Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta.
Namun hati-hati juga dengan cinta, kerana cinta juga dapat membuat orang yang sihat menjadi sakit, orang yang gemuk menjadi kurus, orang yang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada ALLAH. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta ALLAH, cinta yang begitu agung lagi murni.
Cinta ALLAH cinta yang tidak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-NYA, dan manisnya bercinta dengan ALLAH, tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi tubuh lesu, tidak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cubaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-NYA jua.
Tidak jarang orang mengaku mencintai ALLAH, dan sering orang mengatakan mencintai Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam, tetapi bagaimana mungkin semua itu diterima ALLAH tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta ALLAH, tetapi dalam fikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita atau lelaki yang dicintai. Tidak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-NYA.
Di saat ALLAH menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat ALLAH, sering orang tidak bisa menerimanya. Di saat ALLAH memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tidak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang isterinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tidak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, ramai orang yang hijrah ke rumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari ALLAH, kerana ALLAH ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-hamba-NYA kepada sang penakluk jiwa, ALLAHU RABBI. ALLAH menginginkan bukti, namun sering orang pun tidak berdaya membuktikannya, justeru sering berguguran cintanya kepada ALLAH, disaat ALLAH menarik secuil nikmat yang dicurahkan-NYA.
Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap KHALIQnya. Padahal semuanya sudah diatur oleh ALLAH, rezeki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari ALLAH, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhyrat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup di dunya. Bersungguh-sungguh mencintai ALLAH, ataukah terlena oleh dunya yang fana ini? Jika cinta kepada selain ALLAH, melebihi cinta pada ALLAH, merupakan salah satu penyebab du’aa tidak terijabah.
Bagaimana mungkin ALLAH mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih mengadah tangan kepada ALLAH di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
Bagaimana mungkin du’aa seorang gadis ingin mendapatkan seorang lelaki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin du’aa seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakeenah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga.
Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tidak dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan keperibadian diri belum bisa menjadi contoh teladan.
Banyak orang mengaku cinta kepada ALLAH dan ALLAH hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang KHALIQ, kerana disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman.
Dengan kesusahan, ALLAH hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sedar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-NYA. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita kepada ALLAH, agar kita terhindar dari cinta palsu.
Dan ALLAH tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-NYA yang betul-betul berkorban demi ALLAH semata. Untuk membuktikan cinta kita kepada-NYA, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
1) Iman yang kuat.
2) Ikhlas dalam beramal.
3) Mempersiapkan kebaikan internal dan eksternal. Kebaikan internal iaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunnah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada ALLAH, dengan keistiqhomahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian Insya-ALLAH kita akan menggapai cinta dan keredhaan-NYA.
Rumah tangga, percintaan mahupun persahabatan, harus meletakkan ALLAH di hadapan dulu. Seterusnya harus menanamkan sifat kesabaran, bertolak-ansur dan senantiasa beristiqhomah dalam melakukan ibadah. (Segala-galanya Lillahi Ta’ala semata.)
KEDUNIAAN banyak DAYA PENARIKNYA, SESIAPA yang LEMAH IMANNYA akan TERPIKAT dengan KEINDAHANNYA lalu MENCINTAINYA. Maka LUPALAH dia kepada ALLAH dan kepada AKHIRAT yang kesemua orang akan KEMBALI KEPADANYA...Apakah Benar Ada Cinta Sesama Manusia, Yang Selalu Diperkatakan Manusia.. Sedangkan Dalam Berkasih Sayang Manusia Tak Punya Ketulusan Kejujuran Dan Keikhlasan Sebagaimana Yang Diharap Di Dambakan. Cinta Yang Hakiki Adalah MenyempurnaKan Dunia Akhiratnya.
Ahad, 29 November 2009
Syart kalimat laa illallah yg hrs dipenuhi
Pada awal tulisan ini kami telah menjelaskan mengenai keutamaan laa ilaha illallah, di mana kalimat ini adalah sebaik-baik dzikir dan akan mendapatkan buah yang akan diperoleh di dunia dan di akhirat. Namun, perlu diketahui bahwasanya kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima dengan hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah dan keliru dalam memahami hadits-hadits tentang keutamaan laa ilaha illallah. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan –misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa neraka. Hal ini tidaklah demikian.
Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan,”Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”
Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah?” Beliau rahimahullah menjawab,”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar I/179-180)
Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah
Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :
[1] Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan (bodoh)
[2] Yakin yang meniadakan keragu-raguan
[3] Menerima yang meniadakan sikap menentang
[4] Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan
[5] Jujur yang meniadakan dusta
[6] Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’
[7] Cinta yang meniadakan benci
Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut.
Syarat pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah
Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad [47] : 19)
Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui dengan benar (laa ilaha illallah) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az Zukhruf : 86)
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar [39] : 9)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35] : 28)
Dalam kitab shohih dari ‘Utsman, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim no.145)
Syarat kedua adalah meyakini kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.
Allah Ta’ala memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan sifat tidak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49] : 15)
Apabila seseorang ragu-ragu dalam keimanannya, maka termasuklah dia dalam orang-orang munafik –wal ‘iyadzu billah [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini]. Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”(QS. At Taubah : 45)
Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaha illallah akan masuk surga dengan syarat yakin dan tanpa ada keraguan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga” (HR. Muslim no. 147)
Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)
Syarat ketiga adalah menerima kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya.
Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah Ta’ala,
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".(Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf [43] : 23-25)
Dalam kitab shohih dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
« مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ » .
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalah orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2093. Lihat juga Syarh An Nawawi, 7/483 dan Fathul Bari , 1/130)
Syarat keempat adalah inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah
Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat laa ilaha illallah.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31] : 22). Yang dimaksudkan dengan ‘telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh’ adalah telah berpegang dengan laa ilaha illallah.
Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan untuk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah dan inilah yang disebut muwahhid (orang yang bertauhid) yang berbuat ihsan (kebaikan). Maka barangsiapa tidak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia bukanlah orang yang berpegang teguh dengan buhul tali yang kuat yaitu kalimat laa ilaha illallah. Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya,
وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)
“Dan barangsiapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” (QS. Luqman [31] : 23-24).
(Jadi perbedaan qobul (menerima, syarat ketiga) dengan inqiyad (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut. Qobul itu terkait dengan hati dan lisan. Sedangkan inqiyad terkait dengan ketundukkan anggota badan,ed).
Syarat kelima adalah jujur dalam mengucapkannya
Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas laa ilaha illallah harus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.
Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang munafik -karena kedustaan mereka- pada firman-Nya,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit , lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah [2] : 8-10).
Begitu juga pada firman-Nya,
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1)
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun [63] : 1)
Untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka tidak hanya cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid tersebut, tetapi juga harus disertai dengan pembenaran (kejujuran) dalam hati. Maka semata-mata diucapkan tanpa disertai dengan kejujuran dalam hati, tidaklah bermanfaat.
Lihatlah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)
Syarat keenam adalah ikhlas dalam beramal
Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik.
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang ikhlas (bersih dari syirik).” (QS. Az Zumar [39] : 3)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka sembahlah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya.” (QS. Az Zumar [39] : 2)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari no. 99)
Syarat ketujuh adalah mencintai kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya. Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat laa ilaha illallah, dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.
Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2] : 165)
Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang-orang mukmin sangat cinta kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam cinta ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga membenci apa yang dibenci Allah walaupun dia condong padanya. Sebagai bentuk cinta pada Allah adalah mencintai wali Allah dan Rasul-Nya serta membenci musuhnya, juga mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencocoki jalan hidupnya dan menerima petunjuknya.
(Pembahasan syarat laa ilaha illallah ini diringkas dari dua kitab: (1) Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan (2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184)
Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan keutamaan laa ilaha illallah. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan laa ilaha illallah bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/ praktek (tanpa mesti dihafal). Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min.
Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan,”Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”
Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah?” Beliau rahimahullah menjawab,”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar I/179-180)
Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah
Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :
[1] Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan (bodoh)
[2] Yakin yang meniadakan keragu-raguan
[3] Menerima yang meniadakan sikap menentang
[4] Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan
[5] Jujur yang meniadakan dusta
[6] Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’
[7] Cinta yang meniadakan benci
Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut.
Syarat pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah
Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad [47] : 19)
Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui dengan benar (laa ilaha illallah) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az Zukhruf : 86)
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar [39] : 9)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35] : 28)
Dalam kitab shohih dari ‘Utsman, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim no.145)
Syarat kedua adalah meyakini kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.
Allah Ta’ala memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan sifat tidak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49] : 15)
Apabila seseorang ragu-ragu dalam keimanannya, maka termasuklah dia dalam orang-orang munafik –wal ‘iyadzu billah [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini]. Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”(QS. At Taubah : 45)
Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaha illallah akan masuk surga dengan syarat yakin dan tanpa ada keraguan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga” (HR. Muslim no. 147)
Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)
Syarat ketiga adalah menerima kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya.
Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah Ta’ala,
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".(Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf [43] : 23-25)
Dalam kitab shohih dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
« مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ » .
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalah orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2093. Lihat juga Syarh An Nawawi, 7/483 dan Fathul Bari , 1/130)
Syarat keempat adalah inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah
Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat laa ilaha illallah.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31] : 22). Yang dimaksudkan dengan ‘telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh’ adalah telah berpegang dengan laa ilaha illallah.
Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan untuk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah dan inilah yang disebut muwahhid (orang yang bertauhid) yang berbuat ihsan (kebaikan). Maka barangsiapa tidak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia bukanlah orang yang berpegang teguh dengan buhul tali yang kuat yaitu kalimat laa ilaha illallah. Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya,
وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)
“Dan barangsiapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” (QS. Luqman [31] : 23-24).
(Jadi perbedaan qobul (menerima, syarat ketiga) dengan inqiyad (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut. Qobul itu terkait dengan hati dan lisan. Sedangkan inqiyad terkait dengan ketundukkan anggota badan,ed).
Syarat kelima adalah jujur dalam mengucapkannya
Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas laa ilaha illallah harus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.
Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang munafik -karena kedustaan mereka- pada firman-Nya,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit , lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah [2] : 8-10).
Begitu juga pada firman-Nya,
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1)
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun [63] : 1)
Untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka tidak hanya cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid tersebut, tetapi juga harus disertai dengan pembenaran (kejujuran) dalam hati. Maka semata-mata diucapkan tanpa disertai dengan kejujuran dalam hati, tidaklah bermanfaat.
Lihatlah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)
Syarat keenam adalah ikhlas dalam beramal
Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik.
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang ikhlas (bersih dari syirik).” (QS. Az Zumar [39] : 3)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka sembahlah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya.” (QS. Az Zumar [39] : 2)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari no. 99)
Syarat ketujuh adalah mencintai kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya. Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat laa ilaha illallah, dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.
Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2] : 165)
Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang-orang mukmin sangat cinta kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam cinta ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga membenci apa yang dibenci Allah walaupun dia condong padanya. Sebagai bentuk cinta pada Allah adalah mencintai wali Allah dan Rasul-Nya serta membenci musuhnya, juga mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencocoki jalan hidupnya dan menerima petunjuknya.
(Pembahasan syarat laa ilaha illallah ini diringkas dari dua kitab: (1) Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan (2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184)
Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan keutamaan laa ilaha illallah. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan laa ilaha illallah bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/ praktek (tanpa mesti dihafal). Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min.
Sabtu, 28 November 2009
Peganglah api bila teringatkan zina
Ada seorang pemuda soleh yang sangat patuh kepada perintah agamanya dan sentiasa menjaga diri daripada segala rupa maksiat dan keburukan,sehingga pada suatu malam terlintas di dalam hatinya hendak berzina dengan seorang gadis jelita kerana terpesona dengan kejelitaannya.
Kebetulan pada ketika itu, disampingnya ada sebuah pelita yang sedang baru dinyalakan untuk menerangi rumah pemuda soleh itu. Maka dia pun terus menajamkan pandangannya kepada api yang sedang bernyala-nyala pada sumbu pelita itu. Kemudian dia berbisik pada dirinya sendiri:
;Engkau mengajak aku melakukan perbuatan terkutuk dengan wanita itu? Baiklah, aku akan letakkan jariku ini di atas sumbu pelita yang menyala itu. Kiranya ia tahu panasnya, nescaya aku akan turutkan kemahuanmu itu.''
Maka pemuda soleh itu pun meletakkan jarinya di atas sumbu tadi. Dan dia cuba menahan diri daripada kepanasannya, sehingga hampir-hampir nyawanya akan tercabut kerana tidak tahan panas yang dideritanya itu. Lalu dia berteriak:
;Wahai diriku,tahniahlah engkau! Rupanya engkau tidak tahan,padahal api dunia itu tersangatlah sejuk berbanding api neraka. Kalau hanya menghadapi api dunia, engkau sudah tidak tahan,apatah lagi menghadapi api neraka yang panasnya berkali-kali ganda lebih dasyat dari api dunia ini.
Lalu orang soleh itu pun berpaling daripada niatnya yang mula-mula tadi. Sejak peristiwa itu hatinya tidak pernah diganggu lagi oleh lintasan buruk seperti itu.
Surah An-nisa,ayat 31:
;Jika kamu menjauhkan dosa-dosa besar yang dilarang kamu melakukannya, Kami akan ampunkan kesalahan-kesalahan (dosa kecil) kamu dan kami akan masukkan kamu ke tempat yang mulia (Syurga)
Surah Al-Israak,ayat 32:
Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan)."
Kebetulan pada ketika itu, disampingnya ada sebuah pelita yang sedang baru dinyalakan untuk menerangi rumah pemuda soleh itu. Maka dia pun terus menajamkan pandangannya kepada api yang sedang bernyala-nyala pada sumbu pelita itu. Kemudian dia berbisik pada dirinya sendiri:
;Engkau mengajak aku melakukan perbuatan terkutuk dengan wanita itu? Baiklah, aku akan letakkan jariku ini di atas sumbu pelita yang menyala itu. Kiranya ia tahu panasnya, nescaya aku akan turutkan kemahuanmu itu.''
Maka pemuda soleh itu pun meletakkan jarinya di atas sumbu tadi. Dan dia cuba menahan diri daripada kepanasannya, sehingga hampir-hampir nyawanya akan tercabut kerana tidak tahan panas yang dideritanya itu. Lalu dia berteriak:
;Wahai diriku,tahniahlah engkau! Rupanya engkau tidak tahan,padahal api dunia itu tersangatlah sejuk berbanding api neraka. Kalau hanya menghadapi api dunia, engkau sudah tidak tahan,apatah lagi menghadapi api neraka yang panasnya berkali-kali ganda lebih dasyat dari api dunia ini.
Lalu orang soleh itu pun berpaling daripada niatnya yang mula-mula tadi. Sejak peristiwa itu hatinya tidak pernah diganggu lagi oleh lintasan buruk seperti itu.
Surah An-nisa,ayat 31:
;Jika kamu menjauhkan dosa-dosa besar yang dilarang kamu melakukannya, Kami akan ampunkan kesalahan-kesalahan (dosa kecil) kamu dan kami akan masukkan kamu ke tempat yang mulia (Syurga)
Surah Al-Israak,ayat 32:
Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan)."
Hukum meninggalkan sembahyang
Sesiapa yang melaksanakanya bererti ia telah mendirikan agamanya, dan sebaliknya apabila ia meninggalkannya maka bererti ia telah meruntuhkan agamanya.Dari hadis ini dapat difahami bahawa meninggalkan sembahyang dengan sengaja itu mempunyai hukum yang sangat berat.
Untuk menjelaskan persoalan tersebut marilah wahai saudara ku sekelian kita merenung dan melihat tentang sebuah hadis Rasulullah s.a.w. yang antara lain bermaksud:"Daripada Jabir r.a bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: Perbezaan antara kufur dan iman itu ialah meninggalkan sembahyang" Hadis di atas dengan tegas menerangkan kepada kita bahawa perbezaan antara seorang yang mukmin dengan seorang yang kafir itu sudah dapat dilihat dari sudut zahirnya dengan meninggalkan sembahyang.
Ertinya menurut zahir hadis ini sudah cukup untuk menjadi kafir hanya dengan meninggalkan sembahyang. Walaubagaimana pun menurut pandangan ulama hukum mereka yang meninggalkan sembahyang dapat dilihat dari berbagai sudut. Antaranya ialah mereka yang meninggalkan sembahyang dengan satu keyakinan bahawa sembahyang itu tidak menjadi kewajipan terhadap dirinya. Atau dengan ia mengatakan sembahyang itu tidak wajib ke atasnya. Maka ijma al-muslimin orang yang berkenaan telah jatuh kafir dan pada saat tersebut terkeluarlah ia dari agama Islam.
Kedua mereka yang meninggalkan sembahyang kerana malas dan masih beriktikad tentang kewajipan sembahyang tersebut.Keadaan ini terdapat beberapa pandangan ulama: Imam Malik,Imam Syafe'i, jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat tidak jatuh kafir sebaliknya menjadi fasik dan diarahkan supaya bertaubat orang tersebut.Andaikata ia enggan bertaubat maka hendaklah ia dibunuh dengan dipancung. Manakala sebahagian dari golongan salaf menghukumkan kafir orang yang meninggalkan sembahyang disebabkan oleh malas. Pendapat ini diriwayatkan dari Saidina 'Ali k.w.dan Imam Ahmad bin Hanbal.Manakala Abu Hanifah dan sekumpulan ulama dari Kufah berpendapat tidak kufur dan tidak dihukun bunuh sebaliknya dikenakan hukuman ta'kzir dan dipenjara sehingga ia mahu menunaikan kewajipan sembahyang.
Kesimpulan
Oleh kerana sembahyang merupakan tiang agama, dan hukum meninggalkanya terlalu berat, maka wahai saudara ku sekelian! Sebelum terlambat marilah kita bersegera menunaikan hak Allah S.W.T ke atas kita dengan mengerjakan sembahyang. Kerana Allah S.W.T. telah memperingatkan kepada kita dengan firmanNya yang antara lain bermaksud: "Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka" Kata-kata hukama menyebutkan "Sembahyanglah anda sebelum anda disembahyangkan".
Mudah-mudahan kita diperlihara dan diberikan taufik dan hidayah dalam melaksanakan ibadah sembahyang
Untuk menjelaskan persoalan tersebut marilah wahai saudara ku sekelian kita merenung dan melihat tentang sebuah hadis Rasulullah s.a.w. yang antara lain bermaksud:"Daripada Jabir r.a bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: Perbezaan antara kufur dan iman itu ialah meninggalkan sembahyang" Hadis di atas dengan tegas menerangkan kepada kita bahawa perbezaan antara seorang yang mukmin dengan seorang yang kafir itu sudah dapat dilihat dari sudut zahirnya dengan meninggalkan sembahyang.
Ertinya menurut zahir hadis ini sudah cukup untuk menjadi kafir hanya dengan meninggalkan sembahyang. Walaubagaimana pun menurut pandangan ulama hukum mereka yang meninggalkan sembahyang dapat dilihat dari berbagai sudut. Antaranya ialah mereka yang meninggalkan sembahyang dengan satu keyakinan bahawa sembahyang itu tidak menjadi kewajipan terhadap dirinya. Atau dengan ia mengatakan sembahyang itu tidak wajib ke atasnya. Maka ijma al-muslimin orang yang berkenaan telah jatuh kafir dan pada saat tersebut terkeluarlah ia dari agama Islam.
Kedua mereka yang meninggalkan sembahyang kerana malas dan masih beriktikad tentang kewajipan sembahyang tersebut.Keadaan ini terdapat beberapa pandangan ulama: Imam Malik,Imam Syafe'i, jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat tidak jatuh kafir sebaliknya menjadi fasik dan diarahkan supaya bertaubat orang tersebut.Andaikata ia enggan bertaubat maka hendaklah ia dibunuh dengan dipancung. Manakala sebahagian dari golongan salaf menghukumkan kafir orang yang meninggalkan sembahyang disebabkan oleh malas. Pendapat ini diriwayatkan dari Saidina 'Ali k.w.dan Imam Ahmad bin Hanbal.Manakala Abu Hanifah dan sekumpulan ulama dari Kufah berpendapat tidak kufur dan tidak dihukun bunuh sebaliknya dikenakan hukuman ta'kzir dan dipenjara sehingga ia mahu menunaikan kewajipan sembahyang.
Kesimpulan
Oleh kerana sembahyang merupakan tiang agama, dan hukum meninggalkanya terlalu berat, maka wahai saudara ku sekelian! Sebelum terlambat marilah kita bersegera menunaikan hak Allah S.W.T ke atas kita dengan mengerjakan sembahyang. Kerana Allah S.W.T. telah memperingatkan kepada kita dengan firmanNya yang antara lain bermaksud: "Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka" Kata-kata hukama menyebutkan "Sembahyanglah anda sebelum anda disembahyangkan".
Mudah-mudahan kita diperlihara dan diberikan taufik dan hidayah dalam melaksanakan ibadah sembahyang
Tentang menerima ilmu
Tentang menerima ilmu 1
3 keadaan tanah pertama itu…
Bumi yang di sirami air hujan…
yang ketandusan di sirami air…
lalu subur dan ditumbuhi tumbuhan…
kedua itu bumi yang keras di sirami air hujan…
air menjadi bertakung dan tanah tidak…
dapat di serapi air…
ketiga itu bumi keras dan rata di sirami air hujan…
walapun tanahnya basah ia tidak dapat meresap dalam tanah…
ia jaga air itu agar bertakung dan tidak hilang…
perumpamaan 3 jenis manusia dalam mendengar ilmu agama…
pertama itu yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami hingga ia amalkan ilmu itu dalam kehidupan…
kemudian di sebarkan pada orang lain…
juga mengajar kepada orang lain…
jenis orang yang punyai sifat terpuji…
dalam mendengar majlis ilmu…
manusia yang fahami ajaran agama dan amalkan…
kedua itu orang yang belajar agama…
orang yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami ilmu itu, Cuma ilmu itu…
tidak memberi mafaat pada dirinya…
tapi ia sampaikan pada orang lain…
ilmunya itu seperti air yang di minum orang lain…
ketiga itu jenis yang walapun mendengar majlis ilmu…
telah sampai ajaran islam padanya…
tetapi ia tidak dapat amalkan…
Cuma dapat sampikan pada orang lain…
Ilmu yang di dengar itu sekadar ilmu…
Tanpa meresap dalam hati dan kehidupanya…
Di utuskan Allah kepada manusia akan nabi…
Untuk sampikan ajaran islam dengan ilmu agama…
Menjadi nabi itu pemimpin umat…
Agar manusia hidup dalam ajaran islam…
Agar manusia hidup dalam mengamalkan ajaran Allah…
Tentang menerima ilmu 2
Golongan yang mendapat petunjuk itu…
Menjadikan nabi sebagi pimpinannya…
Dengan segala ajaran nabi itu di ikutinya…
Dalam apa-apa perbuatan dan amalannya…
Kehidupan dengan beramal dengan syariat…
Agama yang di bawa nabi…
Hidup dengan dapat petunjuk dan hidayah dari Allah…
Ajaran yang Allah sampaikan pada nabi…
Bukan semua yang terima dan bukan semua menolak…
Ada yang terima dan ada yang tolak…
Ada yang terima sebahagian dan ada yang tolak sebahagian…
Ada juga yang menerimanya sepenuhnya…
Golongan para sahabat nabi adalah…
Golongan yang ketaatannya pada ajaran Allah…
Berjaya di rakamkan dalam alquran…
Dengan kami dengar dan kami patuh…
Samikna wa’atukna sahabat menerima ajaran…
Sahabat nabi menerima sepenuhnya ajaran dari nabi…
Di zaman nabi juga telah wujud beberapa golongan…
Hingga Allah rakamkan dalam alquran…
Golongan mutakin, golongan kafir dan golongan munafik…
Zaman kini telah wujud manusia yang lahirnya islam…
Tapi zahirnya juga perbuatanya ia tolak islam…
Perbuatannya bukan mencerminkan ia islam…
Wujud golongan yang benci ajaran islam…
Golongan yang sembunyikan kekafirannya…
Di zaman nabi, golongan munafik di ketahui…
Setelah turunnya wahyu dari Allah…
Walupun nabi tahu orang munafik…
Tapi merahsiakan dengan harapan mudah-mudahan…
Golongan ini masuk islam…
Seperti tanah keras timpa hujan…
Walupun ia basah tapi tidak resap dalam hatinya…
Walaupun mendengar dan belajar ilmu islam…
Ilmu itu tidak masuk dalam hatinya…
Sekadar di hafal dan di ceritakan pada orang lain…
Walupun ajaran islam sampai padanya, tapi tidak ambil mafaat…
3 golongan yang ada terima, ada yang tolak…
Ada yang terima setengah dan tolak setegah ajaran islam…
Adakah kita beriman dan terima setengah kitab…
Dan kita tolak setengah kitab ajaran islam?...
Tentang menerima ilmu 3 (akhir)
Hati manusia dengan ajaran islam…
Dengan ilmu pengetahuan islam itu ibarat…
Bumi dengan air hujan yang menimpa meresap dalam tanah…
Manusia dengan terima ilmu lalu hafal dan amalkan…
Dalam kehidupan dan ajarkan pada orang itu sebaik-baik manusia…
Mafaat dari ilmu orang di dengar dan di amalakan…
Manusia yang berhak di puji itu adalah…
Dengan ilmu yang di pelajari dan di amalakan…
Serta di ajar pada orang lain…
Kerana itu pujian wajar kita berikan kepada nabi…
Kepada para sahabat dengan gelaran yang Allah beri…
Ramai ini tidak suka lagi di beri gelaran dengan…
Muslim dan muslimat kerana itu pangkat yang Allah berikan…
Kepada umat islam atas usaha mereka…
Gelaran pangkat soleh, muflihun, mukarobin yang di…
Anugerahkan kepada umat islam…
Manusia kini sudah melupakan salam dan tidak suka…
Dengan ucapan salam apabila bertemu sesama islam…
Ucapan lain yang menjadi kesukaan mereka…
Kerana itu ucapan salam adalah ucapan…
Yang akan di beri pada pengunjung syurga…
Dari Allah sebagai tanda hormat…
Jadi rugilah dan malanglah bagi…
Yang tidak suka akan ucapan salam…
Semoga kita mempunyai hati yang meresap…
Ilmu agama dam amalkan dan ajarkan pada orang lain…
Ada yang belajar ilmu agama dan ilmu itu…
Ia mampu ajarkan pada orang lain…
Ilmunya banyak tapi dia sendiri tidak dapat…
Mafaat dari ilmunya kerana tidak dapat di amalkan...
Sekadar boleh ajar pada orang lain…
Dan orang lain yang dapat mafaatnya…
Tapi tidak pada dirinya sendiri…
Amat malanglah golongan ini….
Ilmu itu bukan sekadar di dengar, di hafal, tapi di amalkan…
Walaupun kuat beribadah, bila tiada ilmu…
Akan menjadi orang yang beribadah dalam kebodohan…
Bila berilmu dan di amalkan akan mencantikan ibadah…
Ibadah kita akan lebih di perhalusi dan di perbetulkan…
Bila faham dan di amalkan menjadikan…
Ibadah kita cantik dan sempurna…
Menjdikan kita insan yang mulia di sisi Allah…
3 keadaan tanah pertama itu…
Bumi yang di sirami air hujan…
yang ketandusan di sirami air…
lalu subur dan ditumbuhi tumbuhan…
kedua itu bumi yang keras di sirami air hujan…
air menjadi bertakung dan tanah tidak…
dapat di serapi air…
ketiga itu bumi keras dan rata di sirami air hujan…
walapun tanahnya basah ia tidak dapat meresap dalam tanah…
ia jaga air itu agar bertakung dan tidak hilang…
perumpamaan 3 jenis manusia dalam mendengar ilmu agama…
pertama itu yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami hingga ia amalkan ilmu itu dalam kehidupan…
kemudian di sebarkan pada orang lain…
juga mengajar kepada orang lain…
jenis orang yang punyai sifat terpuji…
dalam mendengar majlis ilmu…
manusia yang fahami ajaran agama dan amalkan…
kedua itu orang yang belajar agama…
orang yang mendengar majlis ilmu…
ia fahami ilmu itu, Cuma ilmu itu…
tidak memberi mafaat pada dirinya…
tapi ia sampaikan pada orang lain…
ilmunya itu seperti air yang di minum orang lain…
ketiga itu jenis yang walapun mendengar majlis ilmu…
telah sampai ajaran islam padanya…
tetapi ia tidak dapat amalkan…
Cuma dapat sampikan pada orang lain…
Ilmu yang di dengar itu sekadar ilmu…
Tanpa meresap dalam hati dan kehidupanya…
Di utuskan Allah kepada manusia akan nabi…
Untuk sampikan ajaran islam dengan ilmu agama…
Menjadi nabi itu pemimpin umat…
Agar manusia hidup dalam ajaran islam…
Agar manusia hidup dalam mengamalkan ajaran Allah…
Tentang menerima ilmu 2
Golongan yang mendapat petunjuk itu…
Menjadikan nabi sebagi pimpinannya…
Dengan segala ajaran nabi itu di ikutinya…
Dalam apa-apa perbuatan dan amalannya…
Kehidupan dengan beramal dengan syariat…
Agama yang di bawa nabi…
Hidup dengan dapat petunjuk dan hidayah dari Allah…
Ajaran yang Allah sampaikan pada nabi…
Bukan semua yang terima dan bukan semua menolak…
Ada yang terima dan ada yang tolak…
Ada yang terima sebahagian dan ada yang tolak sebahagian…
Ada juga yang menerimanya sepenuhnya…
Golongan para sahabat nabi adalah…
Golongan yang ketaatannya pada ajaran Allah…
Berjaya di rakamkan dalam alquran…
Dengan kami dengar dan kami patuh…
Samikna wa’atukna sahabat menerima ajaran…
Sahabat nabi menerima sepenuhnya ajaran dari nabi…
Di zaman nabi juga telah wujud beberapa golongan…
Hingga Allah rakamkan dalam alquran…
Golongan mutakin, golongan kafir dan golongan munafik…
Zaman kini telah wujud manusia yang lahirnya islam…
Tapi zahirnya juga perbuatanya ia tolak islam…
Perbuatannya bukan mencerminkan ia islam…
Wujud golongan yang benci ajaran islam…
Golongan yang sembunyikan kekafirannya…
Di zaman nabi, golongan munafik di ketahui…
Setelah turunnya wahyu dari Allah…
Walupun nabi tahu orang munafik…
Tapi merahsiakan dengan harapan mudah-mudahan…
Golongan ini masuk islam…
Seperti tanah keras timpa hujan…
Walupun ia basah tapi tidak resap dalam hatinya…
Walaupun mendengar dan belajar ilmu islam…
Ilmu itu tidak masuk dalam hatinya…
Sekadar di hafal dan di ceritakan pada orang lain…
Walupun ajaran islam sampai padanya, tapi tidak ambil mafaat…
3 golongan yang ada terima, ada yang tolak…
Ada yang terima setengah dan tolak setegah ajaran islam…
Adakah kita beriman dan terima setengah kitab…
Dan kita tolak setengah kitab ajaran islam?...
Tentang menerima ilmu 3 (akhir)
Hati manusia dengan ajaran islam…
Dengan ilmu pengetahuan islam itu ibarat…
Bumi dengan air hujan yang menimpa meresap dalam tanah…
Manusia dengan terima ilmu lalu hafal dan amalkan…
Dalam kehidupan dan ajarkan pada orang itu sebaik-baik manusia…
Mafaat dari ilmu orang di dengar dan di amalakan…
Manusia yang berhak di puji itu adalah…
Dengan ilmu yang di pelajari dan di amalakan…
Serta di ajar pada orang lain…
Kerana itu pujian wajar kita berikan kepada nabi…
Kepada para sahabat dengan gelaran yang Allah beri…
Ramai ini tidak suka lagi di beri gelaran dengan…
Muslim dan muslimat kerana itu pangkat yang Allah berikan…
Kepada umat islam atas usaha mereka…
Gelaran pangkat soleh, muflihun, mukarobin yang di…
Anugerahkan kepada umat islam…
Manusia kini sudah melupakan salam dan tidak suka…
Dengan ucapan salam apabila bertemu sesama islam…
Ucapan lain yang menjadi kesukaan mereka…
Kerana itu ucapan salam adalah ucapan…
Yang akan di beri pada pengunjung syurga…
Dari Allah sebagai tanda hormat…
Jadi rugilah dan malanglah bagi…
Yang tidak suka akan ucapan salam…
Semoga kita mempunyai hati yang meresap…
Ilmu agama dam amalkan dan ajarkan pada orang lain…
Ada yang belajar ilmu agama dan ilmu itu…
Ia mampu ajarkan pada orang lain…
Ilmunya banyak tapi dia sendiri tidak dapat…
Mafaat dari ilmunya kerana tidak dapat di amalkan...
Sekadar boleh ajar pada orang lain…
Dan orang lain yang dapat mafaatnya…
Tapi tidak pada dirinya sendiri…
Amat malanglah golongan ini….
Ilmu itu bukan sekadar di dengar, di hafal, tapi di amalkan…
Walaupun kuat beribadah, bila tiada ilmu…
Akan menjadi orang yang beribadah dalam kebodohan…
Bila berilmu dan di amalkan akan mencantikan ibadah…
Ibadah kita akan lebih di perhalusi dan di perbetulkan…
Bila faham dan di amalkan menjadikan…
Ibadah kita cantik dan sempurna…
Menjdikan kita insan yang mulia di sisi Allah…
Ahad, 22 November 2009
SINAR IMPIAN............
Deru angin pagi dingin menyapa tubuh,
Kicauan beburung mendendangkan lagu kenangan lalu,
lambayan dedaun seolah-olah bak tarian gemalai,
Jauh ku tenung sejarah kisah silam ku yang penuh onak dan ranjau,
Harapan dijulang mengapai cita-cita,
Pasrah pada sejarah hidupku,
Hikmah menanti dihadapan,
Aku tempuhi cabaran kelmarin dan hari ini,
Untuk esok diharapkan menjadi buah,
Buah yang enak untuk menjadi santapan,
Hidangan kepada mereka-mereka yang sangat ku kasihi.
Ku impikan kebahagiaan hakiki,
Sinar itu pasti akan wujud datang dari Allah yang Esa.
Sinar Impianku..
Kicauan beburung mendendangkan lagu kenangan lalu,
lambayan dedaun seolah-olah bak tarian gemalai,
Jauh ku tenung sejarah kisah silam ku yang penuh onak dan ranjau,
Harapan dijulang mengapai cita-cita,
Pasrah pada sejarah hidupku,
Hikmah menanti dihadapan,
Aku tempuhi cabaran kelmarin dan hari ini,
Untuk esok diharapkan menjadi buah,
Buah yang enak untuk menjadi santapan,
Hidangan kepada mereka-mereka yang sangat ku kasihi.
Ku impikan kebahagiaan hakiki,
Sinar itu pasti akan wujud datang dari Allah yang Esa.
Sinar Impianku..
Selawat pelindung diri
Tawassalna bi bismillah Wa bil hadi rasulillah [2x]Wa kulli 'arifin billahWa ahlillahi ya Allah [2x] Wa AllahSyumu silhudaShuyukhil waraaNujuu min nada [2x]Bihinnas lahu min kulli azaBi qadrillahi ya Allah
"Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan petunjuk Rasulullah dan setiap orang yang arif mengenai Allah dan ahli Allah, Ya Allah… Ya Allah! Dengan perantaraan kaum yang mulia, cahaya hidayah, dengan perantaraan amalan kebaikan mereka, kami selamat dari setiap malapetaka dengan kekuatanMu, ya Allah..."
Fadhilatnya: Barangsiapa banyak membaca selawat ini setiap hari akan memperolehi keselamatan dan pertolongan Allah dengan wasilah/perantaraan Nabi Muhammad saw
"Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan petunjuk Rasulullah dan setiap orang yang arif mengenai Allah dan ahli Allah, Ya Allah… Ya Allah! Dengan perantaraan kaum yang mulia, cahaya hidayah, dengan perantaraan amalan kebaikan mereka, kami selamat dari setiap malapetaka dengan kekuatanMu, ya Allah..."
Fadhilatnya: Barangsiapa banyak membaca selawat ini setiap hari akan memperolehi keselamatan dan pertolongan Allah dengan wasilah/perantaraan Nabi Muhammad saw
Hati Adalah Radar Yang Ajaib
Pernahkah anda rasa berdebar-debar, gelisah, tidak tenteram, tidak sedap hati dan sebagainya?Semua fenomena itu sebenarnya adalah isyarat yang dipancarkan oleh hati seseorang bahawa ada sesuatu yang menjadi ancaman kepada diri manusia dan ianya dapat dikesan oleh hati.
Sabda Rasullulah s.a.w: Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'
Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.
Hati adalah radar yang hebat untuk mengesan perbuatan manusia, sama ada mengesan perkara yang baik atau buruk. Apabila kita melakukan perbuatan yang berdosa, kita akan mudah untuk rasa berdebar-debar dan cemas.Seterusnya ia akan menyebabkan kita rasa gelisah dan tertekan.
Isyarat ini sebenarnya bertujuan untuk menyuruh supaya seseorang untuk kembali pada Allah. Apabila kita memohon keampunan dan bertaubat maka hati kita akan kembali tenang.Hati yang berpenyakit dari segi batin perlu dirawat seberapa segera kerana ianya bukan sahaja memberikan kemudaratan pada ketenteraman jiwa malah boleh menyebabkan penyakit pada anggota badan.
Bagaimana hati mendapat tenaga dan kekuatan?
Makanan hati adalah taqwa kepada Allah.Zikir, membaca Al-Quran, menuntut ilmu agama, memberi zakat, bersedekah dan berbaik sangka adalah makanan hati yang enak dan lazat. Jika hati tidak diberi makan, maka seseorang itu akan menghidap penyakit batin dan zahir.Dengan cara memberikan makanan pada hati,barulah seseorang berhak untuk memperolehi kebahagiaan.
Apakah cara untuk merawat hati yang berpenyakit dan menghidupkan hati yang mati?
Caranya ialah dengan bertaubat.Meminta keampunan, mengingati kematian dan sentiasa melakukan amal kebajikan.Ini akan memulihkan dan menghidupkan semula hati.
Hanya dengan mengingati Allah seperti dalam firman Allah;
'(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.' (Ar-Ra'd :28)
Apabila hati kita mendustakan ayat-ayat Allah maka termasuklah kita dalam kategori hati yang berpenyakit sepertimana firmanNya;
'Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.' (Al-Baqarah:10)
Oleh itu,apabila hati kita mengesan sesuatu yang tidak menyenangkan maka marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum hati kita menjadi keras.Ingatlah pesananNya yang bermaksud:
'Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.'(Al-Hadid:16)
Sabda Rasullulah s.a.w: Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'
Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.
Hati adalah radar yang hebat untuk mengesan perbuatan manusia, sama ada mengesan perkara yang baik atau buruk. Apabila kita melakukan perbuatan yang berdosa, kita akan mudah untuk rasa berdebar-debar dan cemas.Seterusnya ia akan menyebabkan kita rasa gelisah dan tertekan.
Isyarat ini sebenarnya bertujuan untuk menyuruh supaya seseorang untuk kembali pada Allah. Apabila kita memohon keampunan dan bertaubat maka hati kita akan kembali tenang.Hati yang berpenyakit dari segi batin perlu dirawat seberapa segera kerana ianya bukan sahaja memberikan kemudaratan pada ketenteraman jiwa malah boleh menyebabkan penyakit pada anggota badan.
Bagaimana hati mendapat tenaga dan kekuatan?
Makanan hati adalah taqwa kepada Allah.Zikir, membaca Al-Quran, menuntut ilmu agama, memberi zakat, bersedekah dan berbaik sangka adalah makanan hati yang enak dan lazat. Jika hati tidak diberi makan, maka seseorang itu akan menghidap penyakit batin dan zahir.Dengan cara memberikan makanan pada hati,barulah seseorang berhak untuk memperolehi kebahagiaan.
Apakah cara untuk merawat hati yang berpenyakit dan menghidupkan hati yang mati?
Caranya ialah dengan bertaubat.Meminta keampunan, mengingati kematian dan sentiasa melakukan amal kebajikan.Ini akan memulihkan dan menghidupkan semula hati.
Hanya dengan mengingati Allah seperti dalam firman Allah;
'(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.' (Ar-Ra'd :28)
Apabila hati kita mendustakan ayat-ayat Allah maka termasuklah kita dalam kategori hati yang berpenyakit sepertimana firmanNya;
'Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.' (Al-Baqarah:10)
Oleh itu,apabila hati kita mengesan sesuatu yang tidak menyenangkan maka marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum hati kita menjadi keras.Ingatlah pesananNya yang bermaksud:
'Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.'(Al-Hadid:16)
DOA SEWAKTU BERSUJUD DAN KEISTIMEWAANNYA
Sewaktu bersujud, kita berada amat hampir dengan Allah. Katakanlah apa
sahaja di dalam hati hajat kita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
s. a. w. yang biasa memanjangkan sujudnya dengan memperbanyakkan zikir dan
doa didalamnya.
Sabda Rasulullah s. a. w :- "Suasana yang paling hampir antara seseorang
hamba dengan Tuhannya ialah di kala ia bersujud kerana itu hendaklah kamu
memperbanyakkan doa di dalamnya."
Banyak doa yang diamalkan oleh Rasulullah untuk kita ikuti. Sala h satunya
yang paling baik untuk diamalkan ialah doa yang dibaca sewaktu sujud akhir
dalam solat.
"Ya Allah, tambahkanlah bagiku rezeki yang banyak lagi halal, imam yang
benar, ilmu yang bermanfaat, kesihatan yang elok, kecerdikan yang tinggi,
hati yang bersih dan kejayaan yang besar."
Semoga dengan mengamalkan doa itu kita mendapat manfaat atau
sekurang-kurangnya menjadi cita-cita kita dalam mencari keredhaan Allah
dunia dan akhirat.
Banyak kelebihan memanjangkan sujud dan memperbanyakkan doa di dalamnya.
Rasulullah s. a. w biasa berbuat begitu sehingga pernah para sahabat hairan
kerana lamanya baginda bersujud.
Keistimewaan umatnya yang bersujud telah disebut oleh baginda dalam
sabdanya yang bermaksud:-
"Tiadalah ada seorang umatku melainkan aku yang akan mengenalinya di hari
kiamat"
Mendengar itu para sahabat bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenali
mereka dalam khalayak ramai wahai Rasulullah?"
Jawab baginda: "Tidakkah engkau melihat seandainya sekumpulan unta dimasuki
oleh seekor kuda yang amat hitam, sedang di dalamnya pula terdapat sekor
kuda putih bersih, maka adakah engkau tidak dapat mengenalinya?"
Sahabat Menjawab: "Bahkan !" Rasulullah menyambung: "Kerana sesungguhnya
pada hari itu (kiamat) muka umatku akan putih (berser-seri) disebabkan
mereka bersujud (di dunia), segala anggota mereka ( terutama anggota wudu')
putih berseri-seri oleh cahaya wudhu' !!!"
KEISTIMEWAANNYA
------------ ---------
Ahli neraka juga mendapat keselamatan kerana bekas sujudnya. Rasulullah s.a. w. bersabda yang bermaksud:-
"Apabila Allah hendak melimpahkan Rahmat (kebaikan) kepada ahli-ahli neraka
yang Dia kehendaki, Dia pun memerintahkan malaikat supaya mengeluarkan
orang-orang yang menyembah Allah, lalu mereka dikeluarkan dan mereka
dikenali dengan kesan-kesan sujud (di dahi mereka), di mana Allah menegah
neraka memakan (menghapuskan) bekas-bekas sujud itu, lalu mereka pun keluar
dari neraka, maka setiap tubuh anak Adam akan dimakan api neraka selain
bekas sujud"
Begitulah Allah memuliakan hamba-Nya yang bersujud. Orang yang sujud
mendapat keistimewaannya apatah lagi di dalam sujud itu kita berdoa. Sudah
tentu mendapat perhatian yang sewajarnya. Semoga kita akan menjadi hamba
yang benar-benar mendapat rahmat.
sahaja di dalam hati hajat kita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
s. a. w. yang biasa memanjangkan sujudnya dengan memperbanyakkan zikir dan
doa didalamnya.
Sabda Rasulullah s. a. w :- "Suasana yang paling hampir antara seseorang
hamba dengan Tuhannya ialah di kala ia bersujud kerana itu hendaklah kamu
memperbanyakkan doa di dalamnya."
Banyak doa yang diamalkan oleh Rasulullah untuk kita ikuti. Sala h satunya
yang paling baik untuk diamalkan ialah doa yang dibaca sewaktu sujud akhir
dalam solat.
"Ya Allah, tambahkanlah bagiku rezeki yang banyak lagi halal, imam yang
benar, ilmu yang bermanfaat, kesihatan yang elok, kecerdikan yang tinggi,
hati yang bersih dan kejayaan yang besar."
Semoga dengan mengamalkan doa itu kita mendapat manfaat atau
sekurang-kurangnya menjadi cita-cita kita dalam mencari keredhaan Allah
dunia dan akhirat.
Banyak kelebihan memanjangkan sujud dan memperbanyakkan doa di dalamnya.
Rasulullah s. a. w biasa berbuat begitu sehingga pernah para sahabat hairan
kerana lamanya baginda bersujud.
Keistimewaan umatnya yang bersujud telah disebut oleh baginda dalam
sabdanya yang bermaksud:-
"Tiadalah ada seorang umatku melainkan aku yang akan mengenalinya di hari
kiamat"
Mendengar itu para sahabat bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenali
mereka dalam khalayak ramai wahai Rasulullah?"
Jawab baginda: "Tidakkah engkau melihat seandainya sekumpulan unta dimasuki
oleh seekor kuda yang amat hitam, sedang di dalamnya pula terdapat sekor
kuda putih bersih, maka adakah engkau tidak dapat mengenalinya?"
Sahabat Menjawab: "Bahkan !" Rasulullah menyambung: "Kerana sesungguhnya
pada hari itu (kiamat) muka umatku akan putih (berser-seri) disebabkan
mereka bersujud (di dunia), segala anggota mereka ( terutama anggota wudu')
putih berseri-seri oleh cahaya wudhu' !!!"
KEISTIMEWAANNYA
------------ ---------
Ahli neraka juga mendapat keselamatan kerana bekas sujudnya. Rasulullah s.a. w. bersabda yang bermaksud:-
"Apabila Allah hendak melimpahkan Rahmat (kebaikan) kepada ahli-ahli neraka
yang Dia kehendaki, Dia pun memerintahkan malaikat supaya mengeluarkan
orang-orang yang menyembah Allah, lalu mereka dikeluarkan dan mereka
dikenali dengan kesan-kesan sujud (di dahi mereka), di mana Allah menegah
neraka memakan (menghapuskan) bekas-bekas sujud itu, lalu mereka pun keluar
dari neraka, maka setiap tubuh anak Adam akan dimakan api neraka selain
bekas sujud"
Begitulah Allah memuliakan hamba-Nya yang bersujud. Orang yang sujud
mendapat keistimewaannya apatah lagi di dalam sujud itu kita berdoa. Sudah
tentu mendapat perhatian yang sewajarnya. Semoga kita akan menjadi hamba
yang benar-benar mendapat rahmat.
Tanda-tanda Taubat Diterima ALLAH
Seorang ahli hikmah ditanya mengenai taubat. Bagaimanakah kita hendak mengetahui taubat kita telah diterima Allah atau tidak? Maka jawabnya, ini adalah urusan Allah,kita tidak berupaya menentukannya,...tetapi kita boleh melihat pada tanda-tandanya iaitu:
1. Bagi hamba-hamba yang bertaubat itu bila dia merasakan di dalam dirinya masih ada dosa-dosa yang masih belum terhakis.
2. Hatinya lebih tenteram dan suka mendekati orang-orang yang solih daripada mendekati mereka-mereka yang fasik.
3. Bila dia merasakan di dalam dirinya telah hilang perasaan gembira, sebaliknya sentiasa datang perasaan sedih kerana takutkan azab Allah.
4. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa sibuk dengan menunaikan kewajipan terhadap Allah sebaliknya sedikit pun dia tidak sibuk meguruskan rezekinya yang telah dijamin oleh Allah.
5. Sungguhpun sedikit rezeki yang dia dapat di dunia ini namun ia tetap melihatnya banyak, tetapi walaupun banyak amalan untuk akhirat yang telah dikerjakannya namun ia tetap merasa sedikit.
6. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa menjaga lidah dan ucapannya, sering bertafakur dan selalu berada di dalam keadaan sedih dan menyesal.
1. Bagi hamba-hamba yang bertaubat itu bila dia merasakan di dalam dirinya masih ada dosa-dosa yang masih belum terhakis.
2. Hatinya lebih tenteram dan suka mendekati orang-orang yang solih daripada mendekati mereka-mereka yang fasik.
3. Bila dia merasakan di dalam dirinya telah hilang perasaan gembira, sebaliknya sentiasa datang perasaan sedih kerana takutkan azab Allah.
4. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa sibuk dengan menunaikan kewajipan terhadap Allah sebaliknya sedikit pun dia tidak sibuk meguruskan rezekinya yang telah dijamin oleh Allah.
5. Sungguhpun sedikit rezeki yang dia dapat di dunia ini namun ia tetap melihatnya banyak, tetapi walaupun banyak amalan untuk akhirat yang telah dikerjakannya namun ia tetap merasa sedikit.
6. Bila dia melihat pada dirinya yang sentiasa menjaga lidah dan ucapannya, sering bertafakur dan selalu berada di dalam keadaan sedih dan menyesal.
Langgan:
Catatan (Atom)
Persahabatan Yg Sejati Akan Membawa Kpd Kerinduan Yg Abadi, Org Yg Rugi Ialah Org yG Tidak Memperolehi Sahabat & Yg Paling Rugi Ialah Dtinggalkan Sahabat. Sesungguhnya Persahabatan Itu Lebih Unggul Drpd Percintaan, Tanpa Persahabatan Percintaan Akan Berakhir, Tetapi Tanpa Percintaan Sahabat Blh Kekal.
Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....

Oleh Itu Hargailah Persahabatan Yg Terjalin, Kerana Sahabat Mewakili Sesuatu Kekuatan. Sahabat Yg Paling Baik Adalah "DIRI" Kita Sendiri Yg Tahu Menilai Setiap Apa Yg Kita Lakukan. Hadiah Yg Paling Berharga Dlm Erti Kata Sahabat Yg Sebenar.
Bergaullah Dngn Manusia Sebaiknya Sehingga Kalau Kamu Mati Mereka Tanggisi Dan Kalau Hidup Mereka Selalu Merindu.......
Yg Indah Itu Pertemuan..... Yg Manis Itu Kemesraan..... Yg Pahit Itu Perpisahan.... Yg Tinggal Hanya Kenangan.....