Kebahagiaan adalah suatu kata yang begitu singkat, memiliki makna yang sangat luas. Sebuah kata yang maknanya didambakan semua makhluk yang bernama manusia.
Banyak jalan yang ditempuh oleh manusia untuk memiliki makna yang terdapat dalam kata bahagia. Kebahagiaan laksana barang hilang yang dicari-cari oleh kebanyakan manusia. Ia akan dicari dalam setiap masa dan tempat.
Dengan berbagai cara, manusia mencari kebahagiaan. Ada yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ada pula yang mengejar popularitas.
Di Manakah Kebahagian ? Apakah kebahagiaan itu terdapat pada kekayaan dan kemewahan hidup? Tidak sedikit manusia yang memliki asumsi demikian, mereka mengira bahwa kebahagiaan terdapat pada kekayaan, kemewahan hidup, harta yang melimpah ruah, dan kesejahteraan hidup.
Tapi kenyataannya, persepsi ini bahkan terkadang terbalik. Harta yang melimpah, ketenaran, akan menjadi bencana bagi pemiliknya di akhirat.
Allah سبحانه وتعلى berfirman tentang orang munafik, "Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah: 55).
Siksa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesengsaraan, rasa sakit, keresahan dan penyakit. Kasus inilah yang menimpa orang yang menjadikan harta dan dunia sebagai cita-cita utamanya dan puncak asanya. Dia akan selalu sakit hati, terkena tekanan jiwa, bingung, pikiran dan nuraninya tidak tenteram.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menggambarkan jiwa tersebut dalam satu sabdanya,
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan dia orang yang kaya hati, mengumpulkan kekuatannya, dan dunia akan mendatanginya sedangkan dia tidak suka. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua bola matanya, mencerai-beraikan kekuatannya. Dan dia dikarunai dunia tidak lebih lebar dari kadar yang memang sudah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmizdi. Dinyatakan shahih oleh Al Albani).
Harta bisa saja membawa kebahagiaan, asalkan memenuhi kedua syarat berikut ini:
Pertama; harta benda yang halal, yang didapatkan oleh seseorang atas kerja keras dan keringatnya sendiri.
Kedua; harta yang tidak digunakan untuk kejahatan.
Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka harta hanya akan menjadi bencana bagi pemilkinya.
Sumber Kebahagiaan Hakiki Islam sebagi din yang sempurna telah memberikan kepada ummat manusia jalan atau cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Dan di antara sumber kebahagiaan tersebut adalah:
1. Kebahagiaan terdapat pada keimanan Kebahagiaan tidak terletak pada harta yang melimpah ruah, tidak juga pada pangkat yang tinggi, bukan pula pada jumlah anak yang banyak, bukan karena keberhasilan mendapatkan kepentingan dan tidak pula pada ilmu material.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang timbul dari diri manusia, tidak datang dari luar manusia. Jika kebahagiaan diibaratkan pohon, maka tempat tumbuhnya adalah jiwa dan hati manusia, sementara percaya kepada Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir adalah tempat tinggalnya, makanannya, ventilasinya, cuacanya, dan cahanya.
Orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعلى, sebagi tempat bertumpu, tempat bersandar dan sebagai pemberi pertolongan saat berada dalam kesulitan, maka dia laksana bangunan tanpa pondasi dan rumah tanpa tiang. Karenanya, kita melihat orang yang paling sengsara dalam hidup ini adalah mereka yang banyak membangkang. Mereka memiliki harta benda yang melimpah ruah, memperoleh rejeki yang banyak, tapi jika tertimpa musibah mereka pasti gelisah. Karena sudah menjadi tabiat jiwa pasti takut kehilangan sesuatu yang ia miliki.
Iman adalah tempat bertumpu manusia yang dapat dipercaya, yang dapat dijadikan tempat berlindung jika kehidupan ditimpa badai dan dikelilingi kegelapan.
2. Kebahagiaan terdapat pada ketenangan jiwa. Diyakini bahwa ketenangan jiwa merupakan sumber utama yang dapat melahirkan kebahagiaan.
Selama di dunia, orang non Muslim disibukkan dengan keinginan dan tujuan yang beraneka ragam. Dia kebingungan, bagaimana dia harus menyinkronkan antara memenuhui keninginan hawa nafsunya dan mengikuti tuntutan masyarakat di sekitarnya. Sementara orang Mukmin terlepas dan terbebaskan dari semua itu, dan mengakumulasikan seluruh targetnya dalam satu target, yaitu untuk mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعلى. Dia tidak peduli apakah manusia ridha atau murka. Yang penting Allah سبحانه وتعلىridha.
Tidak ada yang lebih lapang dari dada dan hati seorang Mukmin dan tidak ada yang lebih sempit dari dada seorang yang membangkang dan meragukan keberadaan Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir.
"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 22-23).
Dan di antara faktor utama yang bisa membuat seseorang kehilangan ketenangan jiwa (resah) adalah orang yang menyesali masa lalunya. Tidak mau menerima realita dan pesimis terhadap masa depan.
3. Kebahagiaan terdapat pada qanaah dan wara' Qanaah adalah sikap menerima apa adanya. Adapun wara' adalah sikap berhati-hati terhadap segala hal yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعلى dan hal-hal yang tidak jelas halal haramnya (syubhat).
Orang-orang yang qanaah mau dengan lapang dada mengambil bagian terkecil dari kenikmatan yang diberikan kepada mereka untuk menyisakan bagian kepada orang lain, agar ikut merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.
Sa'ad bin Abi Waqqash pernah berkata kepada anaknya, "Hai, Anakku! Jika kamu menginginkan kekayaan, maka carilah dengan qanaah. Jika kamu tidak memiliki sifat qanaah, kamu tidak akan pernah merasa kaya, meski sudah memiliki harta sebanyak apa pun."
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian merasa hatinya tenteram, jasmaninya sehat, dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya, maka seolah-olah dikumpulkan untuknya dunia dan seluruh isinya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dinayatakan hasan oleh Al Albani).
Betapa bahagianya orang yang dikaruniakan nikmat oleh Allah سبحانه وتعلى sementara dia termasuk bagian dari orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat.
4. Kabahagiaan ada pada kepandaian mensyukuri nikmat Sebagai salah satu bentuk kelalaian adalah jika kita baru merasakan nikmat Allah سبحانه وتعلى setelah nikmat tersebut lenyap dari hadapan kita, padahal kita tahu bahwa nikmat bisa kekal dengan cara disyukuri. Dan dia akan hilang dengan pengingkaran.
Allah سبحانه وتعل berfirman, artinya: "Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).
Abu Hazim berkata, ”Setiap nikmat yang tidak membuat orang yang menerimanya lebih dekat kepada Allah, maka nikmat tersebut merupakan musibah."
5. Kebahagiaan ada pada rasa malu Malu adalah sikap menahan dan menghindarkan diri untuk melakukan semua hal yang tidak disukai Sang Khalik.
Rasa malu dapat memproteksi seseorang agar tidak terjerumus ke dalam lumpur dosa dan kemungkaran. Orang yang tidak mempunyai rasa malu tidak akan pernah melakukan bentuk kebaikan dan keutamaan apa pun.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
”Rasa malu itu bagian dari iman, sedangkan orang yang beriman dijamin masuk surga. Ucapan tidak sopan bagian dari bentuk perangai yang kasar, orang yang mempunyai perangai kasar tempatnya di neraka." (HR. Ahamad dan Tirmdzi).
Seorang bijak pernah berkata, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian malu maka orang-orang tidak akan pernah melihat celanya.”
Wallahu Haadi li Ahsanil Akhlaaq (Al Fikrah)
KEDUNIAAN banyak DAYA PENARIKNYA, SESIAPA yang LEMAH IMANNYA akan TERPIKAT dengan KEINDAHANNYA lalu MENCINTAINYA. Maka LUPALAH dia kepada ALLAH dan kepada AKHIRAT yang kesemua orang akan KEMBALI KEPADANYA...Apakah Benar Ada Cinta Sesama Manusia, Yang Selalu Diperkatakan Manusia.. Sedangkan Dalam Berkasih Sayang Manusia Tak Punya Ketulusan Kejujuran Dan Keikhlasan Sebagaimana Yang Diharap Di Dambakan. Cinta Yang Hakiki Adalah MenyempurnaKan Dunia Akhiratnya.
Memaparkan catatan dengan label Artikel. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Artikel. Papar semua catatan
Isnin, 15 November 2010
Ahad, 14 November 2010
KATA-KATA SEORANG YANG BIJAK PANDAI.

1. Siapa yg mengetahui kebodohan dirinya,ia pun tidak akan mengurusi kebodohan orang lain.
2. Siapa yg tidak memakai baju takwa, ia pun tidak boleh menutupi dirinya dengan sesuatu apa pun.
3. Siapa yg redha dengan rezeki Allah, ia pun tidak akan bersedih atas apa yg ada di tangan orang lain.
4. Siapa yg menghunus pedang kezaliman,ia akan terpotong dengannya.
5. Siapa yg menggali telaga utk menjerumuskan saudaranya,ia akan terjerumus di dalamnya.
6. Siapa yg menyingkap tabir orang lain,ia pun tersingkap auratnya.
7. Siapa yg melupakan kesalahan dirinya,ia akan menganggap besar kesalahan orang lain.
8. Siapa yg memaksa diri dalam berbagai urusan,ia bakal binasa.
9. Siapa yg mencukupkan diri dengan akalnya sendiri,ia bakal tergelincir.
10. Siapa yg menyombong diri terhadap orang lain,ia akan menjadi hina.
11. Siapa yg terlalu mendalami sesuatu pekerjaan,ia akan jemu.
12. Siapa yg terlalu membanggakan diri kepada orang lain,ia akan menjadi rendah.
13.Siapa yg membodohkan mereka,ia akan dimaki.
14. Siapa yg bergaul dengan orang2 yg rendah ia akan menjadi hina.
15. Siapa yg duduk dengan para Ulama,ia akan menjadi mulia.
16. Siapa yg memasuki tempat yg buruk,ia akan tertuduh.
17. Siapa yg meremehkan agama ia akan terperosok.
18. Siapa yg merampas harta orang lain,ia akan menjadi miskin.
19. Siapa yg mengharap akibat yg baik,ia akan bersabar.
20. Siapa yg tidak mengetahui tempat pijakan kakinya, ia bakal berjalan dalam penyesalan.
21. Siapa yg takut kepada Allah,ia akan beruntung.
22. Siapa yg tidak berpengalaman,ia akan mudah tertipu.
23. Siapa melawan orang yg benar,ia akan kalah.
24. Siapa yg menanggung apa yg tidak sanggup diperbuatnya, ia akan tidak berdaya.
25. Siapa yg mengetahui ajalnya,maka pendeklah harapannya.
26. Siapa yg mengandalkan kebodohan,ia akan meninggalkan jalan keadilan.
Dikatakan Orang Bahawa:
"Pajak orang Muslim adalah bayaran sewa rumahnya. Pembebasan dirinya adalah dengan melunasi hutangnya,Kehinaan dirinya adalah hutangnya dan siksa yg dirasakannya adalah keburukan periaku isterinya".
Musibah matinya hati

KEHADIRAN bulan Safar al-Khair mengimbau kembali kisah kegeringan Rasulullah SAW sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 12 Rabiulawal. Jika Rasulullah SAW itu adalah kekasih dan keutamaan kita, maka sudah tentu saat-saat yang memilukan itu menarik perhatian dan perasaan kita.
Sesungguhnya kewafatan Rasulullah SAW adalah musibah terbesar bagi umat Islam sehingga terdapat ulama yang menulis buku khusus mengenai musibah kewafatan Rasulullah. Setelah kewafatan Baginda, ada yang masih lemah imannya menjadi murtad, tidak mahu menunaikan zakat dan berpecah belah. Sesungguhnya inilah musibah terbesar yang pernah menimpa sahabat-sahabat Baginda. Hanya kekentalan iman menjadi penyelamat ketika itu.
Hari ini, umat Islam ditimpa musibah yang tidak kurang besarnya iaitu matinya hati. Pelbagai peringatan yang diberikan tetapi bak mencurah air di daun keladi. Inilah penyakit hati yang dikhuatiri oleh Rasulullah akan berlaku ke atas umatnya. Inilah kematian yang paling sukar untuk dipastikan kerana tidak ditandai dengan kain kapan putih ataupun batu nisan.
Apa pun, selaku insan yang sentiasa menginsafi diri, kita masih boleh menghisab diri, apakah musibah ini telah mengenai diri kita atau kita termasuk di kalangan mereka yang terselamat. Terdapat tiga tanda yang digariskan oleh ulama iaitu, tidak merasa sedih apabila tidak berkesempatan melakukan amal ketaatan, tidak menyesal apabila terlanjur melakukan dosa dan suka bersahabat dengan orang-orang yang lalai dan telah mati hatinya. Inilah alamat ringkas yang diletakkan oleh Syeikh Ibnu ‘Atoillah dalam kalam hikmahnya.
Maka dapat difahami bahawa keriangan dan kegembiraan seseorang kerana ketaatan yang dilakukannya dan kesedihan seseorang disebabkan maksiat yang dilakukannya merupakan tanda hidupnya hati seseorang. Rasulullah SAW telah bersabda:
“Sesiapa yang digembirakan oleh kebaikannya dan disedihkan oleh kejahatannya, maka dia adalah orang mukmin.” (riwayat Imam Ahmad, Tirmizi dan al-Hakim)
Namun, ini bukanlah kegembiraan yang bercampur dengan perasaan ‘ujub. Orang yang bersifat ‘ujub hanya memandang kepada daya dan kekuatannya dan lupa tentang anugerah Allah dalam mengurniakan taufik dan hidayah kepadanya. Hendaklah kita menjauhi sifat ‘ujub kerana ia boleh menghapuskan pahala amal-amal yang dilakukan. Begitu juga perasaan riak.
Amal kebaikan merupakan tanda keredaan Allah dan keredaan-Nya membawa kepada kegembiraan. Manakala amal kejahatan merupakan tanda kemurkaan Allah dan kemurkaan-Nya membawa kepada kesedihan. Sesiapa yang diredai oleh Allah, maka Allah mengizinkannya untuk melakukan amal soleh. Sesiapa yang dimurkai oleh Allah, maka Allah meninggalkannya dan membiarkannya berada dalam kelalaian dan kehinaan.
Abdullah ibn Mas’ud RA berkata:
“Orang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang berada di kaki gunung; dia takut kalau gunung itu akan menghempapnya. Manakala ahli maksiat melihat dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya maka mudah untuk menghalaunya.”
Namun demikian, tidak sepatutnya pula seseorang hamba yang apabila telah melakukan dosa, dikalahkan oleh kesalahan yang dilakukannya. Dikalahkan dalam bentuk bersikap pesimis, tidak lagi mengharap keampunan Tuhannya dan berprasangka buruk terhadap Tuhannya. Bagi orang yang benar-benar beriman dan hidup hatinya, rasa khawf dan raja‘ (takut dan harap kepada Allah) mesti ada pada dirinya. Allah telah menyifatkan para nabi dan rasul-Nya serta pengikut mereka dari kalangan kaum mukminin yang solehin dengan kedua-dua sifat ini, sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Israa’ ayat 57.
“Orang yang mereka seru itu, masing-masing mencari jalan kepada Tuhannya, siapakah yang lebih dekat serta mereka mengharapkan rahmat-Nya dan gerun takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu itu, adalah ditakuti.”
Syeikh Ibnu ‘Atoillah RA menyatakan dalam Hikamnya: “Janganlah kerana besarnya dosa di sisi kamu, menghalang kamu daripada berprasangka baik dengan Allah kerana orang yang telah kenal Tuhannya, nescaya akan menganggap dosanya kecil di sisi kemurahan Allah yang luas.”
Manakala sebab yang membawa kepada matinya hati ialah :
1. Cintakan dunia
2. Lalai daripada mengingati Allah
3. Menggunakan anggota untuk melakukan maksiat.
Di antara perosak yang terbesar ialah kasih terhadap dunia, berkeinginan kepadanya, sangat tamak terhadapnya, berminat dengannya, kasihkan pangkat dan harta dunia dan tamak terhadap keduanya, kikir dan bakhil dengan harta dunia. Firman Allah dalam surah Hud ayat 15-16.
“Sesiapa yang berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan daripadanya. Mereka tidak beroleh di akhirat kelak selain daripada neraka, dan gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batallah apa yang mereka telah kerjakan.”
Kecintaan kepada dunia adalah kepala segala kejahatan. Ia akan menghalang seseorang daripada melakukan kebaikan akibat hati yang telah digelapi oleh perkara-perkara keduniaan. Justeru, Syeikh Ibnu ‘Atoillah menyatakan
“Bagaimana hati dapat bercahaya, sedangkan gambaran-gambaran alam maya termeteri di cermin hati?”
Allah SWT menjadikan hati manusia itu seperti cermin yang memaparkan dan memantulkan imej setiap benda yang dihadapkan kepadanya. Cermin itu pula hanya mempunyai satu muka. Apabila Allah SWT hendak memberikan inayah-Nya kepada seseorang hamba, maka Dia menyibukkan fikiran hamba tersebut dengan cahaya-cahaya-Nya dan pelbagai kebaikan dan Dia tidak membelenggu atau menambat hati hamba tersebut dengan suatu perkara dari alam yang gelap dan khayalan yang meragukan. Maka terpaparlah di cermin hatinya cahaya-cahaya iman dan ihsan, dan terpancarlah padanya cahaya tauhid dan makrifah.
Begitulah sebaliknya, jika Allah mahu membiarkan seseorang hamba (mengeluarkannya daripada inayah-Nya) dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, maka Dia akan menyibukkan pemikiran hamba tersebut dengan kegelapan dunia dan syahwat. Maka kegelapan dunia ini akan terpapar di cermin hatinya. Lalu hatinya akan terhijab daripada sinar makrifah dan cahaya keimanan.
Semakin banyak gambaran dunia bertindih-tindih di cermin hatinya, maka semakin pudar cahayanya dan semakin tebal hijabnya. Maka dia tidak akan dapat melihat melainkan apa yang zahir sahaja dan dia tidak dapat berfikir melainkan perkara lahiriah sahaja.
Ada di antara hijabnya sangat dahsyat hingga menutup seluruh hati dan seluruh cahaya terpadam hingga dia menafikan terus kewujudan cahaya dari asalnya. Semoga dilindungi oleh Allah.
Ada di antaranya pula, hanya sedikit karatnya dan nipis hijabnya, maka dia mengakui kewujudan cahaya tersebut tetapi tidak dapat melihatnya. Ini ialah makam (kedudukan) kaum Muslimin awam.
Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya hati itu akan berkarat sepertimana karatnya besi, dan sesungguhnya iman itu akan lusuh seperti lusuhnya baju yang baru.”
Namun dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap sesuatu itu ada penggilapnya dan penggilap hati ialah zikrullah.”
Sabda Rasulullah SAW juga:
“Sesungguhnya seseorang hamba itu apabila melakukan kesalahan, digores di dalam hatinya dengan bintik hitam. Sekiranya dia menanggalkannya dan memohon keampunan, maka ia akan berkilau. Sekiranya dia kembali melakukan kesalahan, ditambah pada hatinya bintik hitam tersebut sehingga menyelubungi hatinya.”
Maka itulah selaput kegelapan yang telah difirmankan oleh Allah dalam surah al-Mutoffifin ayat 14.
“Sekali-kali tidak! Bahkan mata hati mereka telah diselaputi kekotoran (dosa), dengan sebab apa yang mereka kerjakan.”
Cahaya iman dan ihsan
Ketahui bahawa hati itu hanya mempunyai satu wajah, apabila kamu hadapkan cahaya kepadanya maka ia akan bersinar, dan apabila kamu hadapkan kegelapan kepadanya maka ia akan menggelap, kegelapan dan cahaya itu tidak pernah bersatu, maka fahamilah pula kata-kata Syeikh Ibnu ‘Atoillah yang menyebut:
“Bagaimanakah hati itu boleh bersinar dengan cahaya iman dan ihsan, sedangkan gambaran alam dan dunia yang gelap terpapar di cermin hati?”
Sesungguhnya dua perkara yang berlawanan tidak mungkin akan bersatu sebagaimana firman Allah SWT pada surah al Ahzaab ayat 4.
“Allah tidak menjadikan seorang lelaki mempunyai dua hati dalam rongga dadanya…”
Sedarlah wahai insan! Kamu tidak memiliki dua hati tetapi hanya satu. Apabila kamu hadapkan hati kamu itu kepada makhluk dan dunia ini, maka ia akan membelakangkan Allah. Apabila kamu hadapkannya kepada Allah, maka ia akan membelakangkan makhluk dan kamu akan mampu berjalan kepada Allah. Selama kamu tertambat dengan syahwat dan keduniaan kamu di dalam alam ini, maka kamu tidak akan mungkin dapat berjalan kepada Tuhan kamu, tidak juga kepada apa yang diisyaratkan oleh Syeikh Ibnu ‘Atoillah al Sakandari RA.
Selama hati masih tertawan atau terpenjara di dalam penjara kecenderungan atau keinginan kepada sesuatu yang akan binasa, dia masih terikat dengannya. Orang yang mempunyai hati sedemikian, tidak akan dapat berjalan menuju kepada keredaan Allah. Bahkan, tidak akan terpancar ke atasnya cahaya makrifat. Keterikatan hatinya dengan syahwat merupakan penghalang yang akan menegah dan menghalangnya daripada menuju kepada Allah disebabkan kesibukan dan keasyikannya dengan perkara-perkara yang memalingkannya daripada berjalan menuju kepada Allah.
Sekalipun tidak dinafikan dia mungkin dapat berjalan bersama nafsu syahwatnya, nafsunya akan melemahkan dan menghalangnya daripada dapat berjalan dengan cepat kerana kecenderungannya terhadap nafsu syahwatnya. Sekalipun dia mungkin dapat berjalan dengan cepat, dia tetap tidak akan aman daripada perkara-perkara yang akan menggelincirkannya kerana keseronokan dan kesenangannya dengan syahwat tersebut.
Sebab itu, para pembesar Sufi meninggalkan kelazatannya, sehingga berkata sebahagian daripada mereka: “Sengatan tebuan atas badan yang luka itu lebih ringan daripada sengatan syahwat atas hati orang yang sedang bertawajjuh kepada Allah.” (Ibnu ‘Ajibah, Iqaz al-Himam, H: 44)
Justeru, wahai saudaraku! Putuskanlah dan lepaskanlah dirimu dari perkara yang menghalang perjalanan kamu. Berjalan dan berhijrahlah kamu kerana hijrah adalah merupakan sunnah Rasulullah SAW. Semenjak Nabi SAW berhijrah, Baginda SAW tidak pernah menikmati masa untuk berehat melainkan di dalam musafir untuk berjihad sehingga Allah membuka sebuah negara untuknya.
Begitu juga para sahabat, hanya segelintir sahaja daripada mereka yang tinggal tetap di negara mereka sehingga dengan tangan-tangan mereka Allah membuka negara-negara yang lain dan memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah yang lain. Semoga Allah memanfaatkan kita dengan keberkatan mereka, Amin.
Hidupkanlah hati kita dengan meninggalkan terlebih dahulu perkara-perkara yang boleh menggelapkan dan mematikan hati. Selanjutnya sinarilah ia dengan cahaya-cahaya ketaatan dan keikhlasan. Sesungguhnya hati yang hidup akan sentiasa mendorong pemiliknya melakukan amal dan ketaatan dan meninggalkan dosa dan kejahatan dengan hati yang gembira tanpa rasa penat dan payah. Wallahu a’lam.
JGN LETIH BERBUAT KEBAIKAN!
Jika kita memberi kebaikan kepada seseorang, kebaikan itu akan dibalas walaupun yang membalasnya bukan orang yang kita berikan kebaikan itu. Hakikat ini mengingatkan saya kepada satu perbualan yang berlaku sewaktu saya mengendalikan program latihan beberapa tahun lalu di sebuah organisasi.
"Saya tidak mempunyai apa-apa harapan lagi pada organisasi ini," kata seorang kakak berterus-terang.
"Mengapa?" balas saya.
"Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja."
Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali terakhir dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara. Kesempatan yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya sepanjang berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat atau mendapat kenaikan gaji?
Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya kepadanya, "kakak punya berapa orang anak?"
Sengaja saya bertanya soal-soal "di luar kotak" agar ketegangan dalam sesi sebelumnya dapat diredakan.
"Oh ramai encik…"
"Bagaimana dengan anak-anak kakak?"
Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan sebagainya. Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
"Kakak, boleh saya bertanya?"
"Tanyalah encik…" ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya sudah berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang, semua anak-anaknya menjadi.
"Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang "menjadi" dengan naik gaji, mana yang kakak pilih?"
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, "antara kakak naik pangkat dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?"
Dengan cepat kakak itu menjawab, "hati ibu encik… tentulah saya pilih anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!"
Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
"Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam organisasi ini telah mendapat ganjaran…" kata saya perlahan. Hampir berbisik.
"Maksud encik?"
"Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak lebih sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan kepada kakak anak-anak yang menjadi."
"Tidak pernah saya terfikir begitu encik…"
"Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu misteri dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah."
"Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan kebaikan itu?"
"Maksud kakak?"
"Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja, tapi Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah encik?"
"Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri. Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!"
Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa yang berlaku dalam organisasi dengan familinya.
"Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu jalan yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah kereta yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong kita. Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun beralah, lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita…"
Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya sampaikan dengan begitu teliti.
"Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau setelah berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya memberi laluan untuk kita?"
Kakak itu tersenyum dan berkata, "tak logik encik. Kereta yang kita bantu tadi entah ke mana perginya."
"Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?'
"Pasti ada! Insya-Allah. "
"Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong. Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk membalas kebaikan kita… Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi."
"Subhanallah! "
"Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam kehidupan manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang membalas kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya. Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini."
"Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan? " tanya kakak itu lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.
"Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang yang melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun semula kepada pembalingnya! "
"Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat."
"Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi, Allah Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia lagi."
"Maksud encik?"
"Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang setia. Dan paling penting… hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan yang lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan."
"Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat atau gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek lebih baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!"
Giliran saya pula tersenyum.
"Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah. Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja… pangkat yang mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi ketenangan hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back but more than that… Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan juga. Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada kita. Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura! " terang saya panjang lebar.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang tinggal tidak beberapa bulan lagi ni?"
"Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our "ceo", kata orang sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan oleh Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi kebaikan hanya kerana tidak dapat penghargaan…"
"Maksud encik?"
"Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita buat kepadanya."
"Kenapa?"
"Kita akan sakit jiwa!"
"Kenapa?"
"Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala. Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur," balas saya mengulangi apa yang maktub dalam Al Quran.
"Tetapi Allah tidak berhenti memberi… " kata kakak itu perlahan.
"Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada yang derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi… Justeru siapa kita yang tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan ucapan terima kasih?"
"Ah, kita terlalu ego…"
Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar impaknya dalam hidup saya. Saya terasa "diperingatkan" semasa memberi peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada lintasan hati oleh satu pertanyaan… orang ikhlas tertindas?
Sekadar perkongsian kepada sahabat2 semua..^_^. Sama-sama istiqamah dalam perjalanan kita mencari keredhaanNya.....
Ya Allah, Tuhan yang Maha Suci.
Sucikanlah hati dan langkah kami agar kami lurus,tulus dan telus melalui jalan Mujahadah ini...amen;
"Saya tidak mempunyai apa-apa harapan lagi pada organisasi ini," kata seorang kakak berterus-terang.
"Mengapa?" balas saya.
"Organisasi ini dipenuhi oleh kaki bodek dan kaki ampu. Saya terseksa bekerja secara ikhlas di sini. Tidak pernah dihargai, tidak ada ganjaran yang wajar. Saya bukannya orang yang bermuka-muka. Tak pandai saya nak ampu-ampu orang atas, Fokus saya kepada kerja sahaja."
Kakak itu sebenarnya adalah peserta program yang paling senior. Telah berpuluh tahun bekerja dalam organisasi tersebut. Itu adalah kali terakhir dia mengikuti program latihan. Enam bulan lagi dia akan bersara. Kesempatan yang diberikan kepadanya dalam sesi memperkenalkan diri itu telah digunakannya sepenuhnya untuk meluahkan rasa kecewa dan marahnya sepanjang berkhidmat di situ. Sungguh, dia kecewa sekali. Siapa tidak marah, jika bekerja secara ikhlas dan gigih tetapi tidak pernah dinaikkan pangkat atau mendapat kenaikan gaji?
Sewaktu rehat, sambil minum-minum dan berbual santai saya bertanya kepadanya, "kakak punya berapa orang anak?"
Sengaja saya bertanya soal-soal "di luar kotak" agar ketegangan dalam sesi sebelumnya dapat diredakan.
"Oh ramai encik…"
"Bagaimana dengan anak-anak kakak?"
Wah, saya lihat dia begitu ceria apabila mula menceritakan tentang anak-anaknya. Boleh dikatakan semua anak-anaknya berjaya dalam profesion masing-masing. Ada yang menjadi doktor, jurutera, pensyarah dan sebagainya. Malah seorang anaknya telah menjadi hafiz.
"Kakak, boleh saya bertanya?"
"Tanyalah encik…" ujar kakak itu sambil tersenyum. Mendung di wajahnya sudah berlalu. Dia begitu teruja bila bercerita tentang anak-anaknya. Memang, semua anak-anaknya menjadi.
"Jika kakak diberi pilihan, antara anak-anak yang "menjadi" dengan naik gaji, mana yang kakak pilih?"
Belum sempat dia menjawab, saya bertanya lagi, "antara kakak naik pangkat dengan anak-anak berjaya dalam karier mereka, mana yang kakak pilih?"
Dengan cepat kakak itu menjawab, "hati ibu encik… tentulah saya pilih anak-anak saya menjadi walaupun tidak naik gaji atau dapat pangkat. Anak-anak adalah harta kita yang paling berharga!"
Saya tersenyum. Hati ibu, begitulah semestinya.
"Kakak, sebenarnya keikhlasan dan kegigihan kakak bekerja dalam organisasi ini telah mendapat ganjaran…" kata saya perlahan. Hampir berbisik.
"Maksud encik?"
"Allah telah membalas dengan ganjaran yang lebih baik dan lebih kakak lebih sukai. Bila kakak ikhlas bekerja dalam organisasi ini, Allah berikan kepada kakak anak-anak yang menjadi."
"Tidak pernah saya terfikir begitu encik…"
"Allah Maha Berkuasa. Ada kalanya takdir dan perbuatan-Nya terlalu misteri dan rahsia untuk dijangkau oleh pemikiran kita. Tetapi yakinlah what you give, you get back. Itu hukum sunatullah dalam hubungan sesama manusia. Kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Yakinlah."
"Walaupun bukan daripada seseorang atau sesuatu pihak yang kita berikan kebaikan itu?"
"Maksud kakak?"
"Macam ni, saya buat kebaikan kepada organisasi tempat saya bekerja, tapi Allah berikan kebaikan kepada keluarga. Pembalasan Allah bukan di tempat saya bekerja, sebaliknya diberikan dalam keluarga saya. Begitukah encik?"
"Itulah yang saya katakan tadi, takdir Allah kekadang terlalu misteri. Tetapi ketetapannya mutlak dan muktamad, siapa yang memberi kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dalam istilah biasa itu dipanggil golden rule!"
Kakak itu termenung. Mungkin memikirkan pertalian dan kaitan antara apa yang berlaku dalam organisasi dengan familinya.
"Metafora atau analoginya begini. Katalah kita sedang memandu di satu jalan yang mempunyai dua atau tiga lorong. Penuh sesak. Tiba-tiba sebuah kereta yang tersalah lorong di sebelah memberi isyarat untuk masuk ke lorong kita. Kerana simpati melihat dia terkial-kial memberi isyarat, kita pun beralah, lalu memberi laluan untuk kereta itu masuk di hadapan kita…"
Saya berhenti seketika mengambil nafas sambil mencari reaksi. Saya lihat kakak itu mendengar penuh minat. Dia meneliti metafora yang saya sampaikan dengan begitu teliti.
"Kemudian kita terus memandu ke hadapan. Mungkin sejam kemudian atau setelah berpuluh-puluh kilometer, tiba-tiba kita pula yang tersalah lorong. Kita pula yang memberi lampu isyarat untuk masuk ke lorong sebelah. Soalnya logikkah kalau kita mengharapkan kereta yang kita bantu sebelumnya memberi laluan untuk kita?"
Kakak itu tersenyum dan berkata, "tak logik encik. Kereta yang kita bantu tadi entah ke mana perginya."
"Tapi ada tak kereta lain yang simpati dan memberi laluan untuk kita?'
"Pasti ada! Insya-Allah. "
"Ya, begitulah. Padahal kereta itu tidak pernah sekali pun kita tolong. Tetapi Allahlah yang menggerakkan hati pemandunya untuk memberi laluan kepada kita. Orang yang kita beri kebaikan, tidak ada di situ untuk membalas kebaikan kita… Tetapi Allah menggerakkan hati orang lain, yang tidak pernah merasa kebaikan kita untuk membalas kebaikan kita tadi."
"Subhanallah! "
"Begitu dalam litar di jalan raya dan begitu jualah litar dalam kehidupan manusia. Kita buat baik kepada A, tetapi kerap kali bukan A yang membalas kebaikan kita tetapi B atau C atau D atau lain-lainnya yang membalasnya. Inilah hakikat yang berlaku dalam kehidupan ini."
"Kita tidak boleh kecewa bila keikhlasan kita dipersiakan? " tanya kakak itu lagi. Lebih kepada satu respons minta diiyakan.
"Kakak, ikhlas sebenar tidak pinta dibalas. Tetapi Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, siapa yang ikhlas akan diberi ganjaran walaupun mereka tidak memintanya kerana setiap kebaikan itu akan dikembalikan kepada orang yang melakukannya. Ia umpama bola yang dibaling ke dinding, akan melantun semula kepada pembalingnya! "
"Selalunya saya dengar, orang ikhlas akan dibalas di akhirat."
"Itulah balasan yang lebih baik dan kekal. Tetapi saya katakan tadi, Allah Maha kaya, Allah mahu dan mampu membalas keikhlasan hamba-Nya di dunia lagi."
"Maksud encik?"
"Orang yang ikhlas akan diberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Anak-anak yang soleh dan solehah. Isteri yang taat atau suami yang setia. Dan paling penting… hati yang sejahtera. Inilah kekayaan dan kelebihan yang lebih utama daripada pangkat, gaji dan jawatan."
"Jadi orang ikhlas akan terus ditindas, tidak dapat kenaikan pangkat atau gaji? Bukan apa, saya terfikir kenapa nasib kaki ampu dan kaki bodek lebih baik dalam organisasi. Mereka dapat naik pangkat!"
Giliran saya pula tersenyum.
"Tidak ada kebaikan yang akan kita dapat melalui jalan yang salah. Percayalah, kalau benar mereka kaki ampu dan bodek sahaja… pangkat yang mereka dapat akan menyebabkan mereka melarat. Gaji naik, tetapi ketenangan hati menurun. Ingat apa yang saya kata tadi, what you give you get back but more than that… Golden rule itu bukan untuk kebaikan sahaja, tetapi untuk kejahatan juga. Kalau kita berikan kejahatan, kejahatan itu akan kembali semula kepada kita. Kaki ampu, mungkin akan dapat anak yang pandai bermuka-muka. Kaki bodek mungkin dibalas dengan isteri yang berpura-pura! " terang saya panjang lebar.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dengan baki masa perkhidmatan yang tinggal tidak beberapa bulan lagi ni?"
"Bekerjalah dengan gigih. Walaupun mungkin bos tidak melihatnya, tetapi Allah Maha Melihat. Bekerja itu satu ibadah. God is our "ceo", kata orang sekarang. Insya-Allah, satu hari nanti manusia juga akan diperlihatkan oleh Allah tentang keikhlasan manusia yang lain. Jangan berhenti memberi kebaikan hanya kerana tidak dapat penghargaan…"
"Maksud encik?"
"Jangan mengharap terima kasih daripada manusia atas kebaikan yang kita buat kepadanya."
"Kenapa?"
"Kita akan sakit jiwa!"
"Kenapa?"
"Kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Lihatlah, kalau kepada Allah yang Maha Memberi pun manusia tidak pandai bersyukur dan berterima kasih, apalagi kepada manusia yang pemberiannya terbatas dan berkala. Sedikit sekali daripada manusia yang bersyukur," balas saya mengulangi apa yang maktub dalam Al Quran.
"Tetapi Allah tidak berhenti memberi… " kata kakak itu perlahan.
"Walaupun manusia tidak berterima kasih kepada-Nya. Sekalipun kepada yang derhaka dan kafir, tetapi Allah terus memberi… Justeru siapa kita yang tergamak berhenti memberi hanya kerana tidak mendapat penghargaan dan ucapan terima kasih?"
"Ah, kita terlalu ego…"
Dan itulah kesimpulan perbualan yang saya kira sangat bermakna dan besar impaknya dalam hidup saya. Saya terasa "diperingatkan" semasa memberi peringatan kerana pada hakikatnya saya juga tidak terlepas daripada lintasan hati oleh satu pertanyaan… orang ikhlas tertindas?
Sekadar perkongsian kepada sahabat2 semua..^_^. Sama-sama istiqamah dalam perjalanan kita mencari keredhaanNya.....
Ya Allah, Tuhan yang Maha Suci.
Sucikanlah hati dan langkah kami agar kami lurus,tulus dan telus melalui jalan Mujahadah ini...amen;
Selasa, 19 Januari 2010
Temanku....

Manusia paling rugi di dunia adalah manusia yang tidak dapat menikmati bahagia. Dia rugi kerana bahagia boleh membuat dia jadi gembira selama mana yang dia mahu. Dia amat rugi kerana mengecapi bahagia menjadikan dia rajin berusaha membina hidup lebih sempurna.
Bahagia cinta letaknya dihati, bukan pada harta, wang dan segala bentuk material. Ia lahir dari hati, menyentuh hati lain. Harta, wang dan segala bentuk material hanya alat yang dipergunakan untuk mengubah rasa bahagia, smaa ada untuk memunculkannya atau untuk menambah tahapnya menjadi lebih tinggi.
Kita memberikan sesuatu pada orang yang kita cinta, supaya dia berasa bahagia. Sebagai balasan, satu hari kita juga akan diberikan sesuatu olehnya, kerana kita membuat dia bahagia. Life is about giving and receiving. Cinta adalah proses memberi dan menerima.
Cinta jadi bahagia bila masing-masing saling memberi kemaafan dan meminta kemaafan. Mulai hari ini, ubahlah sikap Anda. Jadilah seorang yang pemaaf. Dalam rasa maaf, ada bahagia cinta.
Sabtu, 2 Januari 2010
Kau insan terpilih.....

Aduhai hati yang selalu gundah gulana.. Mengapa perlu difikirkan kehidupan duniawimu. Sedangkan dunia itu sering menipumu. Bukankah kehidupan ini penuh dengan majazi? Tipu daya di sana sini? Maka, hendaklah engkau susun langkahmu penuh hati-hati, Ingatlah, syaitan itu sentiasa tidak mahu mengaku kalah dan tidak pernah putus asa. Setiap saat masanya adalah berharga. Tidak dibiar kosong tanpa menyesatkan adam dan hawa. Lantas, bagaimana engkau masih lagi memikirkan hal duniamu?
Perbanyakkanlah berfikir, renung penuh bererti.. Bagaimana bakal kehidupanmu sewaktu mengadap Tuhan Rabbul ’Izzati..? Selamatkah dirimu di hari yang tiada pelindung melainkanNya? Akan beratkah amal yang akan engkau bawa?
Justeru, renungkanlah duhai diri yang lemah. Agar kehidupanmu di dunia sentiasa waspada..
Semoga, akan hadir dalam hatimu jiwa yang sensitif dengan dosa. Merasakan dosa itu besar sekalipun pada kesilapan sekecil zarah. Ketahuilah.. itulah antara ciri-ciri mereka yang aqrab dengan tuhanNya. Yang punya Ihsan dalam hatinya. Merasa kehadiran Allah dalam setiap sentuhan masa yang ada.. sekalipun mata tidak melihat, tetapi hati menyakini Allah Maha Mlihat.
Untuk apa perlu dirisaukan, aduhai hati yang rawan.. sebuah kehilangan itu hanya secebis dugaan.. dari Tuhan sekalian alam.. Hilang bukan bererti tamatnya sebuah kehidupan, tetapi dengan kehilangan itulah darjatmu ditinggikan. Hairan? Mengapa perlu dihairankan, Allah itu Maha berkuasa, zat yang sempurna penuh keagungan. Lupakah duhai hati, Allah telah berjanji dalam kalamNya Izzati..
”Adakah kamu mengaku beriman, sedangkan kamu belum diuji?”
Maka, hadapilah ujian dengan sejuta kesabaran. Percayalah, yakinlah sepenuh hatimu..
Hanyasanya Allah bersama-sama mereka yang sabar.
Aduhai hati yang penuh kesedihan.. Mengapa perlu ditangisi sebuah perpisahan? Bukankah semua kita akan pergi.. pulang kepangkuan Tuhan. Dialah yang menjadikan.. Dan padaNya jua segalanya akan dikembalikan. Lupakah engkau, hidup di dunia ini sekadar persinggahan. Yang kekal hanyalah amalan sebagai teman. Itulah teman dalam perjalanan menuju sebuah keabadian..
Maka, janganlah engkau lalaikan hatimu dengan kehidupan yang sementara ini. Janganlah engkau tangisi lagi sebuah perpisahan sementara.. akan tetapi, hadapkanlah wajahmu sentiasa kepada Allah.. Penuhkanlah jiwa dan hatimu dengan dzikrullah memuji kebesaranNya. Juga sibukkanlah hari-harimu dengan amalan makruf nahi mungkar, mengikut sunnah kekasihNya.
Yakinlah, barangsiapa yang dihatinya ada Allah, dan mengutamakan Allah atas segala apa yang dilakukannya, Allah akan seiringkan pekerjaannya dengan pertolonganNya. Bekerja keraslah engkau untuk hari esokmu yang abadi. Berbekallah dengan amalan yang menguntungkanmu di sana nanti. Ingatlah, sebaik-baik bekalan adalah taqwa.
Duhai diri yang lemah.. Kembalikanlah hatimu kepada Rab.. Kerana Dia lah pemilik segala yang engkau miliki.. Segalanya hanya pinjaman untuk menguji. Kentalkanlah semangat juangmu. Jadilah seperti syaidatina Aisyah, puterinya Syaidina Abu Bakar..
Walau fitnah mencalar maruah, Dia tetap Aisyah! Walau rumahtangganya di landa badai anggkara si munafiq durjana, tetap teguh pendiriannya, menggunung tawakalnya. Pada Allah dia berdoa, mengharap furqan agar tenggelam segala nista. Insafilah duhai diri yang lemah, Allah sengaja menguji sekeping hati yang kecil.. sebagai tukaran untuk mendapatkan habuan yang lebih besar kelak.
Maka bersyukurlah.. bersyukurlah.. bersyukurlah kerana engkau insan terpilih.
AKU TINGGALKAN DIA DEMI ALLAH...........

Dengan nama Allah
Sebaik-baik Pemberi Ganjaran
Namamukah yang tertulis di luh mahfuz sana?
Engkaukah yang bakal menemaniku jalan menuju syurga?
Dirimukah yang akan melengkapkan separuh dari agamaku?
Aduhai pria.
Adakah kau yang tercipta untukku?
Jawab pertanyaanku ini.
Jawab!
Kau takkan pernah dapat memberi jawapan
Kerna jawapannya bukan di tanganmu
Tetapi di tanganNya.
Di tangan Tuhan kita; Allah
Tuhanku dan Tuhanmu
Gelisahku memikirkan dirimu
Dan ketakutanku memikirkan Tuhanku
Aduhai pria
Maafkan aku.
Ketakutanku pada Tuhanku melebihi kegelisahanku memikirkanmu
Jemput diriku pabila waktunya tiba
Sebelum sampai saat itu, biarkan aku sendiri bersama Si Dia
Akan kucipta cinta bersama Dia
Sebelum kucipta cinta antara kita
Jadilah dirimu kumbang yang hebat
Dan doakan aku agar menjadi bunga yang mekar
"i've leave him for the sake of Allah"
Sesungguhnya Allah takkan pernah mensia-siakan pengorbananmu sayang
Bilamana kita tinggalkan semua ini kerana Allah semata
Yakinlah!
Akan ada sesuatu yang indah untukmu di pengakhiran nanti
Dan sesungguhnya hari kemudian
itu lebih baik bagimu
daripada yang sekarang (permulaan).
Dan kelak Tuhanmu
pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,
lalu (hati) kamu menjadi puas.
[Ad dhuha: 4 & 5]
Untuk itu
Aku tinggalkan dirimu padaNya
Sesungguhnya
aku bertawakkal
kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu.
Tidak ada suatu binatang melata
melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.
(Allah Maha Adil)
[Hud: 56]
Usah bersedih atas perpisahan sementara ini
jika benar dia tercipta untukmu
tiada apa yang dapat menghalangnya
sebelum saat itu tiba
berdoalah pada Allah moga diberi kekuatan
mohonlah padanya dengan penuh mengharap
Yakinlah pada janji Allah!
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)
[An Nur: 26]
Beruntunglah kamu !
tatkala Allah memilihmu untuk menyedari hakikat perhubungan antara lelaki dan wanita
Allah memilihmu sayang
Jangan pernah sia-siakan kasih sayang Allah ini
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya
[ As Syams: 8-10]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
"Tuhan kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,
maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;
dan gembirakanlah mereka
dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu
[Fussilat:30]
Dan tika kamu merasa lemah
Mohonlah kekuatan dariNya
Allah itu dekat
yakin pasti
Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan,
maka mohonlah perlindungan kepada Allah.
Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Jangan Mencari Terlalu Sempurna
Jika kamu memancing ikan……
Setelah ikan itu terlekat di mata kail……
Hendaklah kamu mengambil ikan itu……
Janganlah sesekali kamu LEPASKAN ia semula kedalam air begitu sahaja……. Kerana ia akan SAKIT oleh kerana bisanya……
Ketajaman mata kail kamu & mungkin ia akan MENDERITA selagi ia masih hidup……
Begitulah juga…… Setelah kamu memberi banyak PENGHARAPAN kepada seseorang …… Setelah ia mulai MENYAYANGI kamu……
Hendaklah kamu MENJAGA hatinya……
Janganlah sesekali kamu terus MENINGGALKANNYA begitu saja…… Kerana dia akan TERLUKA oleh kenangan bersamamu……dan mungkin TIDAK dapat MELUPAKAN segalanya selagi dia masih mengingati kamu……
Jika kamu MENADAH air biarlah berpada……
Jangan terlalu berharap pada takungannya dan menganggap ia begitu teguh……
Cukuplah sekadar untuk KEPERLUANMU sahaja……
Kerana apabila ia mulai RETAK ….tidak sukar untuk kamu menampal dan memperbaikinya semula……
Dan bukannya terus dibuang begitu sahaja……
Begitulah juga……
Jika kamu sedang memiliki seseorang…. TERIMALAH dia seadanya…… Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan mengganggapkan dia begitu istimewa……
Anggaplah dia manusia biasa……
Kerana apabila dia melakukan KESILAPAN …. tidaklah sukar untuk kamu MEMAAFKANNYA dan MEMBOLEHKAN hubungan kamu akan TERUS hingga ke akhir hayat
Dan bukannya MENGHUKUMNYA dan MENINGGALKAN dia begitu sahaja kerana kamu merasa terlalu kecewa dengan sikapnya Lalu semuanya akan menjadi TERHENTI begitu sahaja……
Jika kamu MEMILIKI sepinggan nasi……
Yang kamu pasti baik untuk diri kamu……
Yang MENGENYANGKAN dan BERKHASIAT
Setelah ikan itu terlekat di mata kail……
Hendaklah kamu mengambil ikan itu……
Janganlah sesekali kamu LEPASKAN ia semula kedalam air begitu sahaja……. Kerana ia akan SAKIT oleh kerana bisanya……
Ketajaman mata kail kamu & mungkin ia akan MENDERITA selagi ia masih hidup……
Begitulah juga…… Setelah kamu memberi banyak PENGHARAPAN kepada seseorang …… Setelah ia mulai MENYAYANGI kamu……
Hendaklah kamu MENJAGA hatinya……
Janganlah sesekali kamu terus MENINGGALKANNYA begitu saja…… Kerana dia akan TERLUKA oleh kenangan bersamamu……dan mungkin TIDAK dapat MELUPAKAN segalanya selagi dia masih mengingati kamu……
Jika kamu MENADAH air biarlah berpada……
Jangan terlalu berharap pada takungannya dan menganggap ia begitu teguh……
Cukuplah sekadar untuk KEPERLUANMU sahaja……
Kerana apabila ia mulai RETAK ….tidak sukar untuk kamu menampal dan memperbaikinya semula……
Dan bukannya terus dibuang begitu sahaja……
Begitulah juga……
Jika kamu sedang memiliki seseorang…. TERIMALAH dia seadanya…… Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan mengganggapkan dia begitu istimewa……
Anggaplah dia manusia biasa……
Kerana apabila dia melakukan KESILAPAN …. tidaklah sukar untuk kamu MEMAAFKANNYA dan MEMBOLEHKAN hubungan kamu akan TERUS hingga ke akhir hayat
Dan bukannya MENGHUKUMNYA dan MENINGGALKAN dia begitu sahaja kerana kamu merasa terlalu kecewa dengan sikapnya Lalu semuanya akan menjadi TERHENTI begitu sahaja……
Jika kamu MEMILIKI sepinggan nasi……
Yang kamu pasti baik untuk diri kamu……
Yang MENGENYANGKAN dan BERKHASIAT
Ahad, 20 Disember 2009
Nasihat seorang Ayah Buat Puterinya yang Tercinta
"kehormatanmu terletak di tanganmu. keruntuhan akhlakmu juga ditanganmu”
wahai puteriku"
puteriku tercinta! aku seorang yg telah berusia hampir lima puluh tahun.
hilang sudah, masa remaja, impian dan khayalan.
aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpoa dengan banyak orang
aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. oleh kerana itu dengarkan nasihat-nasihat yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalamanku, yang mana engkau mungkin belum pernah mendengarnya daripada orang lain.
puteriku dengarlah bicara dari hatiku
benar bahawa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju,lelaki itu tidak akan berani, dan andai kata bukan lantaran lemah gemalaimu, lelaki tidak akan bertambah parah. wanitalah yang membuka pintu, seolah kau katakan kepada pencuri itu; silakan masuk, silakan… apabila ia telah mencuri, engkau berteriak: pencuri! Tolong…. tolong… saya dicuri.
demi Allah dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
demi Allah begitulah, jangan engkau mudah percaya apa yang dikatakan lelaki, mereka tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. ia akan membicarakan kepadamu sebagai seorang sahabat: demi Allah ia telah berbohong!
senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kahalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan. setelah itu apa terjadi?
kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menananggung beban kehamilan. jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama itu hidupmu akan berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu.
puteriku
cita-cita wanita tertinggi adalah perkahwinan. wanita, bagaimana tinggi pun status sosial kekayaan, populariti dan prestasinya, sesuatu yang sangat dasyat diinginkannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu kepada rumah tangga yang terhormat
tak ada seseorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita rosak, akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik kerana ia tidak rela bila suri rumah tangganya dan ibu kepada putera puterinya seorang wanita yang tidak baik.
sesungguhnya krisis perkahwinan terjadi disebabkan kelalaian kaum wanita! krisis perkahwinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita perosak, sehingga para pemuda tidak mahu isteri. akibatnya ramai para gadis yang sudah berusia tidak dapat suami. mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sedar? mengapa kalian tidak berusaha membanteras malapetaka ini?
kalianlah yang lebih patut danlebih mampu daripada kaum lelaki untruk melakukan usaha itu kerana kalian lebih mengerti bahasa wanita. dan kalian lebih tahu cara menyedarkan mereka
dan oleh kerana yang menjadi korban kerosakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama, maka hendaklah kalian mengajak wanita lain agar bertaqwa kepada Allah. bila mereka enggan, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari penzinaan seperti berjangkitnya suatu penyakit.
bila mereka masih membangkang maka beritahu akan kenyataan yanga ada: kalian adalah gadis-gadis remaja puteri yang cantik, oleh kerana itu akan ramai pemuda mendatangi kalian dan berebut sekitar kalian, tetapi apakah kecantikan itu akan kekal? semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan pinggang bongkok dan wajah keriput? pada waktu itu siapakah yang akan memperhatikan? siapa yang akan simpati?
tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? mereka adalah anak dan para cucunya ., saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah, rakyatnya. duduk, di atas singghasana dengan memakai, mahkota tetapi bgaiamana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? apakah kelazatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelazatan sementara?
dan berilah nasihat-nasihat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasihati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahlah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang remaja, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
puteriku..
kami tidak minta kalian untuk berubah secara drastik mengembalikan wanita kini menjadi keperibadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerosakan sedikit demi sedikit.
perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu yang singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan sekarang itu telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mahu menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya itu, tidak akan pernah sampai. kita mulai dengan membanteras pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita menutup aurat tidak bererti ia boleh bergaul dengan lelaki yang bukan mahramnya dengan bebas dengan menjabat tangan kawan lelaki di sekolah, berbincang, berjalan seiring, berjalan bersama.
jangan lupa bahawa Allah menjadikannya sebgai wanita dan kawannya sebagai lelaki, satu dengan lain dapat saling terangsang . baik wanita, lelaki, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka
mereka saling menggembar-gemburkan kebebasan dan pergaulan bebas atas dasar kemajuan adalah pembohong, dilihat pada dua sebab:
pertama: kerana mereka lakukannya untuk kepuasan diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh kerana itu mereka berselindung di sebalik kemajuan, modernisasi, hak asasi dan pelbagai lagi ungkapan-ungkapan lain.
kedua: kerana merek bermakmum pada barat, bagaikan kiblat, seolah-oleh kebenaran adalah apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York, yang berupa tari menari, pergaulan bebas di pusat-pusat pengajian, mendedah aurat di khalayak, di pantai, di kolam renag. kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari Timur, sekolah-seklah Islam dan masjid-masjid, walaupun berupa kehormatan, kemuliaan, kesucian dan keamanan. kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu berahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual. untuk menjawab ini saya limphakan pada merekayag telah mencuba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. bukankah mereka telah meninggalkan percubaan ini setelah melihat bahawa hal ini amat merosak?
puteriku…
puteriku yang beriman dan beragama!! puteriku yang terhormat dan terpelihara, ketahuilah bahawa yang menjadi korban semua ini bukan ramai orang lain terkecuali engkau.
oleh kerana itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengar ucapan mereka yang merayu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. sungguh kjebanyakan orang terkutuk ini tidak beristeridan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelazatan sementara. sedangkan saya adalah seorang ayah daripada empat orang gadis. bila saya membela kalian, bererti sya mebela puteri-puteriku sendiri. saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginklan untuk puteri-puteriku.
sesungguhnya tidak ada mereka yang inginkan selain memperkosa kehormatan wanita. kemuliaan yang tercela tidak akan kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemui kemba;i.
bila anak puteri jatuh, tak seorang pun di anatara mereka mahu menyingsingkan lengan untuk membangunkannya, dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya merbeut kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi, persisnya seperti aning meninggalkan bangkai yang tidak tersisia daging sedikit pun. inilah nasihatku padamu, puteriku. inilah kebenaran. selain ini jangan percaya. sedarlah ditanganmulah, bukan di tangan kami kaum lelaki, kunci pintu perbaikan. bila mahu perbaiki dirikalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik. - Ayahmu
adaptasi daripada buku “wahai putriku” oleh Ali Thantawi
“kehormatanmu terletak di tanganmu. keruntuhan akhlakmu juga ditanganmu”
wahai puteriku"
puteriku tercinta! aku seorang yg telah berusia hampir lima puluh tahun.
hilang sudah, masa remaja, impian dan khayalan.
aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpoa dengan banyak orang
aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. oleh kerana itu dengarkan nasihat-nasihat yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalamanku, yang mana engkau mungkin belum pernah mendengarnya daripada orang lain.
puteriku dengarlah bicara dari hatiku
benar bahawa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju,lelaki itu tidak akan berani, dan andai kata bukan lantaran lemah gemalaimu, lelaki tidak akan bertambah parah. wanitalah yang membuka pintu, seolah kau katakan kepada pencuri itu; silakan masuk, silakan… apabila ia telah mencuri, engkau berteriak: pencuri! Tolong…. tolong… saya dicuri.
demi Allah dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
demi Allah begitulah, jangan engkau mudah percaya apa yang dikatakan lelaki, mereka tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. ia akan membicarakan kepadamu sebagai seorang sahabat: demi Allah ia telah berbohong!
senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kahalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan. setelah itu apa terjadi?
kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menananggung beban kehamilan. jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama itu hidupmu akan berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu.
puteriku
cita-cita wanita tertinggi adalah perkahwinan. wanita, bagaimana tinggi pun status sosial kekayaan, populariti dan prestasinya, sesuatu yang sangat dasyat diinginkannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu kepada rumah tangga yang terhormat
tak ada seseorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita rosak, akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik kerana ia tidak rela bila suri rumah tangganya dan ibu kepada putera puterinya seorang wanita yang tidak baik.
sesungguhnya krisis perkahwinan terjadi disebabkan kelalaian kaum wanita! krisis perkahwinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita perosak, sehingga para pemuda tidak mahu isteri. akibatnya ramai para gadis yang sudah berusia tidak dapat suami. mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sedar? mengapa kalian tidak berusaha membanteras malapetaka ini?
kalianlah yang lebih patut danlebih mampu daripada kaum lelaki untruk melakukan usaha itu kerana kalian lebih mengerti bahasa wanita. dan kalian lebih tahu cara menyedarkan mereka
dan oleh kerana yang menjadi korban kerosakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama, maka hendaklah kalian mengajak wanita lain agar bertaqwa kepada Allah. bila mereka enggan, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari penzinaan seperti berjangkitnya suatu penyakit.
bila mereka masih membangkang maka beritahu akan kenyataan yanga ada: kalian adalah gadis-gadis remaja puteri yang cantik, oleh kerana itu akan ramai pemuda mendatangi kalian dan berebut sekitar kalian, tetapi apakah kecantikan itu akan kekal? semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan pinggang bongkok dan wajah keriput? pada waktu itu siapakah yang akan memperhatikan? siapa yang akan simpati?
tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? mereka adalah anak dan para cucunya ., saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah, rakyatnya. duduk, di atas singghasana dengan memakai, mahkota tetapi bgaiamana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? apakah kelazatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelazatan sementara?
dan berilah nasihat-nasihat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasihati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahlah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang remaja, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
puteriku..
kami tidak minta kalian untuk berubah secara drastik mengembalikan wanita kini menjadi keperibadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerosakan sedikit demi sedikit.
perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu yang singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan sekarang itu telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mahu menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya itu, tidak akan pernah sampai. kita mulai dengan membanteras pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita menutup aurat tidak bererti ia boleh bergaul dengan lelaki yang bukan mahramnya dengan bebas dengan menjabat tangan kawan lelaki di sekolah, berbincang, berjalan seiring, berjalan bersama.
jangan lupa bahawa Allah menjadikannya sebgai wanita dan kawannya sebagai lelaki, satu dengan lain dapat saling terangsang . baik wanita, lelaki, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka
mereka saling menggembar-gemburkan kebebasan dan pergaulan bebas atas dasar kemajuan adalah pembohong, dilihat pada dua sebab:
pertama: kerana mereka lakukannya untuk kepuasan diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh kerana itu mereka berselindung di sebalik kemajuan, modernisasi, hak asasi dan pelbagai lagi ungkapan-ungkapan lain.
kedua: kerana merek bermakmum pada barat, bagaikan kiblat, seolah-oleh kebenaran adalah apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York, yang berupa tari menari, pergaulan bebas di pusat-pusat pengajian, mendedah aurat di khalayak, di pantai, di kolam renag. kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari Timur, sekolah-seklah Islam dan masjid-masjid, walaupun berupa kehormatan, kemuliaan, kesucian dan keamanan. kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu berahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual. untuk menjawab ini saya limphakan pada merekayag telah mencuba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. bukankah mereka telah meninggalkan percubaan ini setelah melihat bahawa hal ini amat merosak?
puteriku…
puteriku yang beriman dan beragama!! puteriku yang terhormat dan terpelihara, ketahuilah bahawa yang menjadi korban semua ini bukan ramai orang lain terkecuali engkau.
oleh kerana itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengar ucapan mereka yang merayu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. sungguh kjebanyakan orang terkutuk ini tidak beristeridan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelazatan sementara. sedangkan saya adalah seorang ayah daripada empat orang gadis. bila saya membela kalian, bererti sya mebela puteri-puteriku sendiri. saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginklan untuk puteri-puteriku.
sesungguhnya tidak ada mereka yang inginkan selain memperkosa kehormatan wanita. kemuliaan yang tercela tidak akan kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemui kemba;i.
bila anak puteri jatuh, tak seorang pun di anatara mereka mahu menyingsingkan lengan untuk membangunkannya, dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya merbeut kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi, persisnya seperti aning meninggalkan bangkai yang tidak tersisia daging sedikit pun. inilah nasihatku padamu, puteriku. inilah kebenaran. selain ini jangan percaya. sedarlah ditanganmulah, bukan di tangan kami kaum lelaki, kunci pintu perbaikan. bila mahu perbaiki dirikalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik. - Ayahmu
adaptasi daripada buku “wahai putriku” oleh Ali Thantawi
“kehormatanmu terletak di tanganmu. keruntuhan akhlakmu juga ditanganmu”
Ahad, 29 November 2009
Doa Untukmu

Ya Allah
bentuklah dirinya menjadi hamba yang cukup kuat untuk menyedari manakala ia lemah
dan cukup berani menghadapi diri sendiri
manakala diri takut
Jadikanlah dia
hamba yang selalu memiliki rasa bangga
dan keteguhan dalam kekalahan
rendah hati serta jujur dalam kemenangan
Bentuklah dia menjadi hamba yang kuat dan mengerti mengetahui dan kenal akan diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar
Ya Allah...
janganlah dirinya dibimbing atas jalan yang mudah dan lemah
bimbinglah dia dibawah tempa dan desak kesukaran tentangan hidup
Bimbinglah dia
supaya teguh berdiri di tengah badai
berbelas kasih kepada mereka yang jatuh
Bentuklah dia menjadi hamba yang berhati bening dengan cita meninggi langit
seorang hamba yang sanggup memimpin diri sendiri sebelum ia berhajat memimpin orang lain seorang hamba yg menjangkau ke hari depan tetapi tidak lupa akan masa lampau
Ya Allah...
dan setelah segala menjadi miliknya
semoga dia dilengkapi hati yang ringan untak bersungguh hati
tetapi jangan sesekali menganggap dirinya
terlalu berkesungguhan
Berikanlah kepadanya kerendahan hati
kesederhanaan dari keagungan hakiki
fikiran cerah dan terbuka
bagi sumber kearifan dan kelembutan
dari kekuatan sebenarnya
Jika.....

Jika luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa....... Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.......
Jika kebencian dan kemarahan menjadi masa lalu pada akhirnya, Mengapa mesti diungkit sepenuh jiwa....... Sedangkan memaafkan dan menahan diri adalah lebih berarti.......
Jika hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan....... Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nantinya.......
Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Mengapa tidak dinikmati sahaja....... Sedang ratapan dan tangisan tidak dapat mengubah apa-apa.......
"Bila engkau memandang segalanya dari Tuhanmu, Yang mencipta segalanya, Yang menimpakan ujian, Yang menjadikan sakit hatimu, Yang membuatkan keinginanmu terhalang, Serta menyusahkan hidupmu, Pasti akan damailah hatimu, Kerana tak mungkin ALLAH sengaja mentakdirkan segalanya untuk sesuatu yang sia-sia.......
Bukan ALLAH tak tahu deritanya hidupmu, Retaknya hatimu, Tapi memang itulah yang DIA mahu....... Kerana DIA tahu, Hati yang sebeginilah yang selalunya lebih lunak dan mudah untuk dekat dan akrab denganNYA......."
Permintaan Ku......
Teman....

TEMAN ketawa memang mudah dicari, tetapi teman menangis tiada siapa yang sudi.
Memang benar sukar mencari erti persahabatan sejati. Hanya mereka yang benar-benar bersahabat dengan hati tulus dan ikhlas dapat mencari erti persahabatan tulen.
Aku mencintai sahabatku dengan segenap jiwa ragaku, seakan-akan aku mencintai sanak saudaraku.Aku selalu berharap mendapatkan sahabat sejati yang tidak luntur baik dalam keadaan suka atau duka. Jika itu aku dapatkan, aku berjanji akan selalu setia padanya.
Kuhulurkan tangan kepada sahabatku untuk berkenalan kerana aku akan berasa senang. Semakin ramai aku peroleh sahabat, aku semakin percaya diri.Mencari sahabat pada waktu susah.
Belum pernah kutemukan di dunia ini seorang sahabat yang setia dalam duka.Pada hal hidupku sentiasa berputar-putar antara suka dan duka.Jika suka melanda, aku sering bertanya: "Siapakah yang sudi menjadi sahabatku?"Pada waktu aku senang, sudah biasa ramai yang akan iri hati, namun apabila giliran aku susah mereka pun bertepuk tangan.
Pasang surut persahabatan.
Jika aku menjauhkan diri daripada mereka, mereka mencemuh dan jika aku sakit, tidak seorang pun yang menjengukku.Jika hidupku berlumur kebahagiaan, banyak orang iri hati, jika hidupku berselimut derita mereka bersorak sorai.
-ESOK YANG TAK PASTI-

Kelmarin menjadi silam Semalam tinggal kenangan Cuma Hari ini yang pasti Malah Esok tidak ketahuan Epilog kisah kehidupan Mendatang silih berganti Babak kehidupan yang tak pernah sirna Sehingga saat dunia menutup mata Sendu sendawa persaudaraan Berbagai cita rasanya Namun jalinan itu tetap utuh Kerana RahmanNya terlalu tegar Yang terpisah jadi tautan Yang kabur tiada kesamaran Lalu cinta2 insan disuburkan Bersama hati2 yg sering disatukan Demi sebuah persaudaraan..
Wanita Insan Teristimewa

Kau digelar sebagai penyeri dunia
Hadirmu melengkap hubungan manusia
Bukan sahaja dirindui yang biasa
Malah Adam turut sunyi tanpa Hawa
Akalmu senipis bilahan rambut
Tebalkanlah ia dengan limpahan ilmu
Jua hatimu bak kaca yang rapuh
Kuatkanlah ia dengan iman yang teguh
Tercipta engkau dari rusuk lelaki
Bukan dari kaki untuk dialasi
Bukan dari kepala untuk dijunjung
Tapi dekat di bahu untuk dilindungi
Dekat jua di hati untuk dikasihi
Engkaulah wanita hiasan duniawi
Mana mungkin lahirnya bayangan yang lurus elok
Jika datangnya dari kayu yang bengkok
Begitulah peribadi yang dibentuk
Didiklah wanita dengan keimanan
Bukannya harta mahupun pujian
Kelak tidak derita berharap pada yang binasa
Engkaulah wanita istimewa
Sedarilah hai wanita insan istimewa
Bahawa kelembutan bukan kelemahan
Bukan jua penghinaan dari Tuhan
Bahkan sebagai hiasan kecantikan
Menemani lelaki di syurga idaman
Cinta dunia buat kita lupa pengorbanan kepada Allah
PERISTIWA korban mengajar kita supaya taat kepada perintah Allah, beriman dan berserah kepada-Nya. Ia juga membawa erti kesanggupan seseorang itu melepaskan dengan ikhlas sesuatu yang amat disayangi atau dihargai untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sudah tentulah menjadi korban untuk mendapatkan cinta Ilahi adalah kesanggupan yang tiada galang gantinya, berkorban untuk keredaan-Nya juga tidak mampu dilakukan oleh setiap hamba, malah pengorbanan menuntut desakan hati yang kasihnya hanya pada Yang Esa.
Kerana kuasa ‘korban’ yang begitu besar, sering kali ada yang bertanya, apa ganjaran berkorban? Daripada Zaid bin Arqam, dia berkata bahawa sesungguhnya suatu hari sahabat Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang ada pada korban itu?” Jawab Rasulullah: “Ia adalah sunnah bapa kamu, Ibrahim.”
Mereka berkata: “Apa yang akan kami peroleh daripadanya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi setiap helai rambut ada kebajikannya.” Mereka berkata: “Bagaimana pula dengan bulunya wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Bagi setiap helai bulu ada kebajikannya.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizi)
Hadis di atas mengingatkan kita kepada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sanggup bergadai nyawa demi reda Ilahi dan akur bahawa setiap khazanah bumi hanyalah milik Allah dan Dia berhak mengambil dan menganugerahkan apa saja. Kitab Tafsir Ibn Kathir merakamkan pada awalnya, Nabi Ibrahim tidak dikurniakan zuriat walaupun ketika itu baginda sudah lanjut usia.
Namun baginda tidak pernah berputus asa untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT supaya dikurniakan zuriat. Maka dengan kuasa Allah yang tidak dapat diduga baginda dikurniakan cahaya mata pertama bernama Ismail. Siapalah yang tidak gembira mendapat cahaya mata? Kisah ini dinyatakan dalam surah al-Soffat ayat 101 yang bermaksud: “Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.
Ulama termasuk ahli kitab bersepakat bahawa Nabi Ismail dilahirkan terlebih dulu berbanding Nabi Ishak. Bahkan tercatat di dalam kitab ahli kitab bahawa Nabi Ismail dilahirkan ketika Nabi Ibrahim berumur 86 tahun dan Nabi Ishak dilahirkan ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun. Selepas Nabi Ismail meningkat remaja, satu ujian yang amat berat diturunkan oleh Allah SWT ke atas dua beranak itu, dengan tujuan menguji keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.
Allah SWT memerintah Nabi Ibrahim supaya menyembelih putera kesayangannya. Walaupun terlalu berat hati Nabi Ibrahim untuk menyatakan perintah Allah itu kepada anaknya, Ismail, tetapi ia adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan.
Dengan hati yang sedih, Nabi Ibrahim menyatakan mengenai perintah Allah itu kepada Nabi Ismail, namun tiada apa yang mengejutkan Nabi Ismail sebaliknya baginda berkata: “Wahai bapaku laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah, moga-moga kamu akan mendapati aku dalam golongan orang yang sabar”.
Ada dua dimensi pengorbanan yang boleh dijadikan iktibar, iaitu seorang ayah yang terpaksa mengorbankan perasaan cinta dan kasih kepada anak yang sudah lama ditunggu-tunggu dengan ‘mengorbankannya’, demi patuh dan redanya terhadap perintah Allah SWT. Seterusnya, ketaatan dan keyakinan Nabi Ismail yang sanggup mengorbankan kasihnya kepada ibu dan ayahnya dan zaman keseronokan remajanya, malah sanggup mengorbankan nyawanya sendiri, semata-mata kerana ketaatan baginda terhadap perintah Allah dan perintah seorang ayah.
Kedua-dua pengorbanan ini sebenarnya berpusat daripada hubungan cinta sejati mereka kepada Allah SWT yang tidak berbelah bahagi. Sebab itulah, seandainya seorang Muslim itu mendahulukan cinta Allah daripada cinta makhluk, mereka pasti akan beroleh jaminan besar sebagaimana disebut oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bermaksud:
“Ada tujuh golongan yang mendapat perlindungan daripada Allah pada hari yang tidak ada perlindungan melainkan perlindungan Allah SWT iaitu imam yang adil, pemuda yang mengabdikan diri untuk beribadah kerana Allah, lelaki yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid, dua orang lelaki yang bersahabat, mereka bertemu kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah, lelaki yang digoda oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan kemudian menolaknya lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku takutkan Allah’, lelaki yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang tangan kanannya sedekahkan dan lelaki yang menitiskan air mata, beribadah menyebut nama Allah ketika bersendirian.” (Riwayat Muslim).
Sesungguhnya sumber cinta daripada Allah adalah sumber cinta yang paling tinggi dan utama. Apabila berlaku pertembungan antara cinta Allah dengan cinta makhluk, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memenangkan cinta mereka kepada Allah tanpa ragu-ragu. Baginda mengetahui bahawa bukan mudah meletakkan cinta pada pemiliknya tetapi keyakinan terhadap Ilahi memungkinkan segala-galanya dan ia hanya akan dimiliki oleh sesiapa yang sudah cukup kenal Allah SWT.
Menurut Imam al-Ghazali, ma’rifah (ilmu pengetahuan) itu akan mendahului cinta kerana cinta tanpa ma’rifah tidak mungkin berlaku kerana manusia hanya dapat mencintai sesuatu yang dikenalinya saja. Sebab itulah kita perlu rasional memilih cinta yang sementara, agar ia tidak mengatasi cinta yang kekal sampai bila-bila.
Takut mengorbankan dunia kerana akhirat pernah menjadi peringatan kepada setiap Muslimin. Sifat tamak terhadap cinta dunia lumayan menjerumuskan kita ke lembah yang sia-sia, tiada apa pun menjadi milik kita, walau pasir sebesar zarah pun. Di dalam al-Quran Allah SWT memberi amaran kepada manusia melalui firman-Nya dalam surah At-Taubah, ayat 24 yang bermaksud:
“Katakanlah (wahai Muhammad) jika bapa, anak, saudara, isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbang kerugiannya dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang fasiq”.
Justeru, biarlah peristiwa 10 Zulhijjah yang mengimbau sebuah pengorbanan menjadi zikir untuk kita menetapkan hati agar sentiasa beringat bahawa segala khazanah dunia ini pemiliknya hanya satu saja dan kita perlu sentiasa bersedia untuk berkorban apa saja.
Kerana kuasa ‘korban’ yang begitu besar, sering kali ada yang bertanya, apa ganjaran berkorban? Daripada Zaid bin Arqam, dia berkata bahawa sesungguhnya suatu hari sahabat Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang ada pada korban itu?” Jawab Rasulullah: “Ia adalah sunnah bapa kamu, Ibrahim.”
Mereka berkata: “Apa yang akan kami peroleh daripadanya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi setiap helai rambut ada kebajikannya.” Mereka berkata: “Bagaimana pula dengan bulunya wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Bagi setiap helai bulu ada kebajikannya.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizi)
Hadis di atas mengingatkan kita kepada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sanggup bergadai nyawa demi reda Ilahi dan akur bahawa setiap khazanah bumi hanyalah milik Allah dan Dia berhak mengambil dan menganugerahkan apa saja. Kitab Tafsir Ibn Kathir merakamkan pada awalnya, Nabi Ibrahim tidak dikurniakan zuriat walaupun ketika itu baginda sudah lanjut usia.
Namun baginda tidak pernah berputus asa untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT supaya dikurniakan zuriat. Maka dengan kuasa Allah yang tidak dapat diduga baginda dikurniakan cahaya mata pertama bernama Ismail. Siapalah yang tidak gembira mendapat cahaya mata? Kisah ini dinyatakan dalam surah al-Soffat ayat 101 yang bermaksud: “Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.
Ulama termasuk ahli kitab bersepakat bahawa Nabi Ismail dilahirkan terlebih dulu berbanding Nabi Ishak. Bahkan tercatat di dalam kitab ahli kitab bahawa Nabi Ismail dilahirkan ketika Nabi Ibrahim berumur 86 tahun dan Nabi Ishak dilahirkan ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun. Selepas Nabi Ismail meningkat remaja, satu ujian yang amat berat diturunkan oleh Allah SWT ke atas dua beranak itu, dengan tujuan menguji keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah.
Allah SWT memerintah Nabi Ibrahim supaya menyembelih putera kesayangannya. Walaupun terlalu berat hati Nabi Ibrahim untuk menyatakan perintah Allah itu kepada anaknya, Ismail, tetapi ia adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan.
Dengan hati yang sedih, Nabi Ibrahim menyatakan mengenai perintah Allah itu kepada Nabi Ismail, namun tiada apa yang mengejutkan Nabi Ismail sebaliknya baginda berkata: “Wahai bapaku laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah, moga-moga kamu akan mendapati aku dalam golongan orang yang sabar”.
Ada dua dimensi pengorbanan yang boleh dijadikan iktibar, iaitu seorang ayah yang terpaksa mengorbankan perasaan cinta dan kasih kepada anak yang sudah lama ditunggu-tunggu dengan ‘mengorbankannya’, demi patuh dan redanya terhadap perintah Allah SWT. Seterusnya, ketaatan dan keyakinan Nabi Ismail yang sanggup mengorbankan kasihnya kepada ibu dan ayahnya dan zaman keseronokan remajanya, malah sanggup mengorbankan nyawanya sendiri, semata-mata kerana ketaatan baginda terhadap perintah Allah dan perintah seorang ayah.
Kedua-dua pengorbanan ini sebenarnya berpusat daripada hubungan cinta sejati mereka kepada Allah SWT yang tidak berbelah bahagi. Sebab itulah, seandainya seorang Muslim itu mendahulukan cinta Allah daripada cinta makhluk, mereka pasti akan beroleh jaminan besar sebagaimana disebut oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bermaksud:
“Ada tujuh golongan yang mendapat perlindungan daripada Allah pada hari yang tidak ada perlindungan melainkan perlindungan Allah SWT iaitu imam yang adil, pemuda yang mengabdikan diri untuk beribadah kerana Allah, lelaki yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid, dua orang lelaki yang bersahabat, mereka bertemu kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah, lelaki yang digoda oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan kemudian menolaknya lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku takutkan Allah’, lelaki yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang tangan kanannya sedekahkan dan lelaki yang menitiskan air mata, beribadah menyebut nama Allah ketika bersendirian.” (Riwayat Muslim).
Sesungguhnya sumber cinta daripada Allah adalah sumber cinta yang paling tinggi dan utama. Apabila berlaku pertembungan antara cinta Allah dengan cinta makhluk, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memenangkan cinta mereka kepada Allah tanpa ragu-ragu. Baginda mengetahui bahawa bukan mudah meletakkan cinta pada pemiliknya tetapi keyakinan terhadap Ilahi memungkinkan segala-galanya dan ia hanya akan dimiliki oleh sesiapa yang sudah cukup kenal Allah SWT.
Menurut Imam al-Ghazali, ma’rifah (ilmu pengetahuan) itu akan mendahului cinta kerana cinta tanpa ma’rifah tidak mungkin berlaku kerana manusia hanya dapat mencintai sesuatu yang dikenalinya saja. Sebab itulah kita perlu rasional memilih cinta yang sementara, agar ia tidak mengatasi cinta yang kekal sampai bila-bila.
Takut mengorbankan dunia kerana akhirat pernah menjadi peringatan kepada setiap Muslimin. Sifat tamak terhadap cinta dunia lumayan menjerumuskan kita ke lembah yang sia-sia, tiada apa pun menjadi milik kita, walau pasir sebesar zarah pun. Di dalam al-Quran Allah SWT memberi amaran kepada manusia melalui firman-Nya dalam surah At-Taubah, ayat 24 yang bermaksud:
“Katakanlah (wahai Muhammad) jika bapa, anak, saudara, isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbang kerugiannya dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang fasiq”.
Justeru, biarlah peristiwa 10 Zulhijjah yang mengimbau sebuah pengorbanan menjadi zikir untuk kita menetapkan hati agar sentiasa beringat bahawa segala khazanah dunia ini pemiliknya hanya satu saja dan kita perlu sentiasa bersedia untuk berkorban apa saja.
Pengukuhan akidah faktor utama kebahagiaan keluarga
BOLEH dikatakan saban hari kita mendengar konflik rumah tangga membabitkan golongan bangsawan, artis, korporat serta pelbagai lapisan masyarakat. Sesetengah konflik itu berakhir dengan perceraian dan sudah pastinya memberi impak kepada maruah individu.
Turut terbabit ialah anak yang menjadi mangsa keadaan menimpa ibu bapa mereka. Perceraian tidak datang dengan sendirinya sebaliknya wujud konflik dalam rumah tangga yang menjurus kepada kes dibawa ke mahkamah.
Disebabkan konflik berpanjangan, ada pihak kadang-kadang menyalahkan Mahkamah Syariah kononnya lewat menyelesaikan kes mereka dengan mengambil kira penderitaan dialaminya.
Sebagai contoh, konflik antara A dan suaminya sudah wujud selama empat tahun dan akibat tidak tahan dengan konflik itu, A memfailkan kes perceraian di mahkamah. Apabila tiga bulan berlalu, A menyalahkan mahkamah kerana lewat menyelesaikan kes dan mendakwa sudah menderita selama empat tahun tiga bulan.
Beliau mengira daripada tarikh wujudnya konflik dengan mengambil kira sekali kes difailkan ke mahkamah seterusnya menyalahkan mahkamah atas kelewatan itu. Mahkamah menyelesaikan kes berdasarkan permohonan dikira daripada tarikh kes difailkan bukan tarikh konflik itu berlaku.
Konflik berlaku apabila ada ahli keluarga yang tidak bersetuju mengenai sesuatu perkara dalam kehidupan mereka. Antaranya, siapa yang patut melakukan tugas tertentu, bagaimana sumber digunakan secara bersama ataupun bagaimana keputusan harus dibuat.
Perbezaan itu memberi kesan kepada seluruh atau sebahagian ahli keluarga menyebabkan isu boleh bertukar menjadi konflik. Sebuah keluarga boleh bergaduh mengenai isu yang bersifat tunggal, jelas ataupun membabitkan hubungan seperti kuasa, kasih-sayang dan autonomi pasangan.
Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Dan terimalah pesanku untuk berbuat kebajikan kepada wanita kerana mereka itu dijadikan dari tulang rusuk yang paling bengkok iaitu yang paling atas. Jika kamu hendak luruskan nescaya kamu patahkan dia, jika kamu biarkan dia, tetaplah dia bengkok kerana itu terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada wanita.” (Hadis riwayat Imam Bukhari)
Kebahagiaan keluarga adalah tanggungjawab semua ahli khususnya ibu bapa. Bapa atau suami khususnya, harus mempunyai peribadi baik, bertanggungjawab dan matang supaya penelitian yang saksama, adil dan berhati-hati dapat dilaksanakan dalam keluarga.
Firman Allah bermaksud: “Bahawa Dia menjadikan kamu dari jenis kamu jodoh dan kamu bersenang-senang kepadanya dan Dia jadikan di antara kamu percintaan dan kasih-sayang, sesungguhnya itu, ada tanda ayat-ayat bagi kamu yang mahu berfikir.” (Surah Ar-Rum, ayat 21)
Suami isteri yang berkongsi kehidupan bertahun-tahun, malah sehingga akhir hayat pasti tidak dapat lari daripada menempuh dugaan berumah tangga. Kadangkala, perkara kecil terbawa-bawa menjadi kes besar, bermasam muka dan berbalah.
Ketua Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk, Jabatan Agama Islam Selangor (Jais), Alwi Parman, berkata pertelingkahan berlaku sebagai satu cubaan kepada pasangan kerana ada dosa dengan Tuhan yang mungkin tidak disedari pasangan terbabit.
Berdasarkan kajian, pelbagai punca berlakunya konflik seperti mengabaikan pendidikan agama, ekonomi tidak mantap, kurangnya kefahaman terhadap tanggungjawab, campur tangan keluarga, wujudnya orang ketiga, berlaku keganasan dalam rumah tangga dan kegagalan menguruskan masa dengan bijak.
Antara konflik perlu dielakkan ialah kehadiran orang ketiga. Ketua Pengarah Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Negara (LPPKN), Datuk Aminah Abdul Rahman mengakui kehadiran orang ketiga sering kali dikaitkan sebagai punca hubungan suami isteri bergoncang.
Namun menurutnya orang ketiga bukan punca utama perceraian. Mengikut Kajian Penduduk dan Keluarga Malaysia Keempat yang dijalankan LPPKN pada 2004, cuma 12 peratus perceraian berpunca daripada kehadiran orang ketiga.
Ia merujuk kepada pasangan curang dan isteri enggan dimadukan. Sebaliknya, tiada persefahaman antara pasangan iaitu 42 peratus.
Konflik dinyatakan jika tidak ditangani dengan bijak oleh pasangan boleh mengundang kepada peningkatan kes perceraian di Mahkamah Syariah. Kebahagiaan keluarga terletak pada banyak faktor dan yang paling utama ialah beragama.
Kenyataan penyanyi, pelakon dan pelawak Salih Yaakob yang mempunyai tiga isteri pada Seminar Kefahaman Poligami di Auditorium Pejabat Pelajaran Daerah Hulu Langat Selangor baru-baru ini menarik untuk dihayati.
Katanya, pengukuhan akidah penting kerana apabila akidah sudah utuh, suami akan dapat membimbing keluarga dengan baik. Penerapan nilai agama penting dalam diri dan ia wajar dipupuk dan dibelai dalam keluarga.
Keluarga adalah asas kepada masyarakat dan negara. Institusi kekeluargaan harus ditadbir dengan baik kerana keluarga yang mantap dan stabil dapat menyumbang kepada keharmonian negara. Oleh itu, sebarang tindakan boleh mengundang konflik wajar dielakkan supaya tidak menyumbang kepada kadar perceraian di negara kita.
Penulis ialah Presiden Persatuan Peguam Syarie Malaysia (PGSM)
Turut terbabit ialah anak yang menjadi mangsa keadaan menimpa ibu bapa mereka. Perceraian tidak datang dengan sendirinya sebaliknya wujud konflik dalam rumah tangga yang menjurus kepada kes dibawa ke mahkamah.
Disebabkan konflik berpanjangan, ada pihak kadang-kadang menyalahkan Mahkamah Syariah kononnya lewat menyelesaikan kes mereka dengan mengambil kira penderitaan dialaminya.
Sebagai contoh, konflik antara A dan suaminya sudah wujud selama empat tahun dan akibat tidak tahan dengan konflik itu, A memfailkan kes perceraian di mahkamah. Apabila tiga bulan berlalu, A menyalahkan mahkamah kerana lewat menyelesaikan kes dan mendakwa sudah menderita selama empat tahun tiga bulan.
Beliau mengira daripada tarikh wujudnya konflik dengan mengambil kira sekali kes difailkan ke mahkamah seterusnya menyalahkan mahkamah atas kelewatan itu. Mahkamah menyelesaikan kes berdasarkan permohonan dikira daripada tarikh kes difailkan bukan tarikh konflik itu berlaku.
Konflik berlaku apabila ada ahli keluarga yang tidak bersetuju mengenai sesuatu perkara dalam kehidupan mereka. Antaranya, siapa yang patut melakukan tugas tertentu, bagaimana sumber digunakan secara bersama ataupun bagaimana keputusan harus dibuat.
Perbezaan itu memberi kesan kepada seluruh atau sebahagian ahli keluarga menyebabkan isu boleh bertukar menjadi konflik. Sebuah keluarga boleh bergaduh mengenai isu yang bersifat tunggal, jelas ataupun membabitkan hubungan seperti kuasa, kasih-sayang dan autonomi pasangan.
Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Dan terimalah pesanku untuk berbuat kebajikan kepada wanita kerana mereka itu dijadikan dari tulang rusuk yang paling bengkok iaitu yang paling atas. Jika kamu hendak luruskan nescaya kamu patahkan dia, jika kamu biarkan dia, tetaplah dia bengkok kerana itu terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada wanita.” (Hadis riwayat Imam Bukhari)
Kebahagiaan keluarga adalah tanggungjawab semua ahli khususnya ibu bapa. Bapa atau suami khususnya, harus mempunyai peribadi baik, bertanggungjawab dan matang supaya penelitian yang saksama, adil dan berhati-hati dapat dilaksanakan dalam keluarga.
Firman Allah bermaksud: “Bahawa Dia menjadikan kamu dari jenis kamu jodoh dan kamu bersenang-senang kepadanya dan Dia jadikan di antara kamu percintaan dan kasih-sayang, sesungguhnya itu, ada tanda ayat-ayat bagi kamu yang mahu berfikir.” (Surah Ar-Rum, ayat 21)
Suami isteri yang berkongsi kehidupan bertahun-tahun, malah sehingga akhir hayat pasti tidak dapat lari daripada menempuh dugaan berumah tangga. Kadangkala, perkara kecil terbawa-bawa menjadi kes besar, bermasam muka dan berbalah.
Ketua Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk, Jabatan Agama Islam Selangor (Jais), Alwi Parman, berkata pertelingkahan berlaku sebagai satu cubaan kepada pasangan kerana ada dosa dengan Tuhan yang mungkin tidak disedari pasangan terbabit.
Berdasarkan kajian, pelbagai punca berlakunya konflik seperti mengabaikan pendidikan agama, ekonomi tidak mantap, kurangnya kefahaman terhadap tanggungjawab, campur tangan keluarga, wujudnya orang ketiga, berlaku keganasan dalam rumah tangga dan kegagalan menguruskan masa dengan bijak.
Antara konflik perlu dielakkan ialah kehadiran orang ketiga. Ketua Pengarah Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Negara (LPPKN), Datuk Aminah Abdul Rahman mengakui kehadiran orang ketiga sering kali dikaitkan sebagai punca hubungan suami isteri bergoncang.
Namun menurutnya orang ketiga bukan punca utama perceraian. Mengikut Kajian Penduduk dan Keluarga Malaysia Keempat yang dijalankan LPPKN pada 2004, cuma 12 peratus perceraian berpunca daripada kehadiran orang ketiga.
Ia merujuk kepada pasangan curang dan isteri enggan dimadukan. Sebaliknya, tiada persefahaman antara pasangan iaitu 42 peratus.
Konflik dinyatakan jika tidak ditangani dengan bijak oleh pasangan boleh mengundang kepada peningkatan kes perceraian di Mahkamah Syariah. Kebahagiaan keluarga terletak pada banyak faktor dan yang paling utama ialah beragama.
Kenyataan penyanyi, pelakon dan pelawak Salih Yaakob yang mempunyai tiga isteri pada Seminar Kefahaman Poligami di Auditorium Pejabat Pelajaran Daerah Hulu Langat Selangor baru-baru ini menarik untuk dihayati.
Katanya, pengukuhan akidah penting kerana apabila akidah sudah utuh, suami akan dapat membimbing keluarga dengan baik. Penerapan nilai agama penting dalam diri dan ia wajar dipupuk dan dibelai dalam keluarga.
Keluarga adalah asas kepada masyarakat dan negara. Institusi kekeluargaan harus ditadbir dengan baik kerana keluarga yang mantap dan stabil dapat menyumbang kepada keharmonian negara. Oleh itu, sebarang tindakan boleh mengundang konflik wajar dielakkan supaya tidak menyumbang kepada kadar perceraian di negara kita.
Penulis ialah Presiden Persatuan Peguam Syarie Malaysia (PGSM)
Sabtu, 28 November 2009
Tentang menerima ilmu
Tentang menerima ilmu 1
3 keadaan tanah pertama itu…
Bumi yang di sirami air hujan…
yang ketandusan di sirami air…
lalu subur dan ditumbuhi tumbuhan…
kedua itu bumi yang keras di sirami air hujan…
air menjadi bertakung dan tanah tidak…
dapat di serapi air…
ketiga itu bumi keras dan rata di sirami air hujan…
walapun tanahnya basah ia tidak dapat meresap dalam tanah…
ia jaga air itu agar bertakung dan tidak hilang…
perumpamaan 3 jenis manusia dalam mendengar ilmu agama…
pertama itu yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami hingga ia amalkan ilmu itu dalam kehidupan…
kemudian di sebarkan pada orang lain…
juga mengajar kepada orang lain…
jenis orang yang punyai sifat terpuji…
dalam mendengar majlis ilmu…
manusia yang fahami ajaran agama dan amalkan…
kedua itu orang yang belajar agama…
orang yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami ilmu itu, Cuma ilmu itu…
tidak memberi mafaat pada dirinya…
tapi ia sampaikan pada orang lain…
ilmunya itu seperti air yang di minum orang lain…
ketiga itu jenis yang walapun mendengar majlis ilmu…
telah sampai ajaran islam padanya…
tetapi ia tidak dapat amalkan…
Cuma dapat sampikan pada orang lain…
Ilmu yang di dengar itu sekadar ilmu…
Tanpa meresap dalam hati dan kehidupanya…
Di utuskan Allah kepada manusia akan nabi…
Untuk sampikan ajaran islam dengan ilmu agama…
Menjadi nabi itu pemimpin umat…
Agar manusia hidup dalam ajaran islam…
Agar manusia hidup dalam mengamalkan ajaran Allah…
Tentang menerima ilmu 2
Golongan yang mendapat petunjuk itu…
Menjadikan nabi sebagi pimpinannya…
Dengan segala ajaran nabi itu di ikutinya…
Dalam apa-apa perbuatan dan amalannya…
Kehidupan dengan beramal dengan syariat…
Agama yang di bawa nabi…
Hidup dengan dapat petunjuk dan hidayah dari Allah…
Ajaran yang Allah sampaikan pada nabi…
Bukan semua yang terima dan bukan semua menolak…
Ada yang terima dan ada yang tolak…
Ada yang terima sebahagian dan ada yang tolak sebahagian…
Ada juga yang menerimanya sepenuhnya…
Golongan para sahabat nabi adalah…
Golongan yang ketaatannya pada ajaran Allah…
Berjaya di rakamkan dalam alquran…
Dengan kami dengar dan kami patuh…
Samikna wa’atukna sahabat menerima ajaran…
Sahabat nabi menerima sepenuhnya ajaran dari nabi…
Di zaman nabi juga telah wujud beberapa golongan…
Hingga Allah rakamkan dalam alquran…
Golongan mutakin, golongan kafir dan golongan munafik…
Zaman kini telah wujud manusia yang lahirnya islam…
Tapi zahirnya juga perbuatanya ia tolak islam…
Perbuatannya bukan mencerminkan ia islam…
Wujud golongan yang benci ajaran islam…
Golongan yang sembunyikan kekafirannya…
Di zaman nabi, golongan munafik di ketahui…
Setelah turunnya wahyu dari Allah…
Walupun nabi tahu orang munafik…
Tapi merahsiakan dengan harapan mudah-mudahan…
Golongan ini masuk islam…
Seperti tanah keras timpa hujan…
Walupun ia basah tapi tidak resap dalam hatinya…
Walaupun mendengar dan belajar ilmu islam…
Ilmu itu tidak masuk dalam hatinya…
Sekadar di hafal dan di ceritakan pada orang lain…
Walupun ajaran islam sampai padanya, tapi tidak ambil mafaat…
3 golongan yang ada terima, ada yang tolak…
Ada yang terima setengah dan tolak setegah ajaran islam…
Adakah kita beriman dan terima setengah kitab…
Dan kita tolak setengah kitab ajaran islam?...
Tentang menerima ilmu 3 (akhir)
Hati manusia dengan ajaran islam…
Dengan ilmu pengetahuan islam itu ibarat…
Bumi dengan air hujan yang menimpa meresap dalam tanah…
Manusia dengan terima ilmu lalu hafal dan amalkan…
Dalam kehidupan dan ajarkan pada orang itu sebaik-baik manusia…
Mafaat dari ilmu orang di dengar dan di amalakan…
Manusia yang berhak di puji itu adalah…
Dengan ilmu yang di pelajari dan di amalakan…
Serta di ajar pada orang lain…
Kerana itu pujian wajar kita berikan kepada nabi…
Kepada para sahabat dengan gelaran yang Allah beri…
Ramai ini tidak suka lagi di beri gelaran dengan…
Muslim dan muslimat kerana itu pangkat yang Allah berikan…
Kepada umat islam atas usaha mereka…
Gelaran pangkat soleh, muflihun, mukarobin yang di…
Anugerahkan kepada umat islam…
Manusia kini sudah melupakan salam dan tidak suka…
Dengan ucapan salam apabila bertemu sesama islam…
Ucapan lain yang menjadi kesukaan mereka…
Kerana itu ucapan salam adalah ucapan…
Yang akan di beri pada pengunjung syurga…
Dari Allah sebagai tanda hormat…
Jadi rugilah dan malanglah bagi…
Yang tidak suka akan ucapan salam…
Semoga kita mempunyai hati yang meresap…
Ilmu agama dam amalkan dan ajarkan pada orang lain…
Ada yang belajar ilmu agama dan ilmu itu…
Ia mampu ajarkan pada orang lain…
Ilmunya banyak tapi dia sendiri tidak dapat…
Mafaat dari ilmunya kerana tidak dapat di amalkan...
Sekadar boleh ajar pada orang lain…
Dan orang lain yang dapat mafaatnya…
Tapi tidak pada dirinya sendiri…
Amat malanglah golongan ini….
Ilmu itu bukan sekadar di dengar, di hafal, tapi di amalkan…
Walaupun kuat beribadah, bila tiada ilmu…
Akan menjadi orang yang beribadah dalam kebodohan…
Bila berilmu dan di amalkan akan mencantikan ibadah…
Ibadah kita akan lebih di perhalusi dan di perbetulkan…
Bila faham dan di amalkan menjadikan…
Ibadah kita cantik dan sempurna…
Menjdikan kita insan yang mulia di sisi Allah…
3 keadaan tanah pertama itu…
Bumi yang di sirami air hujan…
yang ketandusan di sirami air…
lalu subur dan ditumbuhi tumbuhan…
kedua itu bumi yang keras di sirami air hujan…
air menjadi bertakung dan tanah tidak…
dapat di serapi air…
ketiga itu bumi keras dan rata di sirami air hujan…
walapun tanahnya basah ia tidak dapat meresap dalam tanah…
ia jaga air itu agar bertakung dan tidak hilang…
perumpamaan 3 jenis manusia dalam mendengar ilmu agama…
pertama itu yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami hingga ia amalkan ilmu itu dalam kehidupan…
kemudian di sebarkan pada orang lain…
juga mengajar kepada orang lain…
jenis orang yang punyai sifat terpuji…
dalam mendengar majlis ilmu…
manusia yang fahami ajaran agama dan amalkan…
kedua itu orang yang belajar agama…
orang yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami ilmu itu, Cuma ilmu itu…
tidak memberi mafaat pada dirinya…
tapi ia sampaikan pada orang lain…
ilmunya itu seperti air yang di minum orang lain…
ketiga itu jenis yang walapun mendengar majlis ilmu…
telah sampai ajaran islam padanya…
tetapi ia tidak dapat amalkan…
Cuma dapat sampikan pada orang lain…
Ilmu yang di dengar itu sekadar ilmu…
Tanpa meresap dalam hati dan kehidupanya…
Di utuskan Allah kepada manusia akan nabi…
Untuk sampikan ajaran islam dengan ilmu agama…
Menjadi nabi itu pemimpin umat…
Agar manusia hidup dalam ajaran islam…
Agar manusia hidup dalam mengamalkan ajaran Allah…
Tentang menerima ilmu 2
Golongan yang mendapat petunjuk itu…
Menjadikan nabi sebagi pimpinannya…
Dengan segala ajaran nabi itu di ikutinya…
Dalam apa-apa perbuatan dan amalannya…
Kehidupan dengan beramal dengan syariat…
Agama yang di bawa nabi…
Hidup dengan dapat petunjuk dan hidayah dari Allah…
Ajaran yang Allah sampaikan pada nabi…
Bukan semua yang terima dan bukan semua menolak…
Ada yang terima dan ada yang tolak…
Ada yang terima sebahagian dan ada yang tolak sebahagian…
Ada juga yang menerimanya sepenuhnya…
Golongan para sahabat nabi adalah…
Golongan yang ketaatannya pada ajaran Allah…
Berjaya di rakamkan dalam alquran…
Dengan kami dengar dan kami patuh…
Samikna wa’atukna sahabat menerima ajaran…
Sahabat nabi menerima sepenuhnya ajaran dari nabi…
Di zaman nabi juga telah wujud beberapa golongan…
Hingga Allah rakamkan dalam alquran…
Golongan mutakin, golongan kafir dan golongan munafik…
Zaman kini telah wujud manusia yang lahirnya islam…
Tapi zahirnya juga perbuatanya ia tolak islam…
Perbuatannya bukan mencerminkan ia islam…
Wujud golongan yang benci ajaran islam…
Golongan yang sembunyikan kekafirannya…
Di zaman nabi, golongan munafik di ketahui…
Setelah turunnya wahyu dari Allah…
Walupun nabi tahu orang munafik…
Tapi merahsiakan dengan harapan mudah-mudahan…
Golongan ini masuk islam…
Seperti tanah keras timpa hujan…
Walupun ia basah tapi tidak resap dalam hatinya…
Walaupun mendengar dan belajar ilmu islam…
Ilmu itu tidak masuk dalam hatinya…
Sekadar di hafal dan di ceritakan pada orang lain…
Walupun ajaran islam sampai padanya, tapi tidak ambil mafaat…
3 golongan yang ada terima, ada yang tolak…
Ada yang terima setengah dan tolak setegah ajaran islam…
Adakah kita beriman dan terima setengah kitab…
Dan kita tolak setengah kitab ajaran islam?...
Tentang menerima ilmu 3 (akhir)
Hati manusia dengan ajaran islam…
Dengan ilmu pengetahuan islam itu ibarat…
Bumi dengan air hujan yang menimpa meresap dalam tanah…
Manusia dengan terima ilmu lalu hafal dan amalkan…
Dalam kehidupan dan ajarkan pada orang itu sebaik-baik manusia…
Mafaat dari ilmu orang di dengar dan di amalakan…
Manusia yang berhak di puji itu adalah…
Dengan ilmu yang di pelajari dan di amalakan…
Serta di ajar pada orang lain…
Kerana itu pujian wajar kita berikan kepada nabi…
Kepada para sahabat dengan gelaran yang Allah beri…
Ramai ini tidak suka lagi di beri gelaran dengan…
Muslim dan muslimat kerana itu pangkat yang Allah berikan…
Kepada umat islam atas usaha mereka…
Gelaran pangkat soleh, muflihun, mukarobin yang di…
Anugerahkan kepada umat islam…
Manusia kini sudah melupakan salam dan tidak suka…
Dengan ucapan salam apabila bertemu sesama islam…
Ucapan lain yang menjadi kesukaan mereka…
Kerana itu ucapan salam adalah ucapan…
Yang akan di beri pada pengunjung syurga…
Dari Allah sebagai tanda hormat…
Jadi rugilah dan malanglah bagi…
Yang tidak suka akan ucapan salam…
Semoga kita mempunyai hati yang meresap…
Ilmu agama dam amalkan dan ajarkan pada orang lain…
Ada yang belajar ilmu agama dan ilmu itu…
Ia mampu ajarkan pada orang lain…
Ilmunya banyak tapi dia sendiri tidak dapat…
Mafaat dari ilmunya kerana tidak dapat di amalkan...
Sekadar boleh ajar pada orang lain…
Dan orang lain yang dapat mafaatnya…
Tapi tidak pada dirinya sendiri…
Amat malanglah golongan ini….
Ilmu itu bukan sekadar di dengar, di hafal, tapi di amalkan…
Walaupun kuat beribadah, bila tiada ilmu…
Akan menjadi orang yang beribadah dalam kebodohan…
Bila berilmu dan di amalkan akan mencantikan ibadah…
Ibadah kita akan lebih di perhalusi dan di perbetulkan…
Bila faham dan di amalkan menjadikan…
Ibadah kita cantik dan sempurna…
Menjdikan kita insan yang mulia di sisi Allah…
Ahad, 22 November 2009
Hati Adalah Radar Yang Ajaib
Pernahkah anda rasa berdebar-debar, gelisah, tidak tenteram, tidak sedap hati dan sebagainya?Semua fenomena itu sebenarnya adalah isyarat yang dipancarkan oleh hati seseorang bahawa ada sesuatu yang menjadi ancaman kepada diri manusia dan ianya dapat dikesan oleh hati.
Sabda Rasullulah s.a.w: Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'
Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.
Hati adalah radar yang hebat untuk mengesan perbuatan manusia, sama ada mengesan perkara yang baik atau buruk. Apabila kita melakukan perbuatan yang berdosa, kita akan mudah untuk rasa berdebar-debar dan cemas.Seterusnya ia akan menyebabkan kita rasa gelisah dan tertekan.
Isyarat ini sebenarnya bertujuan untuk menyuruh supaya seseorang untuk kembali pada Allah. Apabila kita memohon keampunan dan bertaubat maka hati kita akan kembali tenang.Hati yang berpenyakit dari segi batin perlu dirawat seberapa segera kerana ianya bukan sahaja memberikan kemudaratan pada ketenteraman jiwa malah boleh menyebabkan penyakit pada anggota badan.
Bagaimana hati mendapat tenaga dan kekuatan?
Makanan hati adalah taqwa kepada Allah.Zikir, membaca Al-Quran, menuntut ilmu agama, memberi zakat, bersedekah dan berbaik sangka adalah makanan hati yang enak dan lazat. Jika hati tidak diberi makan, maka seseorang itu akan menghidap penyakit batin dan zahir.Dengan cara memberikan makanan pada hati,barulah seseorang berhak untuk memperolehi kebahagiaan.
Apakah cara untuk merawat hati yang berpenyakit dan menghidupkan hati yang mati?
Caranya ialah dengan bertaubat.Meminta keampunan, mengingati kematian dan sentiasa melakukan amal kebajikan.Ini akan memulihkan dan menghidupkan semula hati.
Hanya dengan mengingati Allah seperti dalam firman Allah;
'(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.' (Ar-Ra'd :28)
Apabila hati kita mendustakan ayat-ayat Allah maka termasuklah kita dalam kategori hati yang berpenyakit sepertimana firmanNya;
'Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.' (Al-Baqarah:10)
Oleh itu,apabila hati kita mengesan sesuatu yang tidak menyenangkan maka marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum hati kita menjadi keras.Ingatlah pesananNya yang bermaksud:
'Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.'(Al-Hadid:16)
Sabda Rasullulah s.a.w: Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'
Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.
Hati adalah radar yang hebat untuk mengesan perbuatan manusia, sama ada mengesan perkara yang baik atau buruk. Apabila kita melakukan perbuatan yang berdosa, kita akan mudah untuk rasa berdebar-debar dan cemas.Seterusnya ia akan menyebabkan kita rasa gelisah dan tertekan.
Isyarat ini sebenarnya bertujuan untuk menyuruh supaya seseorang untuk kembali pada Allah. Apabila kita memohon keampunan dan bertaubat maka hati kita akan kembali tenang.Hati yang berpenyakit dari segi batin perlu dirawat seberapa segera kerana ianya bukan sahaja memberikan kemudaratan pada ketenteraman jiwa malah boleh menyebabkan penyakit pada anggota badan.
Bagaimana hati mendapat tenaga dan kekuatan?
Makanan hati adalah taqwa kepada Allah.Zikir, membaca Al-Quran, menuntut ilmu agama, memberi zakat, bersedekah dan berbaik sangka adalah makanan hati yang enak dan lazat. Jika hati tidak diberi makan, maka seseorang itu akan menghidap penyakit batin dan zahir.Dengan cara memberikan makanan pada hati,barulah seseorang berhak untuk memperolehi kebahagiaan.
Apakah cara untuk merawat hati yang berpenyakit dan menghidupkan hati yang mati?
Caranya ialah dengan bertaubat.Meminta keampunan, mengingati kematian dan sentiasa melakukan amal kebajikan.Ini akan memulihkan dan menghidupkan semula hati.
Hanya dengan mengingati Allah seperti dalam firman Allah;
'(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.' (Ar-Ra'd :28)
Apabila hati kita mendustakan ayat-ayat Allah maka termasuklah kita dalam kategori hati yang berpenyakit sepertimana firmanNya;
'Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.' (Al-Baqarah:10)
Oleh itu,apabila hati kita mengesan sesuatu yang tidak menyenangkan maka marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum hati kita menjadi keras.Ingatlah pesananNya yang bermaksud:
'Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.'(Al-Hadid:16)
Wahai Adam....
Adam,
Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah hawa,temanmu yang kau pinta semasa kesunyian disyurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi,tidak hairanlah jika perjalanan hidupku sentiasa inginkan bimbingan darimu. Sentiasa mahu terpesong dari landasan kerana aku buruan syaitan.
Adam,
Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu dikala akhir zaman ini. Itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusannya,kerana andainya Allah mentakdirkan bilangan kaummu mengatasi kaumku nescaya merahlah dunia ini dengan darah manusia. Kacau bilaulah suasana Adam sesama Adam bermusuh hanya kerana Hawa.
Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil. Sehinggalah pada zaman cucu-cicitnya juga. Jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah Yang mengharuskan adam beristeri lebih dari satu tetapi tidak melebihi empat orang dalam satu masa.
Adam,
Bukan kerana ramainya isterimu membimbangkan daku. Bukan kerana sedikitnya bilanganmu merunsingkanku. Tetapi aku risau,gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Sejak dahulu lagi telah kuketahui bahawa seharusnya aku tunduk tatkala telah menjadi isterimu. Patutlah terlalu berat lidahku berbicara untuk menyatakan isi hati ini. Namun sebagai hamba Allah, Aku sayang padamu.
Adam,
Sebagaimana didalam Al-Quran telah menyatakan yang engkau diberi kuasa terhadap wanita. Kau diberi amanah mendidikku. Kau diberi tanggungjawab untuk menjagaku,memerhati dan mengawasiku agar redha Allah sentiasa menaungi. Tetapi Duhai Adam, lihatlah dunia kini.
Apa yang telah terjadi terhadap kaumku?
Kini, Aku dan kaumku telah ramai yang menderhakaimu. Ramai yang telah menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan. Asalnya Allah mengkehendaki aku tinggal tetap dirumah. Dijalan-jalan,dipasar,di bandar-bandar bukanlah tempatku. Jika terpaksa,aku keluar dari rumah seluruh tubuhku ditutup dari hujung rambut sehingga kehujung kaki. Tapi realitinya kini, aku telah lebih dari yang sepatutnya.
Adam,
Mengapa kau biarkan daku begini? Sememangnya aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tetapi kini, aku jadi ibu,guru dan aku jugalah yang memikul senjata. Padahal engkau duduk sahaja. Ada diantara kau yang menganggur tiada kerja. Kau perhatikan sahaja aku panjat tangga dipejabat bomba. Kainku tinggi menyingsing peha,mengamankan Negara. Apakah kau sekarang tidak seperti dahulu? Apakah sudah hilang kasih sucimu kepadaku?
Adam,
Marahkah kau jika ku katakan terpesongnya hawa sekarang engkaulah yang harus dipersalahkan! Kenapa kau? Bukankah orang sering bicara, Jika anak jahat maka emak bapak yang tidak pandai mendidik, Jika murid bodoh,guru tidak pandai mengajar. Jadi secara formulanya, Aku binasa,kaulah puncanya!!!
Adam,
Kau selalu mengata, Hawa memang degil! Tidak mahu dengar kata! Tidak mudah makan nasihat! Kepala batu! Tetapi duhai Adam, Seharusnya kau bertanya kepada dirimu, Siapakah ikutanmu? Siapakah rujukanmu? Dalam mendidik aku yang lemah ini. Adakah ikutanmu Muhammad s.a.w? Adakah rujukanmu Muhammad s.a.w? Adakah akhlak-akhlakmu boleh dijadikan contoh buat kami kaum Hawa?
Adam,
Sebenarnya kaulah imam dan aku adalah makmummu. Aku adalah pengikutmu-pengikutmu Kerana kaulah amir. Jika kau benar maka benarlah aku. Jika kau lalai,lalailah aku. Lupakah kau duhai Adam? Kau punya satu kelebihan anugerah Tuhan. Akalmu sembilan, nafsumu satu. Dan aku, akalku satu nafsuku beribu! Dari itu Adam,gunakanlah ketinggian akalmu untuk membimbingku.
Pimpinlah tanganku kerana aku sering lupa dan lalai. Seringkali aku tergelincir ditolak,disorong oleh nafsu dan kuncu-kuncunya. Bimbing dan bantulah aku dalam menyelami kalimah Allah. Perdengarkanlah daku kalimah syahdu dari TuhanMu agar duniaku sentiasa dijalan rahmah. Tiupkanlah roh jihad ke dalam dadaku agar aku mampu tetap menjadi mujahidah kekasih Allah.
Adam,
Andainya kau masih lali dengan kerenahmu sendiri. Masih segan mengikut langkah para sahabat baginda. Masih gentar mencegah mungkar. Maka kita tunggu dan lihatlah dunia ini akan hancur bila aku yang memerintah. Malulah engkau Adam. Malulah engkau pada dirimu sendiri. Wallahualam.
Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah hawa,temanmu yang kau pinta semasa kesunyian disyurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi,tidak hairanlah jika perjalanan hidupku sentiasa inginkan bimbingan darimu. Sentiasa mahu terpesong dari landasan kerana aku buruan syaitan.
Adam,
Maha suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu dikala akhir zaman ini. Itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusannya,kerana andainya Allah mentakdirkan bilangan kaummu mengatasi kaumku nescaya merahlah dunia ini dengan darah manusia. Kacau bilaulah suasana Adam sesama Adam bermusuh hanya kerana Hawa.
Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil. Sehinggalah pada zaman cucu-cicitnya juga. Jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah Yang mengharuskan adam beristeri lebih dari satu tetapi tidak melebihi empat orang dalam satu masa.
Adam,
Bukan kerana ramainya isterimu membimbangkan daku. Bukan kerana sedikitnya bilanganmu merunsingkanku. Tetapi aku risau,gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Sejak dahulu lagi telah kuketahui bahawa seharusnya aku tunduk tatkala telah menjadi isterimu. Patutlah terlalu berat lidahku berbicara untuk menyatakan isi hati ini. Namun sebagai hamba Allah, Aku sayang padamu.
Adam,
Sebagaimana didalam Al-Quran telah menyatakan yang engkau diberi kuasa terhadap wanita. Kau diberi amanah mendidikku. Kau diberi tanggungjawab untuk menjagaku,memerhati dan mengawasiku agar redha Allah sentiasa menaungi. Tetapi Duhai Adam, lihatlah dunia kini.
Apa yang telah terjadi terhadap kaumku?
Kini, Aku dan kaumku telah ramai yang menderhakaimu. Ramai yang telah menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan. Asalnya Allah mengkehendaki aku tinggal tetap dirumah. Dijalan-jalan,dipasar,di bandar-bandar bukanlah tempatku. Jika terpaksa,aku keluar dari rumah seluruh tubuhku ditutup dari hujung rambut sehingga kehujung kaki. Tapi realitinya kini, aku telah lebih dari yang sepatutnya.
Adam,
Mengapa kau biarkan daku begini? Sememangnya aku ibu dan guru kepada anak-anakmu. Tetapi kini, aku jadi ibu,guru dan aku jugalah yang memikul senjata. Padahal engkau duduk sahaja. Ada diantara kau yang menganggur tiada kerja. Kau perhatikan sahaja aku panjat tangga dipejabat bomba. Kainku tinggi menyingsing peha,mengamankan Negara. Apakah kau sekarang tidak seperti dahulu? Apakah sudah hilang kasih sucimu kepadaku?
Adam,
Marahkah kau jika ku katakan terpesongnya hawa sekarang engkaulah yang harus dipersalahkan! Kenapa kau? Bukankah orang sering bicara, Jika anak jahat maka emak bapak yang tidak pandai mendidik, Jika murid bodoh,guru tidak pandai mengajar. Jadi secara formulanya, Aku binasa,kaulah puncanya!!!
Adam,
Kau selalu mengata, Hawa memang degil! Tidak mahu dengar kata! Tidak mudah makan nasihat! Kepala batu! Tetapi duhai Adam, Seharusnya kau bertanya kepada dirimu, Siapakah ikutanmu? Siapakah rujukanmu? Dalam mendidik aku yang lemah ini. Adakah ikutanmu Muhammad s.a.w? Adakah rujukanmu Muhammad s.a.w? Adakah akhlak-akhlakmu boleh dijadikan contoh buat kami kaum Hawa?
Adam,
Sebenarnya kaulah imam dan aku adalah makmummu. Aku adalah pengikutmu-pengikutmu Kerana kaulah amir. Jika kau benar maka benarlah aku. Jika kau lalai,lalailah aku. Lupakah kau duhai Adam? Kau punya satu kelebihan anugerah Tuhan. Akalmu sembilan, nafsumu satu. Dan aku, akalku satu nafsuku beribu! Dari itu Adam,gunakanlah ketinggian akalmu untuk membimbingku.
Pimpinlah tanganku kerana aku sering lupa dan lalai. Seringkali aku tergelincir ditolak,disorong oleh nafsu dan kuncu-kuncunya. Bimbing dan bantulah aku dalam menyelami kalimah Allah. Perdengarkanlah daku kalimah syahdu dari TuhanMu agar duniaku sentiasa dijalan rahmah. Tiupkanlah roh jihad ke dalam dadaku agar aku mampu tetap menjadi mujahidah kekasih Allah.
Adam,
Andainya kau masih lali dengan kerenahmu sendiri. Masih segan mengikut langkah para sahabat baginda. Masih gentar mencegah mungkar. Maka kita tunggu dan lihatlah dunia ini akan hancur bila aku yang memerintah. Malulah engkau Adam. Malulah engkau pada dirimu sendiri. Wallahualam.
Langgan:
Catatan (Atom)
Persahabatan Yg Sejati Akan Membawa Kpd Kerinduan Yg Abadi, Org Yg Rugi Ialah Org yG Tidak Memperolehi Sahabat & Yg Paling Rugi Ialah Dtinggalkan Sahabat. Sesungguhnya Persahabatan Itu Lebih Unggul Drpd Percintaan, Tanpa Persahabatan Percintaan Akan Berakhir, Tetapi Tanpa Percintaan Sahabat Blh Kekal.
Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....

Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....
