;
"Saya tidak mempunyai apa-apa harapan lagi pada organisasi ini," kata seorang kakak berterus-terang.
"Mengapa?" balas saya.
"Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja."
Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali terakhir dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara. Kesempatan yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya sepanjang berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat atau mendapat kenaikan gaji?
Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya kepadanya, "kakak punya berapa orang anak?"
Sengaja saya bertanya soal-soal "di luar kotak" agar ketegangan dalam sesi sebelumnya dapat diredakan.
"Oh ramai encik…"
"Bagaimana dengan anak-anak kakak?"
Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan sebagainya. Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
"Kakak, boleh saya bertanya?"
"Tanyalah encik…" ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya sudah berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang, semua anak-anaknya menjadi.
"Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang "menjadi" dengan naik gaji, mana yang kakak pilih?"
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, "antara kakak naik pangkat dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?"
Dengan cepat kakak itu menjawab, "hati ibu encik… tentulah saya pilih anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!"
Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
"Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam organisasi ini telah mendapat ganjaran…" kata saya perlahan. Hampir berbisik.
"Maksud encik?"
"Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak lebih sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan kepada kakak anak-anak yang menjadi."
"Tidak pernah saya terfikir begitu encik…"
"Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu misteri dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah."
"Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan kebaikan itu?"
"Maksud kakak?"
"Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja, tapi Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah encik?"
"Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri. Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!"
Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa yang berlaku dalam organisasi dengan familinya.
"Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu jalan yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah kereta yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong kita. Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun beralah, lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita…"
Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya sampaikan dengan begitu teliti.
"Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau setelah berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya memberi laluan untuk kita?"
Kakak itu tersenyum dan berkata, "tak logik encik. Kereta yang kita bantu tadi entah ke mana perginya."
"Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?'
"Pasti ada! Insya-Allah. "
"Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong. Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk membalas kebaikan kita… Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi."
"Subhanallah! "
"Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam kehidupan manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang membalas kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya. Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini."
"Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan? " tanya kakak itu lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.
"Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang yang melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun semula kepada pembalingnya! "
"Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat."
"Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi, Allah Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia lagi."
"Maksud encik?"
"Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang setia. Dan paling penting… hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan yang lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan."
"Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat atau gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek lebih baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!"
Giliran saya pula tersenyum.
"Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah. Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja… pangkat yang mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi ketenangan hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back but more than that… Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan juga. Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada kita. Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura! " terang saya panjang lebar.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang tinggal tidak beberapa bulan lagi ni?"
"Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our "ceo", kata orang sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan oleh Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi kebaikan hanya kerana tidak dapat penghargaan…"
"Maksud encik?"
"Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita buat kepadanya."
"Kenapa?"
"Kita akan sakit jiwa!"
"Kenapa?"
"Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala. Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur," balas saya mengulangi apa yang maktub dalam Al Quran.
"Tetapi Allah tidak berhenti memberi… " kata kakak itu perlahan.
"Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada yang derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi… Justeru siapa kita yang tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan ucapan terima kasih?"
"Ah, kita terlalu ego…"
Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar impaknya dalam hidup saya. Saya terasa "diperingatkan" semasa memberi peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada lintasan hati oleh satu pertanyaan… orang ikhlas tertindas?
Sekadar perkongsian kepada sahabat2 semua..^_^. Sama-sama istiqamah dalam perjalanan kita mencari keredhaanNya.....
Ya Allah, Tuhan yang Maha Suci.
Sucikanlah hati dan langkah kami agar kami lurus,tulus dan telus melalui jalan Mujahadah ini...amen;
AIR TANGAN ORANG YANG TAK SOLAT
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semua orang tahu bahawa kalau meninggalkan solat adalah dosa besar dan malahan lebih hina daripada khinzir. Betapa hinanya kita kalau meninggalkan solat seperti yang dikisahkan pada zaman Nabi Musa as. Begini kisahnya, pada zaman Nabi Musa, ada seorang lelaki yang sudah berumahtangga, dia tiada zuriat, lalu terdetik dalam hati dia (nazar), "kalau aku dapat anak, aku akan minum air kencing anjing hitam." Nak dijadikan cerita, Allah pun kurniakan isteri si lelaki tadi pun hamil dan melahirkan anak. Apabila dah dapat anak, lelaki ni pun runsinglah. Dia dah nazar nak kena minum air kencing anjing hitam. Syariat pada zaman Nabi Musa berbeza dengan syariat yang turun untuk umat Nabi Muhammad. Kalau umat Nabi Muhammad, nazar benda yang haram, maka tak payah buat tapi kena denda (dam) atau sedekah. Tapi kalau zaman Nabi Musa, barangsiapa bernazar, walaupun haram tetap kena laksanakan nazar tu. Lalu, si lelaki yang baru mendapat anak, dengan susah hatinya pergilah bertemu dengan Nabi Allah Musa dan menceritakan segala yang terjadi ke atas dirinya. Lalu, Nabi Musa menjawab bahawa lelaki tu tak perlu minum air kencing anjing hitam tetapi akan minum air yang lebih hina dari air kencing anjing hitam. Nabi Musa perintahkan lelaki tersebut untuk pergi menadah air yang jatuh dari bumbung rumah orang yang meninggalkan solat dan minum air tu. Lelaki itu pun senang hati, menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa tadi. Lihatlah, betapa hinanya orang yang meninggalkan solat, sampai dikatakan air yang jatuh dari bumbung rumahnya, lebih hina dari air kencing anjing hitam. Itu baru air bumbung rumah, belum air tangan lagi. Menyentuh bab air tangan, selalu kita suka makan masakan ibu; isteri kita.
Jadi, kepada muslimat sekalian, peliharalah solat kerana kalau meninggalkan solat (kalau tak uzur), air tangan akan menitik ke dalam basuhan makanan; nasi, dsb. Anak-anak, suami pula yang akan makan makanan yang dimasak. Takkan nak biarkan suami dan anak-anak gelap hati minum air tangan orang tinggalkan solat. Tak gamak ' kan ? Tapi lain pula halnya dengan kita ni. Pagi petang, mamak! Teh tarik satu, roti canai satu. Ada pulak segelintir tukang masak yang tak solat. Kita pun makan bekas air tangan dia.. Gelaplah hati kita, sebab tu liat nak buat kerja-kerja yang baik. Beware (berhati2) apa yang kita makan. Betapa beratnya amalan solat ni hatta Allah syariatkan solat kepada Nabi Muhammad melalui Isra' Mikraj sedangkan kewajipan-kewajipan lain memadai diutus melalui Jibril as. Ketika saat Rasulullah nazak, sempat baginda berpesan kepada Saidina Ali (dan untuk umat Islam), "As-solah as Solah wa amalakat aimanukum". Maknanya, "Solat, solat jangan sekali kamu abaikan dan peliharalah orang-orang yang lemah di bawah tanggunganmu" .
Jadi, sama-samalah kita pelihara solat dari segi zahir & batinnya kerana amalan solatlah amalan yang mula-mula akan ditimbang di neraca Mizan kelak. Sahabatku, Jika hari ini aku terlalu gembira, sedarkanlah aku dgn amaran2 Allah. Jika ku bersedih tanpa kata, pujuklah aku dgn tarbiah Pencipta. Jika ku lemah sedarkanlah agar aku berubah. Dan jika esok ku lena tanpa terjaga, iringlah lenaku dgn kalungan doa.. Berjanjilah sahabatku, ukhwah kita utk selamanya.. ~
Semua orang tahu bahawa kalau meninggalkan solat adalah dosa besar dan malahan lebih hina daripada khinzir. Betapa hinanya kita kalau meninggalkan solat seperti yang dikisahkan pada zaman Nabi Musa as. Begini kisahnya, pada zaman Nabi Musa, ada seorang lelaki yang sudah berumahtangga, dia tiada zuriat, lalu terdetik dalam hati dia (nazar), "kalau aku dapat anak, aku akan minum air kencing anjing hitam." Nak dijadikan cerita, Allah pun kurniakan isteri si lelaki tadi pun hamil dan melahirkan anak. Apabila dah dapat anak, lelaki ni pun runsinglah. Dia dah nazar nak kena minum air kencing anjing hitam. Syariat pada zaman Nabi Musa berbeza dengan syariat yang turun untuk umat Nabi Muhammad. Kalau umat Nabi Muhammad, nazar benda yang haram, maka tak payah buat tapi kena denda (dam) atau sedekah. Tapi kalau zaman Nabi Musa, barangsiapa bernazar, walaupun haram tetap kena laksanakan nazar tu. Lalu, si lelaki yang baru mendapat anak, dengan susah hatinya pergilah bertemu dengan Nabi Allah Musa dan menceritakan segala yang terjadi ke atas dirinya. Lalu, Nabi Musa menjawab bahawa lelaki tu tak perlu minum air kencing anjing hitam tetapi akan minum air yang lebih hina dari air kencing anjing hitam. Nabi Musa perintahkan lelaki tersebut untuk pergi menadah air yang jatuh dari bumbung rumah orang yang meninggalkan solat dan minum air tu. Lelaki itu pun senang hati, menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa tadi. Lihatlah, betapa hinanya orang yang meninggalkan solat, sampai dikatakan air yang jatuh dari bumbung rumahnya, lebih hina dari air kencing anjing hitam. Itu baru air bumbung rumah, belum air tangan lagi. Menyentuh bab air tangan, selalu kita suka makan masakan ibu; isteri kita.
Jadi, kepada muslimat sekalian, peliharalah solat kerana kalau meninggalkan solat (kalau tak uzur), air tangan akan menitik ke dalam basuhan makanan; nasi, dsb. Anak-anak, suami pula yang akan makan makanan yang dimasak. Takkan nak biarkan suami dan anak-anak gelap hati minum air tangan orang tinggalkan solat. Tak gamak ' kan ? Tapi lain pula halnya dengan kita ni. Pagi petang, mamak! Teh tarik satu, roti canai satu. Ada pulak segelintir tukang masak yang tak solat. Kita pun makan bekas air tangan dia.. Gelaplah hati kita, sebab tu liat nak buat kerja-kerja yang baik. Beware (berhati2) apa yang kita makan. Betapa beratnya amalan solat ni hatta Allah syariatkan solat kepada Nabi Muhammad melalui Isra' Mikraj sedangkan kewajipan-kewajipan lain memadai diutus melalui Jibril as. Ketika saat Rasulullah nazak, sempat baginda berpesan kepada Saidina Ali (dan untuk umat Islam), "As-solah as Solah wa amalakat aimanukum". Maknanya, "Solat, solat jangan sekali kamu abaikan dan peliharalah orang-orang yang lemah di bawah tanggunganmu" .
Jadi, sama-samalah kita pelihara solat dari segi zahir & batinnya kerana amalan solatlah amalan yang mula-mula akan ditimbang di neraca Mizan kelak. Sahabatku, Jika hari ini aku terlalu gembira, sedarkanlah aku dgn amaran2 Allah. Jika ku bersedih tanpa kata, pujuklah aku dgn tarbiah Pencipta. Jika ku lemah sedarkanlah agar aku berubah. Dan jika esok ku lena tanpa terjaga, iringlah lenaku dgn kalungan doa.. Berjanjilah sahabatku, ukhwah kita utk selamanya.. ~
Renungan :Mata siapa yang tidak pernah menangis
Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam
dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu
dan menyebarkan risalah bertajuk "Jalan-jalan Syurga" dan beberapa karya
Islamik yang lain.
Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar
seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat
dingin dan hujan mulai turun.
Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan
seraya berkata "Ayah! Saya dah bersedia"
Ayahnya terkejut dan berkata "Bersedia untuk apa?". "Ayah bukankah ini
masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah"
"Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat"
"Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika
hujan turun"
Ayahnya menambah "Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca
sebegini"
Dengan merintih anaknya merayu "Benarkan saya pergi ayah?"
Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada
anaknya "Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!"
"Terima kasih Ayah" Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah
hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.
Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun
yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan
risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah "Jalan-jalan Syurga" ada
pada tangannya. DIa berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih
ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari
siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.
Akhirnya dia ternampak satu rumah yang agak terperosok di jalan itu dan mula
mengatur langkah menghampiri rumah itu. Apabila sampai sahaja anak itu di
rumah itu, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar
dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun
sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang memegangnya daripada pergi,
mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil
keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.
Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an.
Mukanya suram dan sedih. "Nak, apa yang makcik boleh bantu?"
Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit.
"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat
sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya
hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling
bertuah". Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.
"Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu" dalam nada yang lembut
Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam
memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya "Ada sesiapa nak
menyatakan sesuatu"
Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah
perempuan separuh umur itu. "Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini
yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk
pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim.
Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan
dalam dunia ini" Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.
"Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi
saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap
anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu
lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba
loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa
pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi
lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi".
"Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini
setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi
ke pintu"
"Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu.
Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat". "Makcik, maaf
saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan
makcik dan sentiasa memelihara makcik" itulah kata-kata yang paling indah
yang saya dengar".
"Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu
dan terus baca risalah itu setiap muka surat. Akhirnya kerusi dan tali yang
hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal mereka.
Aku tak perlukan itu lagi".
"Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi
hamba kepada Tuhan yang satu ALLAH. Di belakang risalah terdapat alamat ini
dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat
kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada
selama-lamanya di dalam neraka"
Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang
berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!
Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya
yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.
Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah
yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang
sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.
Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah ALLAH kepada
makhlukNya yang penyayang
Panjangkanlah risalah ini. Ingat ALLAH sentiasa menyayangi dan memelihara
kamu!
dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu
dan menyebarkan risalah bertajuk "Jalan-jalan Syurga" dan beberapa karya
Islamik yang lain.
Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar
seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat
dingin dan hujan mulai turun.
Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan
seraya berkata "Ayah! Saya dah bersedia"
Ayahnya terkejut dan berkata "Bersedia untuk apa?". "Ayah bukankah ini
masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah"
"Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat"
"Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika
hujan turun"
Ayahnya menambah "Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca
sebegini"
Dengan merintih anaknya merayu "Benarkan saya pergi ayah?"
Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada
anaknya "Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!"
"Terima kasih Ayah" Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah
hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.
Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun
yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan
risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah "Jalan-jalan Syurga" ada
pada tangannya. DIa berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih
ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari
siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.
Akhirnya dia ternampak satu rumah yang agak terperosok di jalan itu dan mula
mengatur langkah menghampiri rumah itu. Apabila sampai sahaja anak itu di
rumah itu, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar
dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun
sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang memegangnya daripada pergi,
mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil
keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.
Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an.
Mukanya suram dan sedih. "Nak, apa yang makcik boleh bantu?"
Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit.
"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat
sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya
hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling
bertuah". Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.
"Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu" dalam nada yang lembut
Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam
memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya "Ada sesiapa nak
menyatakan sesuatu"
Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah
perempuan separuh umur itu. "Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini
yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk
pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim.
Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan
dalam dunia ini" Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.
"Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi
saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap
anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu
lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba
loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa
pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi
lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi".
"Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini
setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi
ke pintu"
"Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu.
Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat". "Makcik, maaf
saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan
makcik dan sentiasa memelihara makcik" itulah kata-kata yang paling indah
yang saya dengar".
"Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu
dan terus baca risalah itu setiap muka surat. Akhirnya kerusi dan tali yang
hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal mereka.
Aku tak perlukan itu lagi".
"Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi
hamba kepada Tuhan yang satu ALLAH. Di belakang risalah terdapat alamat ini
dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat
kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada
selama-lamanya di dalam neraka"
Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang
berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!
Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya
yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.
Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah
yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang
sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.
Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah ALLAH kepada
makhlukNya yang penyayang
Panjangkanlah risalah ini. Ingat ALLAH sentiasa menyayangi dan memelihara
kamu!
Langgan:
Catatan (Atom)
Persahabatan Yg Sejati Akan Membawa Kpd Kerinduan Yg Abadi, Org Yg Rugi Ialah Org yG Tidak Memperolehi Sahabat & Yg Paling Rugi Ialah Dtinggalkan Sahabat. Sesungguhnya Persahabatan Itu Lebih Unggul Drpd Percintaan, Tanpa Persahabatan Percintaan Akan Berakhir, Tetapi Tanpa Percintaan Sahabat Blh Kekal.
Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....

Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....